Nyanyian Makalelon Minahasa Menitipkan Pesan Ibu bagi Perantau

A A

Ilustrasi empat warga lanjut usia bernyanyi dengan gitar dan suling di beranda rumah kayu [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Nyanyian Makalelon-Makaaruyen, menurut naskah itu, lahir pada 1960-an dan menonjol pada 1970-an.
  • Sepuluh lagu dimuat liriknya dalam naskah, dan enam di antaranya menyebut ibu atau mama.
  • Ke mana pun pergi jauh merantau, kata lagu itu, kota Manado tetap diingat.
  • Naskah juga tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian.
Daftar Isi
  1. Lagu sendu yang lahir pada 1960-an dan menyebar dari Bitung sampai Poigar
  2. Utang budi kepada ibu yang tidak terbayar dan dibawa sampai mati
  3. Kambuna berangkat dari Manado, dan desa di tengah hutan yang terus dirindukan
  4. Doa kepada Yang Mahakaya agar dijauhkan dari jalan yang bengkok
  5. Beberapa hal dalam naskah yang patut diperiksa sendiri oleh pembaca

Di bawah sinar terang bulan, seseorang duduk memikirkan nasibnya. Setiap hari tak ada kesenangan, malam pun begitu, hidup terlalu susah. Lalu ia memanggil ibunya. “Oh Ibu jangan kau tinggalkan aku,” begitu bunyi baris berikutnya dalam lagu Di Bawah Sinar, satu dari sepuluh nyanyian Makalelon-Makaaruyen yang liriknya dicatat tiga peneliti Universitas Sam Ratulangi di Minahasa.

Lirik itu dimuat Arter Jodi Senduk, Tatiana Stary Claudia, dan Buyung Ade Saputra dalam artikel Collective memory: Moral and cultural values on the songs of Makalelon-Makaaruyen: Oral tradition of Tontemboan Minahasa. Artikel tersebut terbit di Culturalistics: Journal of Cultural, Literary, and Linguistic Studies volume 9 nomor 2 tahun 2025. Ketiganya berasal dari Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sam Ratulangi Manado.

Bagi mereka, lagu tentang anak yang jauh dari ibunya itu bukan sekadar ratapan. Tabel yang mereka susun menafsirkan pesannya dengan lugas: jangan mengasihani diri saat berjuang dan jauh dari orang tua, sebab naik turun adalah bagian wajar dari hidup. Ungkapan setempat yang dicatat untuk lagu itu lebih pendek lagi. Bakuat, jangan lepe-lepe.

Lagu sendu yang lahir pada 1960-an dan menyebar dari Bitung sampai Poigar

Nyanyian Makalelon-Makaaruyen, menurut naskah itu, lahir pada 1960-an dan menonjol pada 1970-an. Ia menjadi bagian tradisi lisan orang Tontemboan Minahasa yang tersebar di Bitung, Tomohon, Langoan, Tompaso, Motoling, Tenga, Tumpaan, dan Poigar. Keterangan tentang kelahiran lagu Makalelon diperoleh penulis dari Bernard Sondakh, pegiat budaya asal Desa Tondei, pada Februari 2020.

Melodinya lambat dan menyayat, kerap diiringi gitar dan suling. Jafet Wowor, penyanyi Makalelon dari Desa Boyong-Atas di Minahasa Selatan, menjadi rujukan penulis untuk gambaran musiknya: melodi sederhana tetapi emosional, irama tidak rumit, harmoni paralel yang sederhana, dan tekstur nada yang mudah diikuti. Lagu-lagu itu melankolis. Pendengarnya ditinggali kesan tenang dan lembut.

Dua nama itu merujuk pada nyanyian tradisional yang masih hidup di wilayah Tontemboan. Di Desa Wakan, orang menyebutnya Makalelon Wakan dan menyanyikannya dalam bahasa Tontemboan, Melayu Manado, dan Indonesia. Di Tompaso, namanya Makaaruyen. Menurut Ross Poluan dan Samuel Lonteng, penyanyi Makalelon Wakan, lagu itu pertama kali dikenalkan di sana oleh orang Sonder yang bermigrasi pada masa kolonial.

Alat pengiringnya pun dicatat. Sampai sekarang lagu-lagu itu populer dimainkan dengan juke atau ukulele dan gitar, kadang disusul suling. Naskah menyebut akarnya sebagai perpaduan budaya Minahasa dengan pengaruh Barat, terutama Spanyol dan Portugis. Perry, etnomusikolog Minahasa yang dirujuk penulis, melihat kelahiran lagu-lagu itu dipengaruhi kehadiran orang Spanyol dan Portugis di Minahasa pada awal 1550-an.

Jejak waktu nyanyian MakalelonPengaruh Spanyol dan Portugis awal 1550-an; nyanyian lahir 1960-an dan menonjol 1970-an; wawancara 2020 dan 2023.Jejak waktu nyanyian MakalelonTahun-tahun yang disebut dalam naskah1550Awal 1550-an: Spanyol dan Portugis di Minahasa,disebut memengaruhi lagu19601960-an: nyanyian Makalelon-Makaaruyen disebutlahir19701970-an: nyanyian ini menonjol2020Wawancara Bernard Sondakh di Tondei dan penyanyiWakan2023Wawancara Jafet Wowor, penyanyi di Boyong-Atas
Sumber: Arter Jodi Senduk, Tatiana Stary Claudia, dan Buyung Ade Saputra, Collective memory: Moral and cultural values on the songs of Makalelon-Makaaruyen: Oral tradition of Tontemboan Minahasa, Culturalistics: Journal of Cultural, Literary, and Linguistic Studies, 9(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Orang Minahasa, tulis para peneliti, dikenal sangat gemar bernyanyi. Kebiasaan itu hadir dari upacara adat sampai kerja bakti dan perayaan. Seorang mantan penyanyi Makalelon dari Desa Wakan bermarga Poluan, berusia 78 tahun ketika diwawancarai di rumahnya pada 2020, menjadi sumber untuk satu ciri pokok. Nyanyian ini sangat melankolis, dan liriknya penuh pesan moral serta nilai hidup.

Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu

Utang budi kepada ibu yang tidak terbayar dan dibawa sampai mati

Sepuluh lagu dimuat liriknya dalam naskah, dan enam di antaranya menyebut ibu atau mama. Yang terpanjang berjudul Sungguh Ibu. Bait-baitnya dibuka dengan gambar pisang emas yang dibawa berlayar, rusa di gunung api, dan sumur di ladang. Isinya satu hal yang didekati dari berbagai arah: budi seorang ibu tidak terbayar.

Sang anak dalam lagu itu bertanya dengan apa budi mama mau dibalas, lalu menjawab sendiri: dengan sembahyang. Bait berikutnya lebih keras. “Hutang budi eh mama membawa mati,” demikian liriknya. Ada pula permintaan maaf yang dititipkan lewat perumpamaan cincin patah: bila ada salahku, janganlah disimpan di dalam hati.

Tabel penulis merangkum pesan Sungguh Ibu sebagai penghormatan kepada ibu yang melahirkan. Air susu ibu disebut berharga dan tak ternilai, sedangkan ibu dan bapak adalah tiang doa bagi anak-anaknya. Peringatannya ditulis dalam bahasa sehari-hari, jangang baku manyao dengan mamamu, jangan melawan ibu yang melahirkan agar ia tidak mengutukmu. Di ujungnya ada nasihat praktis: bekerja keras dan patuh kepada orang tua.

Tema yang sama muncul dalam bahasa Tontemboan lewat Sapam Imbalas Ta Karu. Terjemahan yang disertakan naskah berbunyi: apa yang bisa dibalas kepada mama dan papa yang mengurus kita kakak-adik. Lagu itu mengaku tidak dapat membalas kebaikan mereka yang mendidik ke jalan yang benar. Jawabannya bukan harta. Mari kita saling menyayangi kakak adik.

Maya Ang Lalan Rondor bercerita dari sisi anak yang disekolahkan. Ibu dan bapak menyekolahkannya supaya kelak menjadi orang berguna, dengan jalan kebenaran sebagai bekal hari depan. Ia tahu akan menyesal di kemudian hari, sebab ibu dan bapaknya susah demi kesenangannya. Penulis membaca lagu ini sebagai ajaran mencari nafkah dengan cara yang benar dan tidak mengambil milik orang lain.

Di titik inilah para peneliti menaruh penilaian mereka. “Nyanyian Makalelon-Makaaruyen dari Tontemboan Minahasa lebih dari sekadar melodi tradisional; nyanyian itu adalah wadah yang kuat bagi ingatan kolektif, tuntunan moral, dan identitas budaya,” tulis Arter Jodi Senduk, Tatiana Stary Claudia, dan Buyung Ade Saputra dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris. Liriknya, kata mereka, kerap berbentuk nasihat puitis dari orang tua kepada generasi muda.

Sepuluh lagu, tiga bahasaSepuluh lirik lagu dalam tiga bahasa, dengan keyakinan warga Tondei dan Boyong-Atas.Sepuluh lagu, tiga bahasaNyanyian Makalelon-Makaaruyen orang Tontemboan Minahasa10Laguliriknya dimuat3BahasaTontemboan, Manado,Indonesia2DesaTondei, Boyong-AtasJalan risetnyaLirik dicatatNilai ditabelkanIngatan kolektifBahasa kedua: Melayu Manado. Dua desa: tempat warga yangkeyakinannya dicatat naskah.
Sumber: Arter Jodi Senduk, Tatiana Stary Claudia, dan Buyung Ade Saputra, Collective memory: Moral and cultural values on the songs of Makalelon-Makaaruyen: Oral tradition of Tontemboan Minahasa, Culturalistics: Journal of Cultural, Literary, and Linguistic Studies, 9(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Kambuna berangkat dari Manado, dan desa di tengah hutan yang terus dirindukan

Kambuna mau berangkat. Begitu lagu kelima dibuka, disusul ucapan selamat tinggal kepada Manado, kota indah yang dibanggakan karena hasil utamanya: kopra, cengkih, pala, dan kopi. Semakin jauh, yang terlihat tinggal daun nyiur melambai-lambai dan lautan membiru. Ke mana pun pergi jauh merantau, kata lagu itu, kota Manado tetap diingat.

Merantau memang berulang kali muncul. Minahasa Yang Kucintai dibuka dengan pengakuan pergi jauh meninggalkan ibu dan bapak, lalu berkata apa boleh buat. Penulis mengaitkan lagu ini dengan cinta pada tanah kelahiran, yang mereka sebut Puser in Tana’, serta dengan kesabaran saat bekerja di negeri orang. Orang Minahasa digambarkan senang bekerja, suka menolong, dan terbuka kepada siapa saja.

Lalu ada desa yang dinyanyikan dengan namanya sendiri. Ro’ong Tondei menyebut Tondei sebagai desa di tengah hutan, bergunung dan berjurang, tetapi tetap dirindukan oleh mereka yang empunya desa. Apa yang diinginkan pasti didapat asalkan bertekun. Lagu itu lalu menyebut isi alamnya satu per satu: belut, udang, udang kecil, tikus, babi hutan.

Baris penutupnya tidak manis. Agama atau kepercayaan pun beragam, kata lagu itu, tetapi siapa yang hanya tinggal dan malas akan gigit jari. Dalam tabel, penulis menyimpulkan gambaran orang Tondei sebagai pekerja keras yang gemar berburu dan berkebun. Pesan yang mereka tarik adalah membangun desa itu dan selalu mengingatnya.

Menurut naskah, nyanyian ini secara tradisional dibawakan pada peristiwa besar bersama seperti perayaan panen, pernikahan, dan perpisahan. Ia memberi penghiburan pada saat berpisah atau susah. Bagi orang Minahasa yang tinggal jauh dari tanah asal, lagu-lagu itu menjadi sarana mengungkapkan perasaan sekaligus pengikat dengan warisan budaya yang sama.

Baca juga Saluang Pauah, Pendendang Laki-laki Pengiring Kaba Pauh

Doa kepada Yang Mahakaya agar dijauhkan dari jalan yang bengkok

O Wailang Kasuruang adalah doa yang dinyanyikan. Wailang Kasuruang diterjemahkan penulis sebagai Yang Mahakaya, Sumber Segala. Kepada-Nya penyanyi meminta ditunjukkan jalan lurus, dijauhkan dari bencana, diberi kedamaian. Ada satu permintaan yang sangat spesifik: jangan biarkan kami pada jalan bengkok, yang dalam kurung dijelaskan sebagai sesat atau jahat.

Doa itu ditutup dengan permohonan berkat berlimpah dan usia panjang. Permohonan serupa terdengar dalam ungkapan yang oleh penulis disebut inti dari semuanya: Pakutuan Wo Pakalowiren. Catatan kaki naskah mengartikannya sebagai semoga panjang umur dan sehat selalu. Ungkapan itu dipasang di ujung abstrak dan di kalimat terakhir kesimpulan.

Minta Doa lebih muram. Penyanyinya bertanya di mana kunci pintu surga, lalu mengaku tidak tahu. Ia membandingkan diri dengan burung putih yang terbang sekawan tanpa tentu di mana sarangnya. Tujuh bintang di utara disandingkan dengan tujuh bersaudara. Tabel penulis menarik pelajaran yang tegas dari lagu ini: mengeluh tidak memberi jalan keluar, maka berdoalah sampai doa itu dijawab.

Siri Wangko berisi salam. Artinya penghormatan agung, ditujukan kepada saudara sekalian di tempat itu. Para penyanyi menyatakan datang memperdengarkan nyanyian para leluhur zaman lampau. Menurut penulis, lagu ini mengingatkan bahwa ada Tuhan dan ada leluhur, dan bahwa ajaran orang tua yang sudah mendahului patut dihormati.

Dari sepuluh lagu itu penulis menyaring sejumlah nilai yang menurut mereka tersimpan dalam ingatan bersama orang Minahasa. Mapalus, yaitu bekerja sama untuk kebaikan, disebut berulang. Begitu pula maupus-upusan dan maleos-leosan, saling mengasihi dan saling peduli. Nyanyian itu, tulis mereka, menjaga ikatan sosial dan meneguhkan identitas budaya di tengah perubahan masyarakat.

Baca juga Dendang Sirukam Maelo Kayu Digubah Jadi Karya Folk Ranah Berlagu

Beberapa hal dalam naskah yang patut diperiksa sendiri oleh pembaca

Cakupan tulisan ini perlu dibaca dengan hati-hati. Naskah hanya memuat sepuluh lirik, dan keyakinan bahwa lagu-lagu itu menyimpan ingatan kolektif disebut terutama berasal dari warga dua desa, Tondei dan Boyong-Atas. Naskah juga tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Bahan itulah yang menjadi dasar simpulan penulis tentang orang Tontemboan Minahasa.

Ada pula yang tidak sejalan di dalam naskah. Pendahuluan menyebut nyanyian ini lahir pada 1960-an, tetapi paragraf lain menyatakan lagu-lagu itu sudah ada sejak masa kolonial. Urutan lagu dalam daftar lirik juga berbeda dari urutan dalam tabel. Siri Wangko bernomor tiga di daftar, tetapi nomor dua di tabel.

Terjemahan lirik pun tidak selalu cocok. Pada Sungguh Ibu, baris sudah bersalah diterjemahkan menjadi sudah berhasil. Pada Ro’ong Tondei, kata kawok diartikan tikus dalam terjemahan lirik, tetapi tabel menulis ikan kawok. Nama Poluan dari Wakan muncul dua kali tanpa penjelasan apakah keduanya orang yang sama.

Di ujung Sungguh Ibu, setelah semua utang budi dan permintaan maaf, sang anak menyanyikan sumur di ladang tempat orang boleh singgah menumpang mandi. Jika ada umur panjang, katanya, nanti kita bertemu lagi. Baris itu tidak menjanjikan apa-apa selain harapan. Di bawah terang bulan, jauh dari ibu, harapan itulah yang dinyanyikan.

Bagikan

Baca Juga

Lirik Lagu Lugat al-Alam dan Jejak Pengorbanan Seorang Ibu
Novel Darman Moenir: Rumah Tangga Retak dari Dalam dan Luar
Larangan Khitbah di Dusun Sade, Merariq Dijaga sebagai Identitas
Biola Solo Satukan La Primavera Vivaldi dan Dangdut Melayu Ijuk
Aneuk Jamee Aceh Selatan, Urusan Rumah Tangga Lewat Ninik Mamak
Cerpen Salman Rushdie In the South dan Migran di Ruang Antara