- Rata-rata biaya rawat jalan seorang pasien artritis reumatoid di rumah sakit itu mencapai 790 dolar AS setahun.
- Obat menjadi pos terbesar dengan rata-rata 337 dolar AS per pasien per tahun.
- Biaya obat naik dari 147 dolar AS pada pasien remisi menjadi 619 dolar AS pada pasien dengan aktivitas penyakit tinggi.
- Biaya pendamping naik dari 14 dolar AS pada pasien di bawah 45 tahun menjadi 399 dolar AS pada pasien di atas 65 tahun.
Daftar Isi
Selembar resep obat dan seorang pendamping yang membantu pasien bergerak tampak tidak berhubungan, tetapi keduanya bertemu dalam satu hitungan biaya tahunan penderita artritis reumatoid di Jakarta. Yang pertama membengkak ketika penyakit sedang bergejolak. Yang kedua membengkak ketika pasien menua. Dua jalur itu berangkat dari tempat berbeda dan berakhir di angka yang sama, yaitu biaya total yang makin berat.
Hitungan itu disusun Rudy Hidayat, Fara Fauzia, Mochammad Alfansyah Dhifanra, dan Aries Maulana dalam Cost Analysis of Rheumatoid Arthritis in Insured Patients and Its Determinant Factors: Data from a National Referral Hospital in Indonesia. Artikel itu terbit di Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional volume 21 nomor 3 tahun 2026. Mereka menelusuri biaya 150 pasien poliklinik rawat jalan di sebuah rumah sakit rujukan nasional di Jakarta, semuanya peserta asuransi kesehatan nasional.
Artritis reumatoid, menurut para penulis, adalah penyakit rematik autoimun yang ditandai peradangan kronis dan progresif pada selaput sendi. Ujungnya kerusakan sendi, kecacatan menetap, dan kematian dini. Penyakit ini belum bisa disembuhkan, sehingga pengobatan diarahkan pada remisi atau aktivitas penyakit yang rendah. Karena itu, tulis mereka, komponen biaya harus ikut ditimbang dalam penanganannya, baik yang langsung maupun yang tidak langsung.
Obat, pos terbesar di dalam tagihan
Rata-rata biaya rawat jalan seorang pasien artritis reumatoid di rumah sakit itu mencapai 790 dolar AS setahun. Dengan kurs yang dipakai naskah, satu dolar setara Rp15.242, jumlah itu kira-kira Rp12 juta, atau sekitar Rp1 juta sebulan. Hampir tiga perempatnya adalah biaya medis langsung, rata-rata 591 dolar AS. Sisanya terbagi antara pengeluaran di luar layanan medis dan penghasilan yang hilang.
Di dalam biaya medis itu, satu pos menonjol jauh di atas yang lain. Obat menjadi pos terbesar dengan rata-rata 337 dolar AS per pasien per tahun. Konsultasi menyusul dengan 101 dolar AS, pemeriksaan laboratorium 79 dolar AS, dan radiologi 44 dolar AS. Rehabilitasi dan tindakan nonbedah, yang digabung sebagai pos lain-lain, hanya 30 dolar AS.
Rata-rata itu tidak dibagi merata. Nilai tengah biaya obat hanya 114 dolar AS, artinya separuh pasien menghabiskan tidak lebih dari jumlah tersebut dalam setahun. Nilai tengah biaya total pun 487 dolar AS, jauh di bawah rata-ratanya. Hidayat dan rekan-rekannya mencatat data biaya ini sangat menceng, sehingga sebagian kecil pasien berbiaya besar menarik angka rata-rata ke atas.
Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan
Pendamping, pos terbesar di luar tagihan
Di sisi lain, ada pengeluaran yang tidak pernah tercetak di lembar tagihan rumah sakit dan baru terungkap ketika pasien ditanya langsung di poliklinik. Biaya nonmedis langsung itu rata-rata 170 dolar AS setahun. Pos terbesarnya adalah pendamping, 92 dolar AS, disusul suplemen 49 dolar AS dan transportasi 27 dolar AS. Diet khusus dan alat bantu nyaris tidak terasa, masing-masing 3 dan 2 dolar AS.
Lebih kecil lagi adalah penghasilan yang hilang karena sakit. Berhenti bekerja, cuti sementara, dan pensiun dini hanya menyumbang rata-rata 29 dolar AS, atau 3,7 persen dari biaya total. Para penulis menyandingkannya dengan Swedia, tempat biaya tidak langsung mencapai 58 persen. Penjelasan mereka terletak pada siapa pasiennya: 94,7 persen perempuan, dan 54,7 persen ibu rumah tangga yang kehilangan produktivitasnya terbatas dalam hitungan semacam ini.
Dua pos itu, obat dan pendamping, sama-sama memimpin di wilayahnya masing-masing. Obat memimpin di dalam tagihan, pendamping memimpin di luar tagihan. Yang membedakan keduanya adalah apa yang membuat masing-masing membesar. Di titik itulah Hidayat, Fauzia, Dhifanra, dan Maulana memisahkan pasien menurut dua ukuran, yaitu seberapa aktif penyakitnya dan berapa usianya.
Ketika penyakit makin aktif, obat yang membesar
Pada ukuran pertama, pasien dibagi ke dalam empat tingkat aktivitas penyakit. Sebanyak 20 orang berada dalam remisi, 34 orang beraktivitas rendah, 78 orang sedang, dan 18 orang tinggi. Biaya total rata-rata mereka menanjak berurutan: 516 dolar AS, 709 dolar AS, 790 dolar AS, lalu 1.251 dolar AS. Pasien di tingkat tertinggi menanggung hampir dua setengah kali biaya pasien yang sudah remisi.
Kenaikan paling curam terjadi pada obat. Biaya obat naik dari 147 dolar AS pada pasien remisi menjadi 619 dolar AS pada pasien dengan aktivitas penyakit tinggi. Itu lebih dari empat kali lipat. Radiologi ikut naik, dari 13 menjadi 56 dolar AS, sedangkan konsultasi hanya bergeser tipis dan laboratorium tidak berbeda bermakna. Biaya nonmedis dan penghasilan yang hilang juga tidak berbeda bermakna antartingkat.
Para penulis menautkan kenaikan itu dengan obat yang ditambahkan. Metotreksat dipakai 130 pasien atau 86,7 persen, dengan taksiran biaya hanya 29,6 dolar AS setahun. Sulfasalazin, pasangan kombinasi yang paling sering dipilih, dipakai 86 pasien dan menelan 585 dolar AS setahun. Pemakaiannya naik dari 40 persen pada pasien remisi menjadi 88,9 persen pada pasien beraktivitas tinggi. Leflunomid, yang dipakai 30 pasien, menelan 348,2 dolar AS.
Ada satu catatan lain pada kelompok terberat. Berhenti bekerja dan pensiun dini hanya muncul di antara pasien beraktivitas tinggi, tidak di tiga tingkat lainnya. “Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan aktivitas penyakit yang efektif dapat memberi manfaat ekonomi yang besar dalam penanganan artritis reumatoid,” tulis Rudy Hidayat dari Divisi Reumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama tiga rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Baca juga Kelembapan Terlalu Rendah atau Tinggi Naikkan Risiko Artritis
Ketika usia makin lanjut, pendamping yang membesar
Pada ukuran kedua, pasien dibagi menurut usia. Sebanyak 50 orang berumur di bawah 45 tahun, 88 orang berumur 45 sampai 65 tahun, dan 12 orang di atas 65 tahun. Biaya total rata-rata mereka juga menanjak berurutan: 621 dolar AS, 851 dolar AS, lalu 1.068 dolar AS. Bentuk tangganya serupa dengan tangga aktivitas penyakit, tetapi anak tangganya dibuat dari bahan lain.
Obat, yang menjadi penggerak pada ukuran pertama, justru diam pada ukuran kedua. Rata-rata biaya obat pasien termuda 281 dolar AS dan pasien tertua 279 dolar AS, nyaris kembar. Biaya medis langsung pun tidak berbeda bermakna, 515 dolar AS berbanding 547 dolar AS. Yang naik sedikit hanya konsultasi, dari 94 menjadi 104 dolar AS.
Yang bergerak adalah pendamping. Biaya pendamping naik dari 14 dolar AS pada pasien di bawah 45 tahun menjadi 399 dolar AS pada pasien di atas 65 tahun. Kelompok tengah berada di antaranya dengan 97 dolar AS. Akibatnya, biaya nonmedis langsung pasien tertua mencapai 521 dolar AS, hampir menyamai biaya medis langsung mereka. Pada pasien termuda, pos yang sama hanya 103 dolar AS.
Hidayat dan rekan-rekannya membaca pola itu sebagai tanda bahwa, dalam terjemahan dari kalimat mereka, “kebutuhan pendampingan meningkat seiring bertambahnya usia”. Angka 399 dolar AS itu tetap perlu dibaca hati-hati. Kelompok tertua hanya berisi 12 orang, nilai tengah biaya pendamping mereka nol, dan rentang kepercayaannya melebar dari minus 57 sampai 855 dolar AS. Artinya sebagian besar pasien tidak membayar pendamping, sedangkan segelintir membayar sangat mahal.
Yang tercakup dalam hitungan
Kedua tangga biaya itu berdiri di atas cakupan yang sama. Tidak seorang pun dari 150 pasien menerima obat biologik, sehingga seluruh biaya obat berasal dari obat antirematik konvensional yang ditanggung asuransi kesehatan nasional. Para penulis menyebut akses terhadap obat biologik di bawah skema itu terbatas. Menurut mereka, perluasan cakupan bagi pasien yang gagal dengan obat konvensional dapat mempercepat pengendalian penyakit.
Skema asuransi itu sendiri ikut membentuk angka. Hidayat dan rekan-rekannya mengutip kajian yang mendapati harga 79,6 persen obat terdaftar turun antara 2013 dan 2017, dan 39 persen di antaranya turun lebih dari separuh. Biaya obat artritis reumatoid di India dilaporkan sekitar 145,76 dolar AS, di Turki 2.888 dolar AS. Karena itu, tulis mereka, konteks setempat menentukan cara membaca hasil studi ekonomi mana pun.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Yang luput dari hitungan
Di sisi lain, ada yang sengaja tidak dihitung. Rawat inap berada di luar cakupan karena penyakit ini terutama ditangani lewat kontrol rawat jalan. Obat yang dibeli pasien di luar rumah sakit ditanyakan saat wawancara, tetapi tidak dimasukkan karena pasien tidak bisa mengingat atau menaksir harganya dengan andal. Studi dari Thailand yang mereka kutip, 2.682 dolar AS per pasien, memasukkan rawat inap yang menyumbang sekitar 30 persen biaya.
Keterbatasan lain diakui terbuka. Rancangan potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, sehingga usia dan aktivitas penyakit hanya bisa disebut berkaitan dengan biaya. Biaya tidak langsung mungkin terlalu rendah karena banyaknya ibu rumah tangga. Rentang pengamatan satu tahun tidak menangkap kehilangan produktivitas seumur hidup. Lokasinya pun satu rumah sakit rujukan nasional, sehingga hasilnya belum tentu berlaku di layanan primer atau sekunder.
Beberapa angka di naskah juga layak dicocokkan pembaca. Biaya kelompok aktivitas tinggi disebut 242 persen lebih tinggi daripada kelompok remisi, padahal 1.251 berbanding 516 berarti 2,42 kali, atau 142 persen lebih tinggi. Pola serupa muncul pada usia, yang ditulis 172 persen lebih tinggi untuk 1.068 berbanding 621. Biaya di Belgia tertulis 9.946 euro atau sekitar 3.010 dolar AS, tidak sejalan dengan kurs yang dipakai untuk Jerman dan Prancis di kalimat yang sama.
Resep dan pendamping, pada akhirnya, tidak saling menggantikan dalam naskah ini. Aktivitas penyakit menjelaskan mengapa biaya obat membesar, dan usia menjelaskan mengapa biaya pendamping membesar. Keduanya tetap bermakna ketika diuji bersama, dan para penulis tidak menempatkan salah satunya di atas yang lain. Seorang pasien bisa menaiki satu tangga, bisa juga dua tangga sekaligus, dan hitungan dari Jakarta ini mencatat keduanya berdampingan.















