Cekricek.id — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meninjau Pos Pendukung Logistik Nasional di Maumere untuk mengurai dinamika yang muncul dalam penyaluran bantuan bagi warga terdampak gempa Flores. Peninjauan itu dilakukan saat operasi tanggap darurat di Nusa Tenggara Timur memasuki fase percepatan distribusi logistik ke kabupaten terdampak.
Menurut keterangan tertulis Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Minggu (23/08/2026), kunjungan tersebut sekaligus menjadi momentum merapikan alur komunikasi antarunsur yang terlibat di lapangan. Suharyanto menilai penanganan bencana sebesar gempa Flores tidak mungkin dikerjakan satu lembaga saja.
“Penanganan bencana merupakan kerja bersama yang membutuhkan komunikasi, koordinasi, dan saling pengertian antarpihak,” kata Suharyanto.
Etika Aparat Jadi Sorotan
Dalam kesempatan itu, Suharyanto mengimbau seluruh aparat yang bertugas di lokasi bencana mengedepankan etika, kesabaran, dan profesionalisme. Imbauan tersebut disampaikan karena tekanan situasi darurat kerap memicu gesekan kecil antarpetugas maupun antara petugas dan warga.
Baca juga Gempa Tokyo M5,9 Melukai 37 Orang di Lima Prefektur
Ia menegaskan perbedaan pandangan yang muncul selama masa tanggap darurat semestinya memperkuat koordinasi, bukan justru menghambat layanan publik. Pihak yang paling dirugikan bila koordinasi tersendat, menurut dia, adalah warga terdampak yang sedang menunggu bantuan.
Pesan itu ditutup dengan ajakan agar seluruh unsur melihat bencana ini sebagai pengujian daya tahan kolektif. “Bencana ini adalah ujian bagi kita semua untuk semakin memperkuat gotong royong,” ujar Suharyanto.
Baca juga Mourinho: Vinicius Jadi Korban Perundungan di Espanyol
Pos Pendukung Logistik Nasional di Maumere menjadi simpul utama pergerakan barang bantuan sebelum diteruskan ke kabupaten dan kecamatan terdampak. Dari titik itulah kebutuhan warga di wilayah kepulauan dipetakan dan diberangkatkan.
Distribusi Bertahap Mengikuti Pendataan
BNPB memastikan bantuan disalurkan secara bertahap dengan mengikuti hasil pendataan lapangan. Skema itu dipakai agar barang tidak menumpuk di satu titik sementara wilayah lain belum tersentuh.
Di Kabupaten Manggarai Timur, catatan BNPB menunjukkan sebanyak 8.144 unit atau paket barang telah diterima. Dari jumlah tersebut, 4.232 unit sudah terdistribusi kepada warga, sedangkan sisanya disimpan sebagai stok penyangga untuk kebutuhan lanjutan.
Baca juga Kemenhub: Transportasi Kalimantan Normal di Tengah Asap
Pola bertahap semacam ini lazim dipakai pada bencana berskala besar dengan medan kepulauan. Cuaca, ketersediaan armada laut, dan kondisi jalan menjadi variabel yang menentukan seberapa cepat bantuan sampai ke titik akhir.
Menjangkau Kelompok Rentan dan Desa Pesisir
Penyaluran bantuan juga diarahkan pada kelompok rentan. Dokumentasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperlihatkan Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati mendampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam penyerahan bantuan spesifik bagi perempuan dan anak terdampak gempa Nusa Tenggara Timur.
Bantuan untuk perempuan dan anak umumnya mencakup kebutuhan dasar yang tidak selalu tercakup dalam paket logistik umum. Kelompok ini menjadi perhatian karena berada pada posisi paling rentan selama warga tinggal di tenda pengungsian.
Di wilayah pesisir, Direktur Penanganan Darurat Wilayah III BNPB Nelwan Harahap menyerahkan bantuan obat-obatan dan perangkat jaringan telekomunikasi di Desa Samporong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Minggu (23/08/2026). Perangkat telekomunikasi dibutuhkan karena jaringan di sejumlah titik terdampak sempat terganggu setelah gempa.
Pemulihan komunikasi menjadi bagian penting dari operasi darurat. Tanpa sinyal, laporan kebutuhan dari desa sulit sampai ke posko, dan penyaluran bantuan berpotensi meleset dari kebutuhan riil warga.
Ujian Koordinasi Pascagempa M 7,7
Gempa berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Flores membuat penanganan darurat harus berjalan serentak di banyak kabupaten. Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah dikerahkan untuk memuat dan mengawal barang bantuan bagi warga terdampak.
Penekanan pada etika aparat yang disampaikan Suharyanto menandai kesadaran bahwa keberhasilan operasi darurat tidak hanya diukur dari jumlah paket yang terkirim. Kualitas interaksi petugas dengan warga ikut menentukan tingkat kepercayaan publik terhadap penanganan bencana.
Dengan stok yang masih tersimpan di gudang penyangga, penyaluran ke kabupaten terdampak dijadwalkan berlanjut mengikuti pemutakhiran data. BNPB menempatkan koordinasi lintas lembaga sebagai kunci agar kecepatan distribusi tidak mengorbankan ketepatan sasaran.
















