Aleksandar Vucic Mundur dari Kursi Presiden Serbia

A A

Presiden Serbia Aleksandar Vucic menyapa warga di luar Kantor Kepresidenan Serbia sesaat sebelum menyerahkan pengunduran dirinya di Beograd, 27 September 2026. [Foto: Djordje Kojadinovic/Reuters]

  • Aleksandar Vucic mundur dari kursi presiden untuk mengincar jabatan perdana menteri dalam pemilu 25 Oktober.
  • Ketua Parlemen Ana Brnabic menjadi pelaksana tugas presiden sampai pemilihan presiden digelar.
  • Protes mahasiswa dipicu runtuhnya kanopi stasiun Novi Sad yang menewaskan 16 orang pada November 2024.
  • Gerakan mahasiswa maju lewat daftar Students Win berisi 250 calon.

Cekricek.id — Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengundurkan diri pada Minggu untuk mengincar jabatan perdana menteri dalam pemilu parlemen dipercepat pada 25 Oktober, di tengah gerakan mahasiswa yang menjadi tantangan paling serius atas kekuasaannya dalam lebih dari satu dekade.

Vucic, yang maju lewat daftar Partai Progresif Serbia (SNS), mendominasi politik Serbia sebagai presiden atau perdana menteri sejak 2014, menurut laporan Al Jazeera, Minggu (27/9/2026). Karena terhalang maju untuk masa jabatan presiden ketiga, ia kini berupaya memperpanjang kekuasaannya melalui pemilu parlemen.

Ketua Parlemen Ana Brnabic, sekutu dekat Vucic, akan menjabat pelaksana tugas presiden sampai pemilihan presiden digelar. Vucic menyebut salah satu tindakan terakhirnya di kantor adalah memberi grasi kepada 49 orang, termasuk 23 orang yang dihukum terkait unjuk rasa.

Protes Mahasiswa Paksa Pemilu Dipercepat

Pemilu ini digelar setelah hampir dua tahun demonstrasi yang dipicu tewasnya 16 orang ketika kanopi beton runtuh di stasiun kereta Novi Sad pada 1 November 2024. Mahasiswa sejak itu menggelar sejumlah demonstrasi terbesar di Serbia dalam beberapa dekade, dengan ratusan ribu orang turun ke jalan. Pengunjuk rasa menuding pemerintah korup, tidak transparan, dan mencampuri lembaga negara, tuduhan yang ditolak Vucic dan sekutunya.

Gerakan mahasiswa ikut pemilu dengan bendera “Students Win” dan didukung sejumlah partai oposisi, termasuk Partai Demokrat. Daftar 250 calonnya sebagian besar berisi dosen dan profesional, dengan program penyelidikan harta yang diduga diperoleh secara tidak sah, pemberantasan korupsi, dan transparansi penggunaan dana publik.

Editor dan kolumnis asal Beograd, Dejan Ilic, menilai Vucic tidak layak dipuji karena memilih pemilu dipercepat. “Vucic bukan satu-satunya aktor di negara ini. Rakyat menyatakan bahwa Serbia dalam keadaan buruk, mereka menuntut pemilu dan mereka memaksakan pemilu,” kata Ilic.

Mantan anggota parlemen Serbia dan aktivis hak asasi manusia Aida Corovic khawatir krisis justru baru dimulai sesudah pemungutan suara. “Saya khawatir krisis di Serbia baru akan dimulai setelah pemilu 25 Oktober. Pemerintah ini telah mengambil alih lembaga-lembaga, sangat terjalin dengan kejahatan terorganisasi, dan akan mencoba segala cara untuk tetap berkuasa,” ujarnya. Beberapa jam sebelum mundur, Vucic mengatakan kepada CNN bahwa bila oposisi menang, ia akan mengakui hasilnya dan memberi selamat kepada lawan-lawannya pada malam itu juga.

Pemilu Serbia Diawasi Kawasan Balkan Barat

Kepala kantor Friedrich Ebert Foundation di Banja Luka, Bosnia dan Herzegovina, Tanja Topic, mengatakan perubahan arah politik Serbia dapat meredakan ketegangan di kawasan. “Sangat penting paradigma politik Serbia berubah karena itu akan membawa kelegaan bagi seluruh kawasan,” kata Topic. “Kita tidak boleh mengharapkan keajaiban dalam semalam.”

Dengan penduduk sekitar enam juta jiwa, Serbia merupakan negara terbesar di Balkan Barat. Menurut statistik resmi, rata-rata gaji bersih bulanan di Serbia pada April sebesar 1.032 euro, dibanding 1.555 euro di Kroasia yang bertetangga.

Awal September, mantan komandan tentara Serbia Bosnia Ratko Mladic, yang divonis pengadilan internasional atas genosida dan kejahatan perang, dimakamkan di Beograd. Pemakaman yang dihadiri sejumlah menteri Serbia dan disertai penghormatan militer itu menuai kritik internasional.

Bagikan

Baca Juga

Kuba Sebut Aksi Militer AS Akan Jadi Kejahatan Internasional
Israel Cabut Status Diplomat Belanda di Ramallah Usai Sanksi
Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur