Perang Ekonomi AS ke Iran Uji Gencatan Dagang China

Deretan tangki penyimpanan minyak mentah dalam laporan tentang ancaman sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran.

Kompleks tangki penyimpanan minyak mentah. [Foto: Al Jazeera]

Cekricek.id — Ancaman Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan apa yang mereka sebut “D-Day ekonomi” terhadap Iran menempatkan Presiden Donald Trump pada pilihan sulit, yakni menekan China sebagai pembeli utama minyak Teheran atau membiarkan sanksi itu bocor demi menjaga gencatan dagang yang baru dirajut dengan Beijing, menurut laporan Al Jazeera, Senin (24/08/2026).

Paket sanksi terbaru yang disiapkan Washington disebut sebagai yang paling keras yang pernah diarahkan ke Republik Islam tersebut. Namun, efektivitasnya bergantung pada satu variabel yang selama ini dihindari Gedung Putih, yakni perusahaan, pelabuhan, dan bank di China yang menjadi pintu utama penjualan minyak Iran ke pasar dunia.

Bessent Janji Kerahkan Semua Kewenangan

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan pemerintahannya telah menyiapkan perangkat hukum dan kelembagaan untuk menekan perekonomian Teheran sampai titik terendah. Ia menyebut langkah itu tidak akan berhenti pada daftar hitam yang selama ini dipakai.

“Presiden telah menciptakan kondisi untuk memanfaatkan setiap lembaga, setiap kewenangan, dan tindakan yang banyak orang kira tidak akan pernah kami kerahkan,” kata Bessent.

Bessent juga memperingatkan negara-negara yang masih mempertimbangkan hubungan dagang dengan Iran agar tidak meremehkan ongkos dari menguji kesabaran Washington. Peringatan itu dibaca banyak analis sebagai pesan yang ditujukan langsung kepada Beijing.

Baca juga AS Janjikan Sanksi Terberat ke Iran, China Diminta Ikut

China Serap Sekitar 90 Persen Minyak Iran

Data perdagangan menunjukkan nilai perdagangan dua arah China-Iran sepanjang 2025 mencapai US$9,96 miliar. Angka itu belum menghitung pengapalan minyak mentah Iran ke China yang ditaksir bernilai sekitar US$31,2 miliar dalam periode yang sama.

Pembelian dari pihak China mencakup kira-kira 90 persen dari seluruh penjualan minyak Iran. Dengan komposisi tersebut, sanksi yang tidak menyentuh pembeli China dinilai hanya akan menggigit sebagian kecil pemasukan devisa Teheran, sementara aliran minyak ke Asia tetap berjalan.

Analis Ragu Washington Berani Menekan Beijing

Managing Principal Obsidian Risk Advisors Brett Erickson menilai keputusan menyeret China ke dalam pusaran sanksi akan menjadi penanda seberapa jauh Washington bersedia melangkah dan seberapa lama tekanan itu hendak dipelihara.

“Itu bukan hubungan yang dirusak dengan enteng. Kalau Amerika Serikat benar-benar memutuskan menyeret China ke dalam ring, itu akan menjadi indikasi serius bahwa Amerika Serikat berencana mengobarkan perang ekonomi ini untuk jangka panjang,” ujar Erickson.

Baca juga Iran Peringatkan Negara Tetangga soal Sanksi AS

Peneliti senior lembaga kajian Defense Priorities Jennifer Kavanagh berpendapat langkah tersebut justru tidak akan diambil karena Beijing memiliki kapasitas membalas yang besar terhadap perekonomian Amerika Serikat.

“Memutus hubungan ekonomi China akan menjadi kunci keberhasilan setiap upaya menaikkan tekanan terhadap Iran. Namun, Amerika Serikat tidak akan melakukannya,” kata Kavanagh.

Beijing Tegaskan Garis Merah Tak Boleh Dilanggar

Dari Beijing, Dekan Chongyang Institute for Financial Studies Wang Wen menegaskan bahwa pemerintahnya tidak mencari pertikaian baru dengan Washington, tetapi punya batas yang tidak bisa ditawar.

“China tetap berkeinginan menghindari konflik, tetapi garis merahnya tidak boleh dilanggar,” kata Wang Wen.

Wakil Sekretaris Jenderal Center for China and Globalization Zichen Wang memperkirakan kedua pemerintah akan berusaha membatasi dampak perselisihan soal Iran agar tidak merembet ke seluruh hubungan bilateral.

Baca juga Kanada Balas Tarif 50 Persen AS, Negosiasi Disetop

“Kecuali langkah-langkah AS menjadi sangat luas atau langsung menyasar kepentingan besar China, kedua pihak kemungkinan akan berusaha menjaga agar perselisihan ini tidak menenggelamkan agenda yang lebih luas,” ujar Zichen Wang.

Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping pada 24 September 2026. Pertemuan itu menjadi yang kedua antara kedua kepala negara dan disiapkan untuk menstabilkan hubungan dua ekonomi terbesar dunia setelah rangkaian tarif saling balas sepanjang tahun ini.

Kalender itulah yang membuat perhitungan Gedung Putih menjadi rumit. Sanksi yang benar-benar menutup jalur pembayaran dan pengapalan lewat China berpotensi menggagalkan pertemuan tersebut, sedangkan sanksi yang menghindari Beijing berisiko dibaca Teheran sebagai ancaman yang tidak sungguh-sungguh.

Baca Juga

Sejumlah kapal dan awaknya dalam latihan multinasional Panamax 2026 yang disponsori SOUTHCOM.
Serangan AS ke Kapal Narkoba di Pasifik Timur, 2 Tewas
Sejumlah orang yang dideportasi dari Amerika Serikat tiba di Liberia
AS Deportasi ke Liberia, Nasib Migran Tak Pasti
Seorang pria membaca surat kabar Hamshahri yang memuat foto Presiden Donald Trump
Iran Peringatkan Negara Tetangga soal Sanksi AS
Gubernur Sinaloa Kembali Menjabat Meski Didakwa AS
Gubernur Sinaloa Kembali Menjabat Meski Didakwa AS
TikTok Bayar 400 Juta Dolar Selesaikan Kasus Privasi Anak
TikTok Bayar 400 Juta Dolar Selesaikan Kasus Privasi Anak
AS Terbitkan Aturan Surat Suara Pos Meski Diblokir Hakim
AS Terbitkan Aturan Surat Suara Pos Meski Diblokir Hakim