Dr. Dre Rangkul AI: Alat Baru untuk Kreativitas Musik

Dr. Dre tampil di atas panggung sambil memegang mikrofon.

Dr. Dre tampil di atas panggung sambil memegang mikrofon. [Foto: Jerritt Clark/Getty Images for Top Dawg Entertainment]

Cekricek.id — Dr. Dre rangkul AI dalam proses produksi musiknya dan menyebut teknologi itu sebagai alat baru untuk kreativitas, bukan ancaman bagi para musisi, menurut laporan NME, Minggu (23/08/2026).

Produser sekaligus rapper asal Amerika Serikat itu menyampaikan pandangannya dalam sebuah wawancara bersama mitra bisnis lamanya, Jimmy Iovine, yang diterbitkan The New York Times pada hari yang sama. Pernyataan tersebut cepat menjadi perbincangan karena datang dari sosok yang selama tiga dekade terakhir ikut membentuk arah suara musik hip-hop modern lewat deretan rekaman yang ia produseri.

Dari Drum Machine ke Sintesiser

Dr. Dre membandingkan penolakan terhadap kecerdasan buatan dengan resistensi yang dulu menyambut kehadiran drum machine dan sintesiser. Menurut dia, pola keberatan semacam itu selalu berulang setiap kali industri musik berhadapan dengan perangkat yang belum dikenal, sebelum akhirnya alat tersebut diterima sebagai bagian wajar dari proses berkarya.

“Saya berdiskusi dengan beberapa orang beberapa hari lalu,” kata Dr. Dre. “Mereka menentang AI dan saya bilang, oke, kamu terdengar seperti orang yang dulu akan menentang drum machine ketika alat itu pertama kali muncul. Atau sintesiser, kan? Ini alat baru untuk kreativitas. Sebagian orang takut mempelajari hal-hal baru.”

Baca juga ENHYPEN Rilis Album Baru THE SIN : BLISS 21 Agustus 2026

Ia menegaskan sikapnya tidak setengah-setengah. Alih-alih menunggu perdebatan mereda, produser tersebut memilih langsung menjajal teknologi itu di ruang kerjanya sendiri.

“Saya merangkulnya. Saya tidak sabar melihat apa yang akan terjadi dengan teknologi ini,” ujar Dr. Dre.

Baca juga Titi Kamal Sampaikan Doa untuk Kalimantan dan NTT

Ketika ditanya apakah ia benar-benar memakai kecerdasan buatan saat memproduksi lagu, Dr. Dre menjawab bahwa ia memanfaatkannya sebagai alat untuk melihat apa yang akan dilakukan mesin itu terhadap materi yang baru saja ia kerjakan. Dengan kata lain, teknologi tersebut ia posisikan sebagai penanggap ide, bukan penulis utama.

Ia pun menolak anggapan bahwa perkembangan kecerdasan buatan sedang mengancam mata pencaharian musisi. “Saya rasa satu-satunya orang yang melihatnya sebagai ancaman adalah orang-orang yang kesulitan berkarya,” tutur Dr. Dre.

Jimmy Iovine Sebut Tak Ada Sisi Buruknya

Antusiasme serupa datang dari Jimmy Iovine, salah satu pendiri Beats Electronics yang telah bekerja sama dengan Dr. Dre sejak era 1990-an. Dalam wawancara yang sama, eksekutif musik veteran itu menempatkan dirinya di kubu yang terbuka penuh terhadap teknologi baru tersebut.

Baca juga Verrell Bramasta Serahkan Ambulans untuk Warga

“Saya sangat mendukung AI dalam penciptaan musik,” kata Iovine. “Saya sama sekali tidak melihat sisi buruknya.”

Menurut dia, kehadiran perangkat itu justru berpotensi mengerek kualitas rekaman apabila jatuh ke tangan orang yang tepat. Ia tidak menampik bahwa akan lahir banyak karya bermutu rendah, tetapi menilai persoalan tersebut sudah ada jauh sebelum kecerdasan buatan populer.

“Di studio, ketika orang-orang berbakat memiliki AI, mereka akan membuat rekaman yang lebih baik,” sebut Iovine.

Jejak Panjang Dua Nama Besar

Kolaborasi Dr. Dre dan Jimmy Iovine bukan hal baru dalam peta industri musik global. Keduanya telah bekerja bersama sejak dekade 1990-an dan kemudian mendirikan Beats Electronics, perusahaan perangkat audio yang dibeli Apple senilai 3 miliar dolar AS pada 2014. Transaksi itu menjadi salah satu akuisisi terbesar yang pernah dilakukan raksasa teknologi tersebut dan mengukuhkan posisi keduanya sebagai pelaku bisnis, bukan sekadar orang studio.

Rekam jejak itu membuat sikap keduanya terhadap kecerdasan buatan tidak berdiri sendiri. Sepanjang karier, Dr. Dre dikenal sebagai produser yang gemar bereksperimen dengan perangkat perekaman terbaru, sementara Iovine berulang kali terlibat dalam pertemuan antara industri musik dan teknologi konsumen.

Perdebatan soal batas pemakaian kecerdasan buatan sendiri belum reda di industri musik internasional. Sebagian musisi menuntut perlindungan lebih ketat atas suara dan karya mereka, sementara sebagian lain mulai memasukkan perangkat berbasis AI ke dalam alur kerja harian di studio. Pernyataan Dr. Dre dan Jimmy Iovine menempatkan dua nama berpengaruh itu secara terbuka di kubu kedua, sekaligus menambah bobot pada argumen bahwa teknologi tersebut layak diperlakukan sebagai instrumen, bukan lawan.

Baca Juga

Dealer mata uang memantau nilai tukar di ruang perdagangan valuta asing kantor pusat Hana Bank, Seoul
Investor Pemula Korsel Rugi Besar Gara-Gara Saham AI
Peneliti berpakaian pelindung menganalisis sampel cairan di laboratorium
AI Prediksi Respons Vaksin dari Antibodi Sebelum Disuntik
Ilustrasi penggunaan kecerdasan buatan melalui laptop.
UGM Gandeng Kampus Australia Riset Etika AI
Ilustrasi serat optik sebagai sensor pemantauan lingkungan
Dosen Tel-U Padukan Fiber Optik dan AI Pantau Lingkungan
Seminar tentang pendidikan di era kecerdasan buatan di Universitas Negeri Jakarta
Pakar Tsinghua: 39% Skill Kerja Berubah karena AI
Papan nama kantor Stripe Inc. di South San Francisco, California, Amerika Serikat.
Stripe Dikabarkan Akuisisi OpenRouter Senilai Lebih dari US$7 Miliar