- Orang yang lama memakai earphone dua kali lebih berpeluang kehilangan pendengaran.
- Pada volume tinggi, di atas 75 persen atau di atas 85 desibel, peluangnya melonjak menjadi 9,87 kali.
- Tiga penelitian dengan 2.884 pemakai dan 704 bukan pemakai mencatat 0,88 kali.
- Sebanyak 25 dari 60, atau 41,7 persen, tidak menemukan kaitan yang bermakna.
Daftar Isi
Orang yang lama memakai earphone dua kali lebih berpeluang kehilangan pendengaran. Tepatnya 2,26 kali dibanding mereka yang tidak memakai atau jarang memakai. Angka itu lahir dari tinjauan atas 60 penelitian di 20 negara dengan 67.404 peserta.
Tinjauan tersebut ditulis Pouya Golshaniniya, Maryam PorkarKhatibi, Asghar Jafari Rouhi, Yalda Jabbari Moghaddam, Samin Zabet, Hanieh Salehi-Pourmehr, dan Kavous Shahsavarinia. Judulnya Prolonged use of personal listening devices and hearing loss: a systematic review and meta-analysis. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026.
Perangkat yang dimaksud adalah pemutar MP3, ponsel, tablet, dan laptop yang didengarkan lewat earphone, headphone, atau earbud. Para peneliti menyebutnya perangkat dengar pribadi. Pemakaiannya meningkat di kalangan dewasa muda, untuk belajar maupun hiburan, terutama selama pandemi COVID-19.
Yang dihitung bukan keluhan, melainkan hasil tes pendengaran. Hampir semua penelitian, 58 dari 60, memakai audiometri nada murni. Itu tes baku untuk menentukan apakah pendengaran seseorang normal atau terganggu, dan paling sering dipakai di klinik.
Kekhawatiran di baliknya besar. Naskah itu mencatat sekitar 1,5 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan dengar, dan Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan jumlahnya menjadi 2,5 miliar pada 2050. Kerusakan akibat bising disebut sebagai penyebab yang paling bisa dicegah, tetapi tidak bisa pulih.
Dua Kali Lipat
Angka utama berasal dari 12 penelitian yang datanya cukup untuk digabung, dari 60 yang ditinjau. Peluang gangguan dengar pada pemakai lama tercatat 2,26 kali dibanding bukan pemakai atau pemakai minimal. Rentang ketidakpastiannya 1,19 sampai 4,30, jadi angka sebenarnya bisa sedikit di atas satu atau lebih dari empat.
Hasil tiap penelitian jauh berbeda. Yang terendah mencatat peluang 0,34 kali, yang tertinggi 17,61 kali. Sekitar 72 persen keragaman itu, menurut para peneliti, berasal dari perbedaan nyata antarpenelitian, bukan dari kebetulan sampel.
Gangguan paling sering muncul pada nada tinggi, 4 sampai 8 kilohertz. Di rentang itu, 19,4 persen pemakai tercatat mengalami penurunan pendengaran, kira-kira satu dari lima orang. Perkiraan antarpenelitian sangat lebar, dari 1,6 sampai 69,2 persen.
Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah
Volume dan Lama Pakai
Kerasnya suara memberi beda paling tajam. Pada pemakai bervolume rendah, di bawah 60 persen dari maksimum atau di bawah 75 desibel, peluangnya 0,81 kali. Angka itu tidak bermakna secara statistik, dengan rentang 0,33 sampai 1,94.
Volume sedang, 60 sampai 75 persen dari maksimum, mencatat 1,70 kali. Itu pun belum lolos uji statistik, dengan rentang 0,78 sampai 3,71. Pada volume tinggi, di atas 75 persen atau di atas 85 desibel, peluangnya melonjak menjadi 9,87 kali.
Kelompok volume tinggi juga yang paling seragam. Rentang ketidakpastiannya 5,02 sampai 19,41, dan hasil antarpenelitian nyaris tidak berbeda. Para peneliti menyebut volume sebagai sumber penting keragaman hasil di antara penelitian yang mereka gabung.
Mereka menjelaskan cara kerjanya dari riset terdahulu. Suara di atas 85 desibel dalam waktu lama membebani sel rambut luar di koklea sampai sel itu mati. Bagian pangkal koklea, penerima nada tinggi 4 sampai 8 kilohertz, disebut paling rentan.
Durasi menunjukkan arah yang sama, tetapi lebih lemah. Pemakai singkat, kurang dari 1,5 jam sehari atau kurang dari lima tahun, mencatat peluang 0,84 kali. Angka itu tidak bermakna, sama seperti pada kelompok volume rendah.
Pemakai sedang, 1,5 sampai 3 jam sehari atau 5 sampai 10 tahun, mencatat 3,20 kali. Pemakai lama, lebih dari 3 jam sehari atau lebih dari 10 tahun, mencatat 4,55 kali. Hanya kelompok terakhir yang lolos uji statistik, itu pun dengan rentang lebar, 1,13 sampai 18,28.
Beda antara ketiga kelompok durasi itu sendiri tidak bermakna secara statistik. Nilai ujinya 0,07, sedikit di atas batas. Para peneliti hanya menyebut ada tangga angka yang tampak dari kelompok ke kelompok.
Kerusakan yang Tersembunyi
Tes baku bisa melewatkan kerusakan awal. Dua belas penelitian mengukur nada sangat tinggi, 9 sampai 20 kilohertz. Semuanya menemukan pendengaran pemakai lebih buruk pada 10 sampai 16 kilohertz, padahal hasil tes biasa mereka normal.
Emisi otoakustik, ukuran lain kesehatan koklea, memberi sinyal serupa. Sepuluh dari sebelas penelitian mencatat amplitudonya turun pada pemakai. Perubahan itu, menurut naskah, muncul sebelum ambang dengar pada tes baku bergeser.
Telinga berdenging ikut dicatat. Delapan penelitian melaporkan tinitus pada 9,8 sampai 35 persen pemakai. Satu penelitian mendapati denging pada peserta yang hasil tes bakunya normal, sehingga para peneliti menyebutnya tanda peringatan dini kerusakan koklea.
Dewasa dan Remaja
Kaitan itu terutama terlihat pada orang dewasa. Delapan penelitian dengan 1.324 pemakai dan 577 bukan pemakai mencatat peluang 2,43 kali. Rentangnya 1,21 sampai 4,87, dan angka itu bermakna secara statistik.
Pada anak dan remaja di bawah 18 tahun, hasilnya lain. Tiga penelitian dengan 2.884 pemakai dan 704 bukan pemakai mencatat 0,88 kali. Angka itu tidak bermakna dan, kata para peneliti, tidak presisi.
Mereka menolak membacanya sebagai kabar aman. “Temuan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa pemakaian perangkat dengar pribadi aman bagi kaum muda,” tulis Hanieh Salehi-Pourmehr, peneliti Research Center for Evidence-based Medicine di Tabriz University of Medical Sciences, bersama enam rekannya. Naskah aslinya berbahasa Inggris.
Dugaan mereka, paparan anak belum cukup lama dan penelitiannya terlalu sedikit. Penelitian pada anak juga lebih sering memakai batas gangguan dengar yang lebih ketat. Anak pemakai pun bisa berbeda dari bukan pemakai dalam status sosial ekonomi dan perilaku kesehatan.
Remaja justru disebut kelompok yang perlu diwaspadai. Satu penelitian yang dikutip mencatat 44,2 persen remaja mendengarkan dengan volume tinggi. Dua penelitian lain mencatat 94,3 dan 97,1 persen remaja memakai perangkat semacam itu.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Earphone atau Headphone
Soal jenis alat, datanya tipis. Tiga penelitian tentang earphone dan earbud menghasilkan peluang 9,09 kali, tetapi rentangnya 0,44 sampai 188,65. Satu penelitian berangka sangat ekstrem, 383,87 kali, menguasai hitungan itu.
Setelah penelitian itu dikeluarkan, angkanya menjadi 2,60 kali dan bermakna. Untuk headphone hanya ada satu penelitian kecil dengan 70 orang, hasilnya 4,04 kali. Para peneliti menyebut angka headphone itu belum bisa digeneralisasi.
Ada alasan akustik untuk mencurigai earphone. Alat yang masuk ke liang telinga melewati penyaringan alami telinga luar dan mengantar tekanan suara lebih tinggi ke gendang telinga. Satu pengukuran yang dikutip mencatat suara earbud 5,55 desibel lebih keras daripada headphone pada setelan volume yang sama.
Lingkungan bising memperberat. Satu penelitian menemukan risiko 4,5 kali pada remaja yang memakai earphone di tempat bising. Pada penelitian lain, gangguan dengar jauh lebih jarang pada pemakai earphone peredam bising, 13,33 persen berbanding 86,67 persen.
Penelitian yang Menyangkal
Tidak semua penelitian sepakat. Sebanyak 25 dari 60, atau 41,7 persen, tidak menemukan kaitan yang bermakna. Penelitian jenis ini umumnya lebih besar, dengan nilai tengah 282 peserta berbanding 132 pada penelitian yang menemukan kaitan.
Mereka juga lebih teliti. Sebanyak 76 persen memperhitungkan faktor lain seperti usia dan bising di tempat kerja, berbanding 32 persen pada penelitian yang menemukan kaitan. Salah satunya menganalisis lebih dari 12.000 orang dan tidak menemukan kaitan dengan lama pakai.
Para peneliti menarik dua kemungkinan. Risiko itu nyata, tetapi terkumpul pada mereka yang mendengarkan keras dan lama. Sebagian kaitan pada penelitian kecil mungkin lahir dari sumber bising yang tidak diukur, seperti konser, senjata api, atau perkakas listrik.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Batas Bukti
Keterbatasan terbesar diakui sendiri oleh para peneliti. Sebanyak 88 persen penelitian hanya memotret satu waktu, sehingga tidak bisa membuktikan sebab dan akibat. Mereka menilai kepastian buktinya rendah karena risiko bias dan hasil yang tidak seragam.
Lama dan kerasnya pemakaian umumnya dilaporkan sendiri oleh peserta. Hanya lima penelitian mengukurnya dengan alat, sehingga ingatan peserta bisa meleset. Dengan cara hitung yang lebih hati-hati, angka utama menjadi 2,31 kali dengan rentang 0,89 sampai 5,97, tidak lagi bermakna.
Saran mereka pun berhati-hati. Temuan itu disebut sejalan dengan aturan 60/60: volume paling tinggi 60 persen, paling lama 60 menit sehari. Mereka juga menyarankan peredam bising di tempat ramai dan pemeriksaan pendengaran berkala bagi yang memakai perangkat setiap hari lebih dari dua tahun.
Angka yang Berselisih
Beberapa angka dalam naskah layak dicocokkan pembaca. Jumlah penelitian yang tidak menemukan kaitan ditulis 22 atau 36,7 persen di satu bagian. Di bagian lain tertulis 25 atau 41,7 persen, tanpa penjelasan atas selisih tiga penelitian itu.
Penelitian terbesar disebut berisi 38.721 peserta. Penelitian yang sama kemudian ditulis dengan 12.115 peserta, dan nama penelitinya dieja dengan dua cara. Persentase peserta perempuan dan laki-laki, 52,19 dan 46,81, juga hanya berjumlah 99 persen.
Simpulan naskah menyebut tangga yang jelas untuk durasi maupun volume, padahal uji beda antarkelompok durasi tidak bermakna. Naskah juga menyebut datanya mendukung aturan 60/60. Sementara itu, volume 60 sampai 75 persen belum menunjukkan kaitan yang bermakna.
Angka 2,26 itu, dengan begitu, bukan vonis untuk setiap pemakai earphone. Ia paling tegas pada satu kelompok, yaitu mereka yang menyetel volume di atas tiga perempat.















