Cekricek.id — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menguji alat pendeteksi gempa pada sebuah prototipe bangunan tahan gempa di Ponorogo, Jawa Timur, Kamis (20/08/2026). Uji coba itu digelar setelah gempa bumi di Nusa Tenggara Timur kembali menyoroti pentingnya penguatan sistem mitigasi bencana di Indonesia.
Menurut keterangan tertulis Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jumat (21/08/2026), inovasi tersebut lahir dari kolaborasi Departemen Teknik Elektro Otomasi dan Departemen Teknik Sipil ITS bersama mitra industri Rabasa Beton, Ponorogo. Dua produk diuji sekaligus, yakni sensor pendeteksi getaran dan struktur rumah yang dirancang meredam guncangan.
Wakil Kepala Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS Dr Ir Berlian Al Kindhi SST MT menyebut pengembangan itu sebagai kontribusi nyata kampusnya menjawab tantangan mitigasi bencana di Indonesia, wilayah dengan tingkat kerawanan gempa yang tergolong tinggi.
Sensor Mikrokontroler dengan Notifikasi Otomatis
Berlian, yang juga dosen Departemen Teknik Elektro Otomasi ITS, menjelaskan perangkat itu dibangun berbasis mikrokontroler dan mampu mendeteksi getaran tanah secara langsung. Begitu sensor menangkap getaran melampaui ambang tertentu, sistem otomatis mengirim notifikasi sekaligus mengaktifkan alarm peringatan.
Baca juga UGM Kirim Tim Medis dan 40 Kg Obat ke Gempa NTT
Data yang tertangkap tidak berhenti pada bunyi alarm. Informasi geolokasi dan data historis getaran ditampilkan pada situs web pemantauan insamo.id, sehingga peristiwa dapat ditelusuri kembali setelah kejadian berlalu.
Sensor yang terpasang dirancang menjadi bagian dari ekosistem mitigasi kebencanaan berbasis digital yang terintegrasi dengan aplikasi pemantauan. Data yang masuk saat bencana dapat dipakai memetakan potensi bencana di sekitar lokasi. Selain gempa, aplikasi itu juga bisa memantau ketinggian air sebagai mitigasi banjir dan tanah longsor.
Baca juga UNAIR Lepas Tim Medis Tanggap Darurat Gempa Menuju NTT
Keunggulan lain terletak pada biaya produksi yang lebih rendah dibanding sensor sejenis yang sudah ada di pasaran. Dengan begitu, alat tersebut memungkinkan dipasang pada rumah-rumah masyarakat agar peringatan gempa langsung diterima penghuninya.
“Sensor ini berbiaya rendah sehingga dapat dikembangkan dan diaplikasikan di berbagai rumah penduduk,” kata Berlian.
Prototipe Dua Lantai di Atas Base Isolator
Di sisi struktur, dosen Departemen Teknik Sipil ITS Ahmad Basshofi Habieb ST MT PhD bersama tim mengembangkan prototipe bangunan tahan gempa. Ia menyoroti bahwa korban dan kerusakan akibat gempa justru banyak datang dari lingkungan hunian beserta penduduknya.
Baca juga Pakar ITB: Gempa Flores M7,7 Mirip Gempa Tsunami 1992
“Prototipe ini diharapkan menjadi solusi untuk membangun rumah dan pemukiman yang lebih aman apabila saat terjadi gempa,” ujar Basshofi.
Prototipe dibangun dua lantai, menyesuaikan bentuk bangunan yang kerap dijadikan hunian masyarakat. Struktur itu berdiri di atas base isolator yang bekerja dengan memisahkan gerakan tanah dari struktur bangunan, sehingga bangunan bergerak secara terkontrol ketika menerima guncangan.
Rancangan tersebut juga memakai dinding hebel yang lebih tebal serta struktur atas tanpa rangka beton bertulang demi efisiensi biaya. Kombinasi itu diarahkan agar konsep rumah tahan gempa tetap terjangkau bagi masyarakat kebanyakan.
Uji coba di Ponorogo dilakukan dengan mendemonstrasikan guncangan gempa pada prototipe bangunan tersebut. Alat pendeteksi gempa otomatis dipasang langsung pada struktur prototipe oleh Berlian Al Kindhi, sementara Basshofi menjelaskan rancangan struktur bangunan hasil kerja tim peneliti ITS.
Didorong Segera Diterapkan di Wilayah Rawan
Basshofi berharap penelitian tersebut dikembangkan lebih lanjut bersama lembaga-lembaga lain. Menurutnya, kedua inovasi itu harus diimplementasikan ke masyarakat luas, terutama wilayah Nusa Tenggara Timur yang baru saja terdampak gempa bumi.
“Saya berharap hasil penelitian ini dapat segera diimplementasikan agar dampak akibat gempa yang kerap terjadi di Indonesia dapat diminimalkan,” tutur Basshofi.
ITS menempatkan penguatan sistem mitigasi bencana sebagai langkah strategis membangun masyarakat yang tangguh sekaligus lingkungan hunian yang aman. Pengembangan prototipe bangunan tahan gempa serta sensor pendeteksi gempa itu dinilai mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya poin kesembilan tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, serta poin kesebelas tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.
















