Cekricek.id — Aktivitas fisik yang dilakukan pada waktu luang berkaitan dengan risiko demensia 24 persen lebih rendah, sedangkan aktivitas fisik yang dilakukan sebagai bagian dari pekerjaan berkaitan dengan risiko 20 persen lebih tinggi. Temuan itu berasal dari tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 4,2 juta peserta yang terbit di jurnal The Lancet Public Health pada Selasa, 18 Agustus 2026, dikutip dari today.usc.edu.
Makalah berjudul Domain-specific physical activity and the risk of dementia: a systematic review and meta-analysis with 4 million participants itu digarap tim yang dipimpin David Raichlen, Guru Besar Ilmu Biologi dan Antropologi pada USC Dornsife College of Letters, Arts and Sciences, University of Southern California, bersama penulis pertama Natan Feter, peneliti pascadoktoral di Evolutionary Biology of Physical Activity Lab kampus yang sama.
Baca juga: Flick Tunjuk Raphinha Kapten Sementara Barcelona
Menggabungkan 74 Studi dari 30 Negara
Tim menghimpun 74 studi kohort dan studi kasus-kontrol yang berasal dari 30 negara, mencakup 4,2 juta peserta berusia 45 hingga 93 tahun, dengan masa pemantauan median sepuluh tahun. Diagnosis yang ditelusuri meliputi demensia segala penyebab, penyakit Alzheimer, dan demensia vaskular.
Yang membedakan pengerjaan ini dari kajian sebelumnya adalah cara peneliti memperlakukan istilah aktivitas fisik. Selama ini olahraga, kerja kasar, pekerjaan rumah tangga, dan perjalanan menuju tempat kerja kerap dijumlahkan menjadi satu angka tunggal. Tim USC justru memisahkannya menurut ranah, karena menurut mereka keempat jenis gerak itu berlangsung dalam keadaan yang sangat berbeda dan boleh jadi memberi pengaruh berlainan pada kesehatan jangka panjang.
Pemisahan itu memunculkan arah hasil yang saling berlawanan. Peserta dengan aktivitas waktu luang paling tinggi tercatat memiliki risiko demensia 24 persen lebih rendah dibanding peserta yang paling sedikit bergerak di luar jam kerja. Sebaliknya, peserta dengan beban aktivitas fisik pekerjaan paling berat justru mencatat risiko 20 persen lebih tinggi.
“Temuan ini menantang asumsi lama bahwa ‘setiap gerakan itu berarti’ bagi kesehatan otak,” kata Natan Feter, penulis pertama studi tersebut.
Baca juga: Vicario Resmi ke Juventus, Dipinjam dari Tottenham
Beban Kerja Datang Bersama Keadaan Lain
Menurut tim peneliti, olahraga waktu luang umumnya dipilih sendiri oleh pelakunya, dinikmati, serta bisa diatur intensitas dan durasinya. Aktivitas fisik di tempat kerja berjalan sebaliknya: gerakan berulang, angkat beban berat, dan tempo yang ditentukan pihak lain. Mereka menduga kaitan yang merugikan itu tidak semata bersumber dari geraknya, melainkan dari keadaan sosial dan lingkungan yang menyertai pekerjaan berat, termasuk tekanan psikososial dan paparan pencemaran udara.
“Dengan kata lain, ketika menyangkut upaya melindungi otak, konteks aktivitas fisik boleh jadi sama pentingnya dengan gerakan itu sendiri,” kata David Raichlen, peneliti utama studi itu.
Bukti Masih Tipis untuk Dua Ranah
Baca juga: Rodri Resmi ke Barcelona, Man City Lepas Gelandang Terbaik
Dua ranah lain belum bisa disimpulkan dengan bobot yang sama. Aktivitas rumah tangga terlihat berkaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah, namun bukti itu hanya bersandar pada satu studi. Perjalanan menuju tempat kerja dengan berjalan kaki atau bersepeda menunjukkan kenaikan risiko yang tergolong kecil, dan hanya dua studi yang menyediakan datanya.
Seluruh studi yang dihimpun bersifat pengamatan, bukan percobaan acak. Karena itu hasilnya menunjukkan keterkaitan antara pola aktivitas dan angka diagnosis demensia, bukan bukti bahwa satu jenis gerak menyebabkan atau mencegah penyakit tersebut. Peserta yang bekerja secara fisik berat juga berbeda dari peserta lain dalam banyak hal di luar aktivitas fisik, mulai dari pendapatan, lama sekolah, hingga tempat tinggal.
Selain peneliti USC, makalah tersebut melibatkan penulis dari Universidade Federal de Pelotas dan Universidade Federal do Rio Grande do Sul di Brasil, University of Helsinki di Finlandia, University of Arizona, serta University of Illinois Urbana-Champaign. Pendanaannya berasal dari sejumlah hibah National Institutes of Health, dana negara bagian Arizona, serta lembaga pendanaan riset Brasil FAPERGS dan CNPq bersama Kementerian Kesehatan Brasil.
















