Nilam Kristal USK Capai Kemurnian 99,7 Persen

Penandatanganan kerja sama riset nilam kristal antara Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala dan ParagonCorp.

Penandatanganan kerja sama riset nilam kristal antara Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala dan ParagonCorp. [Foto: Universitas Syiah Kuala]

Cekricek.id — Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK) menggandeng industri kosmetik nasional PT Paragon Technology and Innovation atau ParagonCorp untuk mengembangkan riset nilam kristal sebagai bahan aktif kosmetika alami. Penandatanganan kerja sama itu berlangsung di ParagonCorp HQ, Jakarta, menurut keterangan tertulis Universitas Syiah Kuala, Jumat (21/08/2026).

Naskah kerja sama diteken langsung oleh Kepala ARC USK Syaifullah Muhammad bersama Vice President ParagonCorp dr. Sari Chairunnisa. Kolaborasi tersebut menempatkan minyak nilam mentah khas Aceh sebagai bahan baku utama yang diolah menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi untuk kebutuhan industri kecantikan dalam negeri.

Kemurnian 99,7 Persen dari Nilam Aceh

Fokus utama riset bersama itu adalah pemanfaatan inovasi nilam kristal dengan tingkat kemurnian tinggi, yakni mencapai 99,7 persen patchouli alcohol (PA). Bahan tersebut disintesis dari minyak nilam mentah khas Aceh melalui hibah program hilirisasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2026.

Nilam kristal merupakan bentuk lanjutan dari minyak nilam yang selama ini banyak diperdagangkan dalam wujud mentah. Dengan kadar patchouli alcohol setinggi itu, bahan tersebut disiapkan untuk masuk ke jalur formulasi produk kosmetika, bukan berhenti sebagai komoditas bahan baku semata.

Baca juga Brian Yuliarto: Partisipasi Kuliah RI Baru 32 Persen

Syaifullah menyebut kerja sama dengan pelaku industri merupakan bagian dari mandat program pemerintah. “Kolaborasi antara akademisi dengan industri merupakan amanat skema insentif hilirisasi dorongan teknologi dari Kemendiktisaintek,” kata Kepala ARC USK tersebut.

Atsiri Research Center sendiri merupakan pusat riset di lingkungan USK yang berfokus pada pengembangan minyak atsiri, termasuk nilam. Lewat hibah hilirisasi tahun ini, pusat riset tersebut mengarahkan kerjanya pada produk turunan yang dapat langsung diserap industri, bukan sekadar keluaran ilmiah yang berhenti di jurnal.

Uji Laboratorium hingga Kompatibilitas Kulit

Tahapan riset yang disepakati kedua pihak tidak berhenti pada penyediaan bahan. Nilam kristal hasil sintesis ARC USK akan melewati serangkaian pengujian di laboratorium sebelum dinyatakan siap dipakai sebagai bahan aktif produk perawatan kulit.

Baca juga UGM dan RSUD Tais Jajaki Kerja Sama Dokter Spesialis

“Proses pengujian mencakup formulasi laboratorium, uji aktivitas biologis seperti antioksidan, antiinflamasi, dan anti-aging, hingga uji keamanan dan kompatibilitas pada kulit,” jelas Syaifullah.

Rangkaian uji itu menempatkan ParagonCorp sebagai mitra industri yang memiliki pengalaman formulasi produk, sementara USK berperan pada sisi penyediaan bahan aktif beserta basis ilmiahnya. Pola pembagian peran semacam ini menjadi ciri skema hilirisasi yang mempertemukan laboratorium kampus dengan lini produksi perusahaan.

Komersialisasi Hasil Riset Perguruan Tinggi

Bagi USK, kesepakatan ini menjadi contoh bagaimana temuan laboratorium kampus dapat berpindah ke jalur produksi. Skema hilirisasi yang didorong Kemendiktisaintek menuntut hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan terhubung dengan kebutuhan pasar dan pelaku usaha.

Baca juga ITS Dampingi Calon Wirausaha, Target 7 Persen Lulusan Berbisnis

“Kerja sama ini menjadi wujud nyata implementasi komersialisasi hasil riset perguruan tinggi dan bisa membuka peluang penciptaan ekosistem lebih luas dalam rantai nilai industri nilam Indonesia,” tutur Syaifullah.

Pernyataan itu menegaskan orientasi kerja sama yang tidak berhenti pada satu produk. Ekosistem yang dimaksud mencakup rantai pasok dari petani nilam di Aceh, proses penyulingan, hingga pemurnian menjadi nilam kristal yang siap dipakai perusahaan kosmetik.

Dorongan bagi Komoditas Atsiri Nasional

Dari sisi industri, ParagonCorp menyatakan ketertarikan memperluas penggunaan bahan alam Indonesia dalam produk kosmetiknya. Perusahaan tersebut menilai komoditas atsiri nasional masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan sebagai bahan aktif kecantikan.

“Paragon mencoba mengembangkan perhatian lebih luas terhadap komoditas atsiri Indonesia sebagai bahan alami untuk kosmetika. Semoga kolaborasi ini bisa membawa dampak positif bagi proses hilirisasi bahan alam Indonesia,” ujar Sari Chairunnisa.

Penandatanganan di ParagonCorp HQ Jakarta itu sekaligus menandai masuknya nilam kristal hasil riset kampus di Aceh ke meja formulasi industri kosmetik nasional. Bahan aktif tersebut kini menunggu hasil rangkaian pengujian sebelum dapat dipakai pada produk yang beredar di pasar. Selama proses itu berjalan, ARC USK tetap menjadi pihak yang memasok bahan aktif berbasis nilam Aceh untuk kebutuhan riset bersama.

Baca Juga

Sesi pengenalan prototipe produk olahan rempah dalam forum diskusi bersama warga di Kawasan Transmigrasi Bungku, Morowali.
Tim UNAIR Olah Lengkuas Jadi Serundeng di Morowali
Peraih Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi berbicara dalam UGM Annual Lecture Nobel Laureate Series di Universitas Gadjah Mada.
Nobel Kailash Satyarthi: Bawa KKN UGM ke Panggung Global
Konferensi pers peluncuran pembangkit listrik tenaga surya di atas kanal irigasi di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Unsoed dan BRIN Luncurkan PLTS di Atas Kanal Irigasi
Sesi pemaparan materi seminar nasional tentang penyelesaian sengketa ekonomi syariah di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Eks Ketua MA: Pengadilan Niaga Syariah Berpotensi Besar
Pejabat BNPB berbincang dengan rombongan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di pos pendukung logistik bantuan.
Kemen PPPA Kirim 46,6 Ton Bantuan Perempuan-Anak NTT
Petugas BMKG mengoperasikan peralatan survei seismik di halaman sebuah bangunan terdampak gempa.
BMKG Survei Lapangan Pascagempa M7,7 Flores di NTT