Guru Besar IPB: Ayam Lebih Dekat dengan T-Rex daripada Sapi

A A

Ilustrasi induk ayam mengeram di sarang jerami. [Foto: Cleur Monie / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Ayam mewarisi telur amniotik dari reptil sekitar 320 juta tahun lalu
  • Suhu tubuh ayam 41–42 °C terlalu panas untuk embrio di dalam tubuh
  • Seleksi membuat ayam modern bertelur 300 butir per tahun, ayam hutan 12 butir

Cekricek.id — Mengapa ayam bertelur dan tidak beranak seperti sapi atau kucing? Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menyebut jawabannya terletak pada sejarah evolusi, strategi bertahan hidup, dan adaptasi unggas. “Meski tampak sederhana, jawabannya terkait sejarah evolusi ayam, strategi bertahan, dan adaptasi unik serta menakjubkan,” ujarnya, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis IPB University, Selasa (20/10/2026).

Ronny menjelaskan, nenek moyang burung memilih jalur evolusi berbeda sekitar 320 juta tahun lalu, ketika reptil mengembangkan telur amniotik bercangkang keras lengkap dengan kuning telur, putih telur, dan kantung ketuban. Inovasi itu memungkinkan embrio berkembang di darat tanpa air, dan diwarisi burung, termasuk ayam.

Baca juga: Ampela Ayam Bergizi, tetapi Kolesterolnya 370 mg per 100 Gram

“Secara genetik, ayam lebih dekat dengan T-Rex daripada sapi. Dari sisi evolusi, ayam adalah reptil bersayap yang mempertahankan sistem kunonya agar dapat bertahan dan beradaptasi, yaitu bertelur. Dengan demikian, telur lebih tua daripada ayam,” kata Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University itu, sekaligus menjawab pertanyaan klasik soal mana yang lebih dulu ada.

Telur sebagai Rahim Portabel

Menurut Ronny, telur berfungsi sebagai rahim portabel. Cangkang dan membran bekerja seperti plasenta, putih telur menjadi bantalan sekaligus cadangan air, kuning telur menjadi sumber makanan, dan amnion berfungsi seperti air ketuban. Pilihan bertelur juga terkait suhu tubuh ayam yang berkisar 41–42 °C. “Suhu ini terlalu panas untuk embrio jika dibesarkan di dalam tubuh ayam. Oleh sebab itu, dengan bertelur, induk ayam dapat mengatur suhu pengeraman telur dengan lebih fleksibel,” jelasnya.

Faktor lain adalah berat tubuh. “Jika ayam beranak, janin membuat tubuh menjadi berat dan mengganggu kemampuannya terbang, sehingga sulit bertahan dari predator di alam bebas,” urainya. Ayam memakai strategi R, yakni berkembang biak cepat dengan banyak keturunan, sementara sapi memakai strategi K dengan sedikit anak tetapi investasi besar untuk membesarkannya.

Baca juga: Guru Besar UGM: Ayam Bebas Sangkar Tak Bebas Penyakit

Manusia juga berperan mengubah jumlah telur ayam melalui seleksi. “Ayam hutan, nenek moyang ayam modern, bertelur 12 butir per tahun karena jumlah ini optimal untuk kelangsungan hidup anaknya. Program seleksi membuat ayam modern bertelur 300 butir per tahun. Meski jumlahnya berbeda drastis, kedua jenis ayam tetap bertelur karena cara paling efisien bertahan di lingkungan tidak menentu dan dari predator,” jelas Ronny.

Ia menegaskan evolusi tidak selalu berujung pada bentuk yang lebih canggih, melainkan yang paling cocok dengan lingkungannya. “Ini bukan keterbatasan, tapi fokus evolusi adalah menghasilkan individu yang mampu bertahan dan beradaptasi di lingkungan, bukan kompetisi mencapai kesempurnaan,” tutupnya.

Baca juga: Tikus dan Curut Beda, Curut Tak Bawa Penyakit seperti Tikus

Bagikan

Baca Juga

Kambing Perah Klaten Kena Gondok, Tim FKH UGM Ambil Sampel Darah
Tikus dan Curut Beda, Curut Tak Bawa Penyakit seperti Tikus
Ampela Ayam Bergizi, tetapi Kolesterolnya 370 mg per 100 Gram
Kehujanan Bikin Flu? Dokter IPB: Penyebabnya Virus, Bukan Hujan
Rektor IPB Alim Setiawan Dilantik Jadi Wakil Menteri Pertanian
Delapan dari 10 Ikan Kali Surabaya Betina, Polutan Jadi Sorotan