Guru SMP di Pati Menggarap 100 Episode Film Pendek dari Desa

Ilustrasi kamera di atas tripod menghadap rumah kayu di kampung pada sore hari

Ilustrasi produksi film pendek di kampung. Guru dan warga desa menggarap ratusan episode untuk kanal YouTube sendiri. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Suatu sore, seorang guru sekolah menengah pertama di Desa Sumbersoko, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, berpapasan dengan segerombolan anak yang sedang bermain di pinggir jalan dekat rumahnya. Ia geli melihat tingkah mereka dan teringat masa kecilnya sendiri, lalu mulai merekam. Hasil rekaman itu ia potong supaya lelucon spontan dan celetukan anak-anak itu menonjol, kemudian diunggah ke kanal video miliknya. Kegiatan sore itu kemudian menjadi rutinitas harian, dan anak-anak tadi dikenal penonton sebagai Dimas Squad, mengikuti nama bocah paling banyak bicara di antara mereka.

Guru itu bernama Hajar Pamuji. Kanal yang ia buat pada 2017 kemudian melahirkan Film Pendek Hajar Pamuji, serial yang tayang lebih dari dua tahun, dari 2018 sampai 2020, sepanjang seratus episode, dengan tagline yang tidak berusaha menyamar: film pendek dari desa. Serial itu sampai kini masih menjadi tayangan berseri terpanjang di kanalnya.

Praktik produksi dan jaringan komunitas di balik serial itu ditelusuri Ratna Erika M. Suwarno, pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran yang juga kandidat doktor di Asia Institute, University of Melbourne, lewat artikel Interconnectedness and solidarity networking; A case of new media commoning in Indonesian regional YouTube series, yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 27 No. 1 pada 2026. Kerangka yang ia pakai adalah media commoning, yakni kebiasaan satu lingkaran orang saling meminjamkan tenaga, alat, tempat, dan penonton secara bergantian, sehingga tidak ada satu pihak pun yang memagari sumber daya itu untuk dirinya sendiri.

Dari Video Rumahan ke Seratus Episode

Kanal itu, menurut penelusuran Ratna Erika, tidak dimulai dari rencana besar. Isi awalnya berupa video rumahan pendek. Beberapa di antaranya tersebar luas di luar dugaan dan mendatangkan penonton dalam jumlah lumayan, sehingga Hajar memutuskan membuat lebih banyak lagi. Ketika jumlah pelanggan kanalnya menembus 50 ribu, ia menepati janji yang pernah ia ucapkan sendiri, bahwa jika sudah mencapai 50 ribu pelanggan, ia akan muncul di kanalnya sendiri. Video itu ia isi dengan cerita pengalamannya bersiaran. Ia juga membuka jalur lain lewat akun media sosial pribadinya, termasuk siaran langsung berjadwal, karena keterbatasan waktu dan peralatan membuatnya tidak sanggup menaikkan frekuensi unggahan.

Isi kanal itu sempat berubah arah pada pertengahan 2017, ketika Dimas menarik perhatian rumah produksi sinetron dan ikut bermain dalam sejumlah judul yang tayang di televisi nasional. Hajar pindah peran menjadi manajer bocah itu dan mendampinginya selama masa syuting di Jakarta, sementara kanalnya berisi lebih banyak vlog. Penonton mengikuti perjalanan itu seperti mengikuti kisah keberuntungan yang menimpa tetangga sendiri.

Episode pertama serial pendeknya baru tayang pada 5 Juni 2018, berjudul The story of card reader, berdurasi tujuh menit. Dalam kredit episode itu Hajar tercatat sebagai produser, sutradara, juru kamera, penggagas cerita, penulis naskah, sekaligus penyunting. Direkam dengan satu kamera dan sebagian besar dipegang tangan, ceritanya cuma soal Dimas yang tidak bisa melafalkan istilah card reader lalu berkeliling desa untuk meminjamkannya bagi Nike, tetangga Hajar yang berperan sebagai kakaknya. Dialognya berbahasa Jawa dan bertumpu pada permainan kata. Di deskripsi episode itu Hajar menulis janji berikutnya. “Kalau komentar positifnya lebih dari 1.000, berarti filmku diterima dan aku harus membuat satu lagi”, tulisnya, seperti dikutip dalam artikel tersebut. Komentar itu tembus seribu, dan serialnya jalan terus.

Bahasa Jawa, Pos Ronda, dan Nama Asli Pemain

Ratna Erika menemukan tiga hal yang dijaga konsisten dan justru menjadi penanda identitas kanal itu. Pertama, bahasa Jawa. Naskah, daftar adegan, dialog, sampai percakapan di luar kamera memakai bahasa Jawa, sebuah keputusan yang awalnya diambil supaya para pemain lebih mudah membawakan kalimatnya. Bahasa itu dituturkan lebih dari 68 juta orang, jadi jangkauannya tidak kecil, tetapi peneliti mencatat risikonya juga nyata: penonton di luar penutur Jawa bisa tertinggal, dan takarir bahasa Indonesia yang disematkan pada sebagian video tidak selalu sanggup memindahkan konteks dan rujukan budayanya. Persoalan bahasa dan literasi digital semacam ini juga jadi bahan pelatihan di banyak ruang pendidikan, termasuk ketika para guru dilatih menyesuaikan cara mengajar dengan kebiasaan baru muridnya.

Kedua, latar desa. Rumah tetangga, halaman depan, jalan kampung, gubuk, dan pos ronda muncul berulang-ulang sampai penonton hafal sudut-sudutnya. Pilihan itu awalnya diambil karena murah dan mudah, tetapi lama-lama menjadi ciri. Dua hari sebelum episode terakhir tayang, Hajar mengunggah video yang mengajak penonton berkeliling lokasi syuting, memperlihatkan bahwa tempat-tempat yang selama ini tampak berbeda di layar sebenarnya hanya sepetak kawasan itu-itu saja.

Ketiga, pemain berkelompok. Sepanjang seratus episode, serial itu memakai banyak wajah, dari tetangga Hajar sampai pegiat kanal video dan penampil dari daerah sekitar. Hajar menulis naskah memakai nama asli para pemainnya lebih dulu, baru membentuk karakter mengikuti kepribadian mereka. Dari situ lahir sosok Iqbal, yang di tengah serial melambung sebagai pemuda patah hati dan kemudian disebut Hajar sendiri sebagai ikon patah hati serialnya. Kisah cinta segitiga antara Iqbal, Nike, dan Wendy menjadi mesin cerita yang bertahan sampai episode terakhir, ketika Nike memilih menikah dengan orang lain. Alih-alih menutup semuanya, Hajar segera meluncurkan serial berikutnya, Calon lurah, yang memakai tiga pemain sama dengan nama dan watak berbeda.

Naskah yang Dijaga Karena Penontonnya Anak-anak

Yang membuat serial ini berbeda dari kebanyakan hiburan daring, menurut kajian tersebut, adalah cara penulisnya memperlakukan tanggung jawab. Dalam episode 60, tokoh Iqbal menjelaskan alasannya berhenti bekerja: gajinya besar, tetapi perusahaannya menerima uang suap, dan ia merasa harus mempertanggungjawabkan itu kepada Tuhan. Tokoh Dedy menimpali bahwa lebih baik bergaji kecil asal benar, dan jika semua orang bersikap begitu, Indonesia akan makmur. Kepada peneliti, Hajar menyebut serialnya memang harus memberi contoh yang baik karena kanal itu melekat pada profesinya sebagai guru dan sebagian besar penontonnya anak muda yang menganggap Dimas dan kawan-kawannya sebaya mereka.

Sikap itu diuji ketika Albert Kiss bergabung sebagai Lek Jon, digambarkan sebagai duda genit di kampung yang gemar berjudi dan beberapa kali menolak membayar utang judinya. Kolom komentar memprotes: banyak anak menonton serial itu. Hajar menanggapi dengan menghapus asosiasi judi dari tokoh tersebut dan memastikan tidak ada pemain yang merokok atau berkata kasar di layar. Kekhawatiran yang sama, soal batas tontonan anak di layar gawai, sudah lama menjadi keresahan banyak orang tua dan kini masuk pula ke ruang kuliah lewat pembahasan etika digital pada anak.

Kopdar YouTuber Pati dan Kebiasaan Saling Sowan

Bagian kedua kajian ini menyorot hal yang jarang tercatat dalam studi platform digital: jaringan luar layar. Serial itu bukan hanya beredar di kanal Hajar. Albert Kiss dan Dedy, dua pemain yang juga punya kanal sendiri, mengunggah video di balik layar versi mereka. Video Dedy soal episode kedelapan bahkan memperlihatkan sisi yang tidak pernah tampil di kanal utama: kamera dipasang di belakang kamera utama sehingga penonton melihat Hajar bekerja, mengatur adegan, dan menunggu dengan sabar ketika pengambilan gambar harus diulang berkali-kali. Ratna Erika mencatat pertukaran semacam ini menguntungkan semua kanal yang terlibat sekaligus tetap bersifat transaksional.

Kolaborasi lain datang dari bintang tamu setempat. Joko Ribowo, yang saat itu penjaga gawang PSIS Semarang, muncul pada episode 31 dan berinteraksi dengan Dimas dalam dua adegan; kemudian ia diundang lagi untuk tiga episode dan duduk bersama Hajar dalam video wawancara di balik layar. Di lingkaran sesama pembuat konten, kebiasaannya diringkas dengan istilah yang dipakai para pelakunya sendiri: saling sowan sambil gantian fitur, yakni saling mengunjungi dan bergantian menampilkan satu sama lain, kadang sebagai tamu di depan kamera, kadang sebagai kru di belakangnya.

Jaringan itu punya wujud tatap muka lewat Komunitas YouTuber Pati dan pertemuan berkalanya. Salah satu pendiri komunitas itu, Albert Kiss, menyebut inti acaranya sederhana, yaitu “supaya para YouTuber Pati saling terhubung dan saling mengenal”. Pada 2019, seorang videografer lepas di Pati bernama Yovie Young mengunggah video sepuluh menit berjudul YouTube Rewind Pati 2019, meniru dan melokalkan tren global, dengan melibatkan lebih dari 27 kolaborator: produser video, pemain serial, vlogger, dan pembuat konten lain. Semangat berkumpul semacam ini bukan monopoli dunia daring; komunitas warga di banyak kota juga memakai pola serupa, seperti ketika komunitas lokal bergerak bersama untuk urusan kampung halaman mereka.

Kebersamaan yang Bekerja di Atas Lapak Milik Orang Lain

Ratna Erika tidak menyajikan temuannya sebagai kisah kemenangan. Ia berulang kali menegaskan hubungan yang mendua antara sumber daya bersama dan modal, sebab semua kebersamaan itu berlangsung di atas platform komersial global yang tidak dimiliki para pelakunya. “Strategi commoning media di daerah ini menganyam jaringan produksi dan distribusi yang saling terhubung dalam pembentukan ekosistem media baru Indonesia”, tulisnya. Kesadaran atas keterbatasan itulah, menurut dia, yang justru memberi kanal kecil semacam ini keleluasaan: episode dilepas tanpa jadwal ketat, tokoh diperkenalkan tanpa alur pasti, dan pengambilan gambar mengikuti kesediaan pemain, karena mereka memang tidak sanggup membiayai masa syuting yang panjang.

Kajian ini bertumpu pada satu kanal, satu serial, dan satu wawancara semiterstruktur dengan Hajar Pamuji — saat itu berusia 39 tahun — yang dilakukan di Sukolilo, Pati, pada 25 Januari 2024, ditambah analisis video di kanal tersebut dan kanal para kolaboratornya. Penulisnya tidak menyediakan bagian khusus yang memaparkan keterbatasan penelitian, meski ia mengakui sendiri risiko bahasa Jawa yang mempersempit penonton dan posisi tawar yang timpang di hadapan algoritma. Sebagai gambaran besarnya, ia mengutip laporan digital 2025 yang menyebut iklan di platform video itu berpotensi menjangkau 143 juta orang di Indonesia, dengan rata-rata waktu menonton sekitar 63 menit per orang per hari.

Di bagian penutup, Ratna Erika menyebut apa yang ia temukan di desa itu sebagai “suasana kerja produksi film YouTube yang menyenangkan, produktif, dan penuh rasa hormat”, dan membandingkannya dengan kondisi pembuatan film profesional di kota besar yang serba cepat serta kerap eksploitatif. Ia menutup kajiannya dengan catatan bahwa Hajar dan kanalnya membagikan sumber daya dan pengetahuan kreatif mereka kepada kolaborator dan komunitasnya tanpa syarat berat. Riset lanjutannya sendiri masih berjalan: disertasi doktoralnya di University of Melbourne menelaah tren serial web Indonesia di platform video sepanjang dekade 2010-an, dan tulisannya yang terbaru membahas film-film YouTube dari Sumba Barat. Serial yang membuat nama Hajar dikenal itu sendiri sudah tamat sejak 2020, sementara para pemainnya berpindah ke cerita baru di kanal yang sama, kadang dengan nuansa musik dan warna lokal yang serupa dengan yang ditempuh para pemusik bernuansa Jawa di jalur yang berbeda.

Baca Juga

Klub Menulis Lagu di Pamulang yang Meniru Cara Kerja Arisan
Klub Menulis Lagu di Pamulang yang Meniru Cara Kerja Arisan
Ilustrasi dua tangan menyodorkan map berisi lembar dokumen di atas meja kayu
Tukar CV Sebelum Menikah, Ta'aruf ala Web Series Islami di YouTube
Ilustrasi detail relief batu candi memperlihatkan sosok bermahkota berkepala banyak
Rahwana Berkepala Tujuh di Prambanan, Manusia Biasa di Panataran
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Ilustrasi tangan memegang ponsel yang menampilkan gelembung percakapan di ruang gelap
5.976 Komentar di Bawah Siaran Fatwa PUBG dan Apa Isinya
Ilustrasi struktur bata merah candi tua di tepi kanal dikelilingi hutan rawa
Serbuk Sari Obat Malaria di Percandian Muarajambi Abad ke-7