Cekricek.id — Kecerdasan buatan diproyeksikan mengubah lebih dari sepertiga keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja di masa depan. Proyeksi itu disampaikan seorang pakar pendidikan dari Tsinghua University, yang menilai sistem pendidikan saat ini masih terjebak pada pola pembelajaran seragam warisan era Revolusi Industri.
Dikutip dari laman resmi Universitas Negeri Jakarta, unj.ac.id, Senin (17/8/2026), pandangan itu disampaikan Prof. Zhang Yu dari Tsinghua University dalam Seminar dan Lokakarya Guru dan Pendidikan Guru Indonesia bertajuk “Menata Ulang Pendidikan Guru di Indonesia”, yang digelar UNJ di Ballroom Lantai 8 Hotel Naraya UTC UNJ, Jakarta, Sabtu (15/8/2026), dan dihadiri kalangan guru serta pendidik calon guru dari berbagai wilayah Indonesia.
Lebih dari Sepertiga Keterampilan Kerja Bakal Berubah
Dalam presentasi bertajuk “Openness and Persistence: Future Education in The Age of AI”, Zhang memaparkan bahwa lebih dari 39 persen keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja akan berubah akibat perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Angka itu, menurutnya, menjadi alasan mendesak bagi sistem pendidikan untuk berhenti hanya mencetak lulusan yang piawai menghafal pengetahuan faktual, sebab pengetahuan semacam itu kini bisa dihasilkan mesin dalam hitungan detik.
Menurut Zhang, sistem pendidikan formal yang berjalan selama kurang lebih satu abad terakhir masih mengikuti pola standar yang dirancang untuk kebutuhan tenaga kerja era industri, bukan era otomatisasi dan AI generatif seperti sekarang. Pendidikan ke depan, katanya, harus lebih menitikberatkan pada kemampuan berpikir kritis, imajinasi, kreativitas, dan kemampuan metakognitif peserta didik, bukan sekadar kemampuan mengingat dan mengulang informasi.
“Pengetahuan harus divalidasi oleh manusia, bukan oleh mesin,” tegas Zhang.
Guru Tetap Jadi Penentu, Bukan Sekadar Pendamping Mesin
Untuk menjawab tantangan itu, tim Zhang di Tsinghua University mengembangkan platform bernama Multi-Agent Interactive Classroom, yang memanfaatkan sejumlah agen AI untuk mendukung pembelajaran yang dipersonalisasi bagi tiap siswa. Setiap agen dirancang membantu aspek berbeda dalam proses belajar, namun posisi guru tetap dipertahankan sebagai pengambil keputusan akhir, sebuah pendekatan yang disebutnya human-in-the-loop, alih-alih membiarkan mesin sepenuhnya mengambil alih kelas.
Uji coba platform tersebut telah dilakukan pada sekitar 200 mahasiswa di Beijing, dengan hasil yang menurut Zhang menunjukkan capaian belajar yang efektif. Namun ia menegaskan, keberhasilan penerapan AI dalam pendidikan tidak boleh diukur semata dari peningkatan skor atau kinerja siswa dalam ujian maupun tugas.
Zhang menyebut peran teknologi semestinya membantu peserta didik belajar secara lebih mendalam, termasuk melatih mereka mengevaluasi informasi dan berani menantang jawaban yang dihasilkan mesin, bukan menerimanya begitu saja sebagai kebenaran mutlak.
Pandangan itu disampaikan di hadapan peserta yang sebagian besar berasal dari kalangan guru dan pendidik calon guru se-Indonesia, dalam forum yang secara khusus membahas arah baru penyiapan tenaga pendidik di Tanah Air. Zhang menutup paparannya dengan menegaskan bahwa kehadiran AI seharusnya mengembalikan pendidikan pada esensinya, yakni membentuk manusia yang berpikir, berkarakter, dan peduli sosial, dengan teknologi ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia di ruang kelas.
Forum bertajuk penataan ulang pendidikan guru itu sejalan dengan pertanyaan yang kini banyak diajukan lembaga pendidikan tenaga kependidikan di Indonesia, yakni bagaimana menyiapkan calon guru yang siap mengajar di kelas yang muridnya sudah terbiasa memakai chatbot dan berbagai alat AI generatif lain jauh sebelum masuk bangku kuliah. Paparan Zhang menjadi salah satu rujukan bagi peserta untuk memikirkan ulang materi dan metode pelatihan calon guru, alih-alih menunggu perubahan itu lebih dulu terjadi di ruang kelas.














