UGM Kirim Tim Medis dan 40 Kg Obat ke Gempa NTT

Pelepasan tim tanggap bencana FK-KMK UGM untuk misi gempa Nusa Tenggara Timur

Pelepasan tim tanggap bencana FK-KMK UGM untuk misi gempa Nusa Tenggara Timur di Yogyakarta, Rabu, 19 Agustus 2026. [Foto: Humas UGM]

Cekricek.id — Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada memberangkatkan enam personel tim tanggap bencana ke Nusa Tenggara Timur, Rabu, 19 Agustus 2026. Bersama tim itu dikirim sekitar 40 kilogram obat-obatan titipan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk masyarakat terdampak gempa.

Pelepasan berlangsung di Kantor Pusat Tata Usaha FK-KMK UGM dan dipimpin Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH. Hadir pula Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., serta Ketua Kelompok Kerja Bencana FK-KMK UGM, Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep., menurut keterangan yang dimuat ugm.ac.id, Rabu, 19 Agustus 2026.

Baca juga: UNAIR Lepas Tim Medis Tanggap Darurat Gempa Menuju NTT

Pengiriman tim merupakan bagian dari respons FK-KMK UGM bersama Academic Health System UGM dan jejaring kesehatan. Tim menjalankan misi pada 19 hingga 30 Agustus 2026 dengan fokus pada asesmen kebutuhan dan penguatan pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah NTT.

Enam Personel untuk Tiga Daerah

Sutono menjelaskan pengiriman dilakukan sebagai respons cepat begitu informasi kondisi bencana diterima, lewat koordinasi lintas jejaring agar kebutuhan lapangan bisa diidentifikasi secara tepat.

“Ketika ada info bencana di sana (NTT), sebagai respons tercepat, kami tim tanggap respons bencana bekerja sama dengan Academic Health System UGM (AHS UGM) dan jejaring dengan Dinas Kesehatan, berkoordinasi dan memutuskan mengirimkan tim bencana ke wilayah-wilayah yang memang saat ini dibutuhkan,” kata Sutono.

Tiga personel berasal dari tim manajemen bencana FK-KMK UGM, yaitu Happy R. Pangaribuan, MPH, Vina Yulia Anhar, MPH, dan Gde Yulian Yogadhita, Apt., M.Epid. Tiga lainnya adalah tim medis Rumah Sakit Akademik UGM: dr. Rizki Fitria Febrianti selaku dokter umum, serta dua perawat, Andhika Robbi Nugraha, S.Kep., Ns. dan Agus Damar Septiaji, S.Tr.Kep., Ners.

“Kita melepas keberangkatan enam personel terbaik dari FK-KMK dan RSA UGM yang tergabung dalam tim manajemen bencana dan tim medis. Misi kali ini kita merespons permintaan dari pusat krisis untuk memperkuat tata kelola penanganan bencana di tiga daerah di NTT yang ditugaskan mulai 19–30 Agustus,” ujar Yodi.

Menurut Yodi, keberangkatan tim tidak semata untuk pelayanan medis, tetapi juga memetakan kebutuhan warga terdampak. “Timnya akan melakukan asesmen di lapangan dan dari situ kita akan bisa mengidentifikasi kebutuhan realnya apa. Karena ini kan butuh informasi dari lapangan. Dan juga butuh koordinasi karena banyak pihak yang terlibat. Supaya lebih tepat sasaran, maka kita menyiapkan tim asesmen ini,” katanya.

40 Kilogram dari 240 Kilogram Obat

Baca juga: Hanya Sembilan Riset Butir Pati di Indonesia Sepanjang 2011 hingga 2024

Selain personel, tim membawa obat-obatan yang diserahkan secara simbolis oleh Anung kepada FK-KMK UGM. Barang yang dikirim antara lain parasetamol tablet, parasetamol sirup, multivitamin, ibuprofen, antasida, cetirizine, cairan infus, masker, dan sarung tangan medis.

“Di sana ada parasetamol tablet, parasetamol sirup, kemudian multivitamin, kemudian ada ibuprofen, antasida, cetirizine, bahkan infus juga kami siapkan. Selain itu, masker dan handscoon juga kami sertakan,” kata Anung.

Pemda DIY menyiapkan sekitar 240 kilogram obat-obatan. Pada tahap awal, sekitar 40 kilogram diserahkan kepada tim UGM karena keterbatasan waktu dan kapasitas angkutan.

“Jadi memang ada sekitar 240 kg yang kami siapkan. Dalam tahap pertama ini, kami kirimkan mungkin 40 kg dulu kepada FK-KMK UGM karena keterbatasan waktu dan persiapan. Tapi kami ucapkan terima kasih, di sela-sela keterbatasan angkutan dan bagasi pun FK-KMK UGM masih bisa menyampaikan bantuan obat-obatan tersebut agar bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat yang terdampak,” ujar Anung.

Yodi menyebut obat-obatan itu sebagai titipan yang harus dipastikan sampai ke penerima yang tepat. “Kita juga mengemban amanah logistik yang sangat penting. Sudah ada penyerahan simbolis tadi untuk pengobatan. Ini yang harus saya pastikan nanti sampai dan didistribusikan dengan tepat pada masyarakat yang membutuhkan,” ucapnya.

Penilaian Cepat di Kabupaten Ngada

Baca juga: Santri Pidie Jaya Diajari USK Bikin Sabun dari Garam

Sasaran awal tim medis adalah Kabupaten Ngada. Di sana tim menjalankan penilaian cepat kondisi kesehatan atau rapid health assessment sebelum menentukan bentuk dukungan lanjutan.

“Jadi kami akan jadi tim pertama yang berangkat ke NTT. Nanti sasaran kami di Kabupaten Ngada. Kemudian di sana kami akan melakukan rapid health assessment karena kami tim awal yang berangkat. Jadi kami mau asesmen dulu kebutuhan-kebutuhan apa yang akan diperlukan di sana, apakah lebih ke logistik atau ke tim medis,” kata Rizki.

Ia menyoroti risiko kesehatan pascagempa, terutama kasus trauma dan luka, ditambah laporan fasilitas kesehatan yang ikut terdampak. “Kalau di sana kan kasusnya saat ini gempa. Jadi kalau gempa itu banyaknya kasus trauma, luka. Perawatan luka di sana juga dibutuhkan. Kemudian karena beberapa rumah sakit juga diinfokan collapse, jadi nanti kita tetap ada rapid health assessment awal. Jadi di sana nanti kita asesmen ulang,” ungkapnya.

Tim medis juga akan menjalankan fungsi Emergency Medical Team untuk membantu pelayanan kesehatan warga terdampak. Hasil asesmen dipakai FK-KMK UGM sebagai dasar menentukan dukungan berikutnya bersama pemerintah daerah dan jejaring kesehatan setempat.

Dalam pelepasan itu Yodi mengingatkan personel agar menjaga kelenturan gerak dan keselamatan diri selama misi. “Fleksibilitas dan kesiapsiagaan dalam pergerakan tim. Kedua, utamakan keselamatan, safety first. Pastikan keselamatan diri Anda dan tim terjaga dengan baik dalam setiap pergerakan,” pesannya.

Baca Juga

Kepala BNPB Suharyanto menyerahkan bantuan kepada anak-anak penyintas gempa di Ende
Rumah Rusak Gempa NTT Dibantu Rp15 Juta dan Rp30 Juta
Dosen SBM ITB Dzikri Firmansyah Hakam
Ekonom ITB: Ekonomi RI Ditopang Permintaan Domestik
Tim riset mahasiswa Universitas Negeri Padang mengukur vegetasi hutan nagari di Sijunjung
Riset Mahasiswa UNP Ukur Karbon Hutan Nagari Sijunjung
Peneliti meninjau lahan sawah dalam riset ketahanan iklim pertanian Universitas Andalas
Riset Unand: Adaptasi Iklim Petani Sumbar dan Sulsel Beda
Ilustrasi deretan tabung sampel sedimen dan mikroskop di meja laboratorium
Hanya Sembilan Riset Butir Pati di Indonesia Sepanjang 2011 hingga 2024
Santri di Gampong Meunasah Lancang, Pidie Jaya, menunjukkan sabun cuci piring berbahan garam hasil pelatihan USK
Santri Pidie Jaya Diajari USK Bikin Sabun dari Garam