Cekricek.id — Rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan di kawasan panas bumi Olkaria, Kenya, memicu kekhawatiran warga di sekitar Danau Naivasha soal ketersediaan air. Proyek yang digagas raksasa teknologi Microsoft bersama perusahaan kecerdasan buatan asal Uni Emirat Arab, G42, itu tersendat sejak Mei 2026 karena persoalan kapasitas listrik.
Kekhawatiran warga tersebut terangkum dalam laporan Al Jazeera, Senin (24/08/2026), yang dihimpun langsung dari Naivasha, kota di Lembah Rift, Kenya. Danau Naivasha merupakan danau air tawar yang menopang pertanian, pariwisata, peternakan, dan kebutuhan rumah tangga warga di sekelilingnya.
Investasi US$1 Miliar yang Masih di Meja Gambar
Microsoft dan G42 mengumumkan paket investasi digital senilai US$1 miliar untuk Kenya pada 2024. Salah satu isinya adalah pusat data berskala besar di Olkaria yang dirancang berjalan dengan tenaga panas bumi dan berpotensi dikembangkan hingga berkapasitas 1 gigawatt.
Pusat data berskala besar membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan perangkat servernya. Microsoft dan G42 menyatakan fasilitas di Olkaria akan memakai teknologi konservasi air, namun keduanya tidak memerinci berapa banyak air yang akan dikonsumsi proyek tersebut.
Sampai kini proyek itu belum juga berdiri. Perusahaan listrik negara Kenya, Kenya Electricity Generating Company (KenGen), menyatakan fasilitas tersebut masih berada pada tahap desain dan belum dapat dijelaskan lebih jauh sebelum proyek benar-benar berjalan.
Baca juga Investor Pemula Korsel Rugi Besar Gara-Gara Saham AI
Al Jazeera menyebut pihaknya tidak memperoleh tanggapan dari otoritas sumber daya air maupun badan pengelola lingkungan hidup Kenya, juga dari Microsoft, G42, dan pejabat pemerintah, mengenai status proyek serta kebutuhan airnya.
Warga Bergantung pada Penjual Air Keliling
Di lapangan, sebagian warga sudah kehilangan pasokan air perpipaan yang dapat diandalkan dan kini bergantung pada penjual air keliling untuk kebutuhan sehari-hari.
“Saat ini kami bergantung pada penjual air untuk mendapatkan air, ternak kami berjalan berkilo-kilometer, dan kami khawatir keadaan bisa memburuk seiring naiknya permintaan air,” kata Musa Olorkedienye, warga Naivasha.
Kekhawatiran serupa disampaikan Isaac Leshishi, peternak yang menggembalakan ternaknya di kawasan tersebut.
“Kami kini bersaing dengan perusahaan bernilai miliaran dolar untuk mendapatkan air, dan kami khawatir dalam jangka panjang kamilah yang akan kalah,” ujar Leshishi.
Baca juga Longsor TPA Guinea Tewaskan 30 Orang
Bayang-Bayang Danau yang Nyaris Mengering
Danau Naivasha pernah nyaris mengering pada 2010 akibat pengambilan air yang berlebihan. Pengalaman itulah yang membuat kelompok pemerhati lingkungan setempat waspada terhadap masuknya industri baru dengan kebutuhan air besar.
“Danau ini pada 2010 nyaris mengering akibat pengambilan air berlebihan, dan hal itu bisa terulang karena tingginya permintaan air oleh para investor di Olkaria,” kata Silas Wanjala dari Asosiasi Riparian Danau Naivasha.
“Rencana pusat data Microsoft-G42 di Olkaria bisa membawa lapangan kerja dan investasi, tetapi kebutuhan airnya menimbulkan kekhawatiran soal tambahan tekanan terhadap kebutuhan yang sudah saling bersaing, terutama pada musim kering,” kata Grace Kimani, ketua patroli unit pengelolaan pesisir Danau Naivasha dan Oloiden.
Kajian lingkungan KenGen mencatat pengambilan air dari Danau Naivasha mencapai 195.165 meter kubik pada Juli 2023 untuk operasi Olkaria dan Eburru. Sebanyak 153.918 meter kubik di antaranya dipakai untuk operasi komersial Olkaria. Angka itu masih berada dalam batas izin dan hanya mencakup operasi KenGen yang sudah berjalan, bukan pusat data yang direncanakan.
Baca juga Jelaga Addis Ababa 9 Kali Lebih Pekat dari Kota AS
Kenya Sudah Tergolong Negara Langka Air
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan ketersediaan air di Kenya hanya sekitar 527 meter kubik per orang per tahun, jauh di bawah ambang kelangkaan air sebesar 1.000 meter kubik. Angka itu diproyeksikan turun menjadi 475 meter kubik per orang pada 2030.
“Meski kami menyambut para investor, ketakutan terbesar kami adalah apa yang terjadi pada badan air dan masyarakat kami ketika air dialihkan ke Olkaria,” kata Absolom Mukhuusi dari Asosiasi Profesional Naivasha.
Di sisi lain, ahli geologi Kenyatta Otieno menilai rancangan pusat data yang sejak awal memperhitungkan konservasi air justru bisa menjadi contoh bagi kawasan tersebut.
“Pusat data yang dibangun dengan mempertimbangkan konservasi air akan menjadi langkah futuristik karena Naivasha umumnya wilayah yang langka air,” kata Otieno.
















