Cekricek.id — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperluas jangkauan penanganan darurat gempa magnitudo (M) 7,7 Flores hingga ke wilayah kepulauan terluar. Pada Minggu (23/8), bantuan obat-obatan dan perangkat internet berbasis satelit diterbangkan ke Desa Samporong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang berada di Pulau Sukun.
Pengiriman itu merupakan yang kedua kalinya dilakukan Posko Pendamping Nasional (Pospenas) BNPB di Maumere ke pulau tersebut. Bantuan diangkut menggunakan helikopter Kementerian Perhubungan dan mendarat di lapangan Desa Samporong. Rombongan dipimpin langsung Direktur Penanganan Darurat Wilayah III BNPB, Nelwan Harahap, dan disambut warga yang telah menunggu di lokasi pendaratan.
Sekitar 300 kepala keluarga terdampak gempa berada di wilayah tersebut dan menjadi sasaran pelayanan penanganan darurat. Kondisi geografis serta keterbatasan transportasi laut membuat pulau ini termasuk kawasan yang paling sulit dijangkau bantuan sejak gempa mengguncang Flores pada Sabtu (15/8).
“Hari ini kedua kalinya kami datang untuk memastikan masyarakat tertangani dengan baik dan tidak berkekurangan,” jelas Nelwan, menurut keterangan tertulis Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Minggu (23/08/2026).
Baca juga Kepala BNPB Tinjau Pos Logistik Gempa Flores di Maumere
Starlink Jawab Keterbatasan Sinyal
Salah satu dukungan yang dibawa tim adalah perangkat internet berbasis satelit Starlink. Peralatan tersebut dinilai penting bagi masyarakat Pulau Sukun karena jaringan komunikasi di wilayah itu sangat terbatas. Sebelum ada dukungan jaringan satelit, warga harus naik ke dataran yang lebih tinggi hanya untuk memperoleh sinyal dan berkomunikasi dengan keluarga maupun pihak di luar pulau.
Dengan tersedianya akses internet satelit, komunikasi di wilayah terdampak diharapkan berlangsung lebih mudah dan stabil. Dukungan ini juga dipakai untuk memperkuat koordinasi antara masyarakat, pemerintah desa, tenaga kesehatan, serta unsur penanganan darurat dalam menyampaikan informasi maupun mengidentifikasi kebutuhan di lapangan.
Paket Medis dan Titipan Dinas Kesehatan
Selain dukungan komunikasi, tim BNPB membawa paket medis dan obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan warga. Bantuan tersebut menopang pelayanan tenaga kesehatan yang sudah lebih dulu berada di lokasi, sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan dan obat yang dibutuhkan selama masa tanggap darurat berlangsung.
“Kami juga membawa titipan obat-obatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka untuk disampaikan di daerah terdampak ini,” kata Nelwan.
Baca juga Gempa Tokyo M5,9 Melukai 37 Orang di Lima Prefektur
Dukungan untuk masyarakat Pulau Sukun sebenarnya sudah berjalan bertahap. BNPB bersama pemerintah daerah mendistribusikan bantuan logistik dan peralatan pada Jumat (21/8) menggunakan kapal cepat. Bantuan yang telah disalurkan antara lain beras, paket sembako, minyak goreng, air mineral, minyak kayu putih, selimut, telur, popok bayi, losion antinyamuk, terpal, mi instan, sabun, pasta gigi, tikar, serta suplemen kesehatan dan obat-obatan.
Warga Diminta Tenang dan Tetap Waspada
Pada kesempatan yang sama, BNPB mengimbau masyarakat terdampak tetap tenang namun waspada terhadap potensi gempa susulan. Aktivitas kegempaan susulan disebut cenderung menunjukkan penurunan, sehingga warga tidak perlu diliputi ketakutan berlebihan. Meski begitu, kewaspadaan tetap diperlukan dengan mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
“Memang masih ada gempa susulan tapi bisa kita yakini dan bisa kita pastikan bahwa menurut BMKG gempa susulan ini memiliki kecenderungan lebih kecil dari gempa utama sehingga tidak membahayakan. Masyarakat kami minta tetap tenang namun juga waspada,” tutur Nelwan.
Baca juga Kopi Jawa Barat 10 Ton Diekspor ke Inggris Rp2,64 Miliar
Sekolah Diharapkan Kembali Berjalan
Seiring kondisi yang dinilai semakin terkendali, kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat kembali dilaksanakan secara bertahap dalam waktu dekat. Untuk sementara, pembelajaran dapat dilakukan di lokasi yang dinilai aman seperti tenda darurat atau ruang terbuka di halaman sekolah, termasuk di bawah pepohonan yang tidak berisiko tumbang. Pemerintah daerah bersama pihak sekolah diminta lebih dulu memastikan kondisi bangunan dan lingkungan sekolah sebelum kegiatan dimulai.
“Aktivitas pendidikan kami harapkan dapat tetap berjalan meski dalam kondisi tanggap darurat sehingga nanti anak-anak tidak kehilangan momentum kesempatan untuk belajar,” sebut Nelwan.
Langkah tersebut diharapkan membantu anak-anak kembali memperoleh rutinitas belajar sekaligus memulihkan rasa aman setelah mengalami situasi darurat. BNPB menyatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, TNI, Polri, dan tenaga kesehatan untuk memetakan kebutuhan warga serta memastikan bantuan tepat sasaran, dengan mempertimbangkan kondisi geografis tiap wilayah dan perkembangan kebutuhan di lapangan.
















