Labuan Bajo Normal, Kelimutu dan Wae Rebo Masih Ditutup

Wisatawan di kawasan Taman Nasional Komodo

Wisatawan menyusuri jalur pendakian di kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. [Foto: Kementerian Pariwisata]

Cekricek.id — Aktivitas wisata di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo berangsur normal empat hari setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur. Namun sejumlah destinasi populer lain di Pulau Flores, termasuk Wae Rebo dan Taman Nasional Kelimutu, masih ditutup sementara dan penerbangan ke dua bandara belum pulih.

Kementerian Pariwisata memastikan Pelabuhan Marina Labuan Bajo sudah beroperasi normal dan izin pelayaran menuju Taman Nasional Komodo kembali dibuka, menurut siaran pers yang dimuat kemenpar.go.id, Rabu, 19 Agustus 2026. Gempa itu terjadi pada 15 Agustus 2026 dengan pusat di wilayah Mbay–Nagekeo.

Baca juga: Pakar ITB: Gempa Flores M7,7 Mirip Gempa Tsunami 1992

Kunjungan wisatawan ke kawasan Taman Nasional Komodo tercatat lebih dari 2.000 orang per hari pada 17 Agustus 2026. Aktivitas di Pulau Padar, Loh Liang di Pulau Komodo, Loh Buaya di Pulau Rinca, dan Gili Lawa berjalan seperti biasa. Pulau Kelor dan Kampung Adat Todo di Manggarai tetap ramai, sedangkan Batu Cermin sudah dibuka kembali sejak 16 Agustus 2026.

Angka itu melanjutkan tren yang tercatat sehari sebelumnya. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Labuan Bajo mencatat 308 kapal wisata berangkat dengan 3.651 penumpang pada 16 Agustus 2026, terdiri atas 2.840 wisatawan mancanegara dan 811 wisatawan nusantara, sebagaimana dilaporkan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dalam keterangan tertulisnya, Senin, 17 Agustus 2026.

Destinasi yang Masih Ditutup

Penutupan sementara masih berlaku di Wae Rebo dan Ruteng Pu’u di Kabupaten Manggarai. Taman Nasional Kelimutu di Ende ditutup akibat longsoran dinding kawah, sementara Taman Wisata Alam Laut Gugus Pulau Teluk Maumere di Sikka juga belum dibuka. Sejumlah kawasan wisata di Kabupaten Ngada dan Nagekeo masih terkendala jaringan komunikasi dan pasokan listrik.

Plt Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung menyatakan penutupan itu adalah keputusan pengamanan, bukan penghentian kegiatan wisata. “Tidak ada destinasi yang dibuka sebelum dinyatakan aman. Penutupan sementara adalah langkah mitigasi, bukan penghentian aktivitas pariwisata,” katanya dalam keterangan yang dimuat bpolbf.kemenpar.go.id.

Sektor penerbangan belum sepenuhnya pulih. Bandara Ende membatalkan seluruh penerbangan hingga 20 Agustus 2026, sedangkan Bandara Frans Sales Lega Ruteng membatalkan penerbangan Wings Air hingga 22 Agustus 2026. Bandara Komodo Labuan Bajo, Bandara Frans Seda Maumere, dan Bandara Gewayantana Larantuka tetap beroperasi dengan penyesuaian jadwal. Kementerian Pariwisata menyebut pemulihan operasional bandara dikoordinasikan bersama Kementerian Perhubungan dan AirNav melalui skema Get Airport Ready for Disaster, prosedur kesiapsiagaan bandara menghadapi bencana yang menempatkan bandar udara sebagai simpul logistik darurat.

Baca juga: Korban Tewas Gempa Kolombia Tembus 288, Operasi Beralih ke Pemulihan

Hotel Aman, Satu Ditutup Permanen Sementara

Dari sisi akomodasi di Manggarai Barat, mayoritas hotel besar dilaporkan aman dengan kerusakan ringan, antara lain Ayana, Crowne Plaza, Sudamala, Ta’aktana Marriott, dan Meruorah. Pasokan listrik dan jaringan internet sudah kembali normal, dan tidak ada laporan tamu yang mempercepat kepulangan. Hotel Jayakarta menjadi pengecualian karena mengalami kerusakan struktural berat sehingga ditutup sementara; seluruh tamunya telah dievakuasi.

Untuk wisatawan yang sudah memesan perjalanan, BPOLBF mengoperasikan hotline informasi pariwisata di nomor 0811-3879-4555 yang memuat kondisi destinasi, aksesibilitas, dan akomodasi terkini. Layanan itu antara lain dimanfaatkan wisatawan asal Italia, Jerman, dan Prancis yang meminta konfirmasi bahwa kegiatan wisata di Labuan Bajo tetap berjalan.

Korban Bertambah, Gempa Susulan Belum Berhenti

Pemulihan sektor wisata berjalan di tengah penanganan darurat yang belum selesai. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat 69 orang meninggal dunia, 331 orang luka-luka, dan 34.689 orang mengungsi per 18 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA. Kerusakan rumah mencapai 19.297 unit, terdiri atas 6.463 rusak berat, 2.481 rusak sedang, dan 12.006 rusak ringan.

Baca juga: Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, 47 Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi

Jumlah korban jiwa itu naik tajam dalam dua hari. Badan Nasional Penanggulangan Bencana masih mencatat 53 orang meninggal hingga 16 Agustus 2026, dengan sebaran terbesar di Manggarai dan Manggarai Timur. Dalam data terbaru, Manggarai mencatat 26 orang meninggal dan Manggarai Timur 25 orang, sementara Nagekeo menjadi pusat gempa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 2.403 gempa susulan hingga 18 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB, termasuk 24 kejadian bermagnitudo di atas 5. Status siaga bencana ditetapkan di Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, dan Flores Timur. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sendiri menetapkan status tanggap darurat lewat Keputusan Gubernur Nomor 305/KEP/HK/2026 yang berlaku 15–28 Agustus 2026.

Pendataan kerusakan fasilitas wisata belum rampung. “Masa tanggap darurat masih berjalan hingga 28 Agustus, dan pendataan di beberapa wilayah masih terkendala jaringan komunikasi. Kami tidak akan berhenti pada laporan hari ini. BPOLBF akan terus memperbarui informasi sampai kondisi seluruh wilayah Floratama benar-benar terpetakan,” kata Andhy.

Kementerian Pariwisata mengimbau wisatawan yang merencanakan perjalanan ke Flores memantau informasi dari sumber resmi dan menghubungi hotline BPOLBF sebelum keberangkatan, mengingat gempa susulan masih berlangsung di sejumlah wilayah.

Baca Juga

Ilustrasi menara BTS
253 Ton Logistik ke NTT, 99,9 Persen BTS Sudah Pulih
Ilustrasi rombongan pesepeda melintasi gang berdinding tembok tua pada pagi hari
53 Mahasiswa Menguji Rute Sepeda Cagar Budaya Yogyakarta
Rumah-rumah rusak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa bermagnitudo 7,7.
Pakar ITB: Gempa Flores M7,7 Mirip Gempa Tsunami 1992
Ilustrasi evakuasi gempa
Korban Tewas Gempa Kolombia Tembus 288, Operasi Beralih ke Pemulihan
Bangunan roboh akibat gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur
Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, 47 Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi
Dua orang mengenakan pakaian tradisional Korea di depan bangunan bergaya hanok
Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah Ajak Donasi Korban Gempa NTT