- Tim Universitas Andalas melatih KWT dan PKK Nagari Aia Tajun mengolah kangkung menjadi smoothies pada 20 April 2026.
- Skor rata-rata pengetahuan, keterampilan, dan sikap wirausaha naik dari 2,1 ke 4,26 dengan N-Gain 0,74.
- Kangkung dipilih karena tersedia, murah, dan mengandung serat, vitamin A, serta zat besi.
- Paper tidak menyebut jumlah peserta, skala kuesioner, dan tanggal terbitnya mendahului tanggal kegiatan.
Daftar Isi
Rahmi Awalina datang ke Balai KWT Sinar Pagi di Nagari Aia Tajun pada Senin, 20 April 2026, dengan satu bahan yang sangat biasa: kangkung. Bersama enam rekannya dari Universitas Andalas, peneliti Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem itu mengajak ibu-ibu kelompok wanita tani dan PKK setempat mengolah sayur daun yang selama ini dijual segar menjadi smoothies. Hari itu dibuka dengan kuesioner dan ditutup dengan kuesioner lagi.
Kegiatan itu dilaporkan Rahmi Awalina, Wellyalina, Risa Meutia Fiana, Reni Koja, Nika Rahma Yanti, Putri Wulandari Zainal, dan Omil Charmyn Chatib dalam artikel Empowering Women’s Groups through Vegetable-Based Product Diversification Innovations in Aia Tajun Village di Andalasian International Journal of Social and Entrepreneurial Development, volume 6 nomor 1, tahun 2026. Naskahnya berbahasa Inggris, dan ketujuh penulisnya bernaung di tiga departemen Universitas Andalas, Padang.
Aia Tajun terletak di Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Rahmi Awalina dan rekan-rekannya menggambarkan nagari ini kaya potensi sayur, tetapi hasil kebunnya masih dijual dalam bentuk segar. Akibatnya nilai tambah rendah dan harga mudah terguncang pasar. Yang paling merasakan, menurut mereka, adalah perempuan, karena pendapatan rumah tangga dari sayur segar tidak pernah optimal.
Mengukur Dulu Sebelum Mengajar
Sebelum ada satu pun kangkung yang diblender, tim Rahmi Awalina membagikan kuesioner awal kepada semua peserta. Isinya bukan hanya soal pengetahuan dan keterampilan mengolah sayur, tetapi juga pengalaman berusaha, kendala yang pernah dihadapi, dan potensi lokal yang menurut para ibu bisa dikembangkan. Jawaban-jawaban itulah yang dipakai tim untuk menyusun materi pelatihan.
Dari kuesioner itu Wellyalina dan kawan-kawannya menemukan pengetahuan awal peserta rendah. Penyebabnya, kata mereka, bukan sekadar kurang informasi. “Lebih dalam lagi, rendahnya tingkat pengetahuan awal peserta bukan hanya karena kurangnya informasi, tetapi juga karena tidak adanya pengalaman langsung dalam mengolah produk berbahan sayur,” tulis Rahmi Awalina dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Kesenjangan yang ditemukan Rahmi Awalina sederhana bentuknya. Sayurnya ada di kebun, orangnya ada di nagari, tetapi jembatan antara keduanya belum pernah dibangun. Tim menyebut kondisi ini sebagai jarak antara potensi sumber daya lokal dan kapasitas untuk memanfaatkannya. Pelatihan yang menggabungkan teori dan praktik mereka pilih sebagai cara menutup jarak itu.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Kangkung yang Dipilih Tim Rahmi Awalina
Pilihan jatuh ke kangkung setelah tim Rahmi Awalina menimbang tiga hal: kesesuaian dengan potensi lokal, kemudahan produksi, dan kecocokan dengan tren pasar. Kangkung, tulis mereka, unggul dari sisi ketersediaan, keterjangkauan harga, dan kandungan gizi berupa serat, vitamin A, dan zat besi. Bentuk olahannya adalah minuman sehat, smoothies, yang di bagian kesimpulan mereka sebut smoothies kangkung.
Bagi Rahmi Awalina dan rekan-rekannya, smoothies bukan sekadar resep baru. “Mengolah kangkung menjadi smoothies adalah inovasi yang meningkatkan nilai sekaligus mengubah persepsi masyarakat tentang konsumsi sayur, khususnya dalam bentuk yang lebih praktis dan menarik,” tulis mereka. Kalimat itu, seperti seluruh naskahnya, aslinya berbahasa Inggris.
Dari sisi ekonomi, Risa Meutia Fiana dan rekan-rekannya menempatkan smoothies sebagai produk bernilai pasar lebih tinggi daripada sayur segar. Minuman ini juga lentur untuk dikembangkan, baik varian rasa maupun kemasannya, sehingga berpeluang menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Untuk gagasan inovasi berbasis sumber daya lokal ini mereka merujuk Scoones, yang menulis tentang sistem pangan adaptif.
Praktik di Balai Sinar Pagi
Sesudah kuesioner, tim Rahmi Awalina membuka sesi penyuluhan lewat diskusi kelompok. Topiknya pentingnya diversifikasi produk, cara menaikkan nilai sayur, dan peluang pasar produk olahan. Para ibu tidak hanya mendengar, tetapi juga bertukar pengalaman. Baru setelah itu Reni Koja dan kawan-kawannya masuk ke demonstrasi dan latihan langsung membuat produk olahan sayur.
Latihan yang dipandu tim Universitas Andalas itu berjalan dari hulu ke hilir: memilih bahan baku, teknik pengolahan, sampai membuat kemasan yang menarik dan higienis. Nika Rahma Yanti dan rekan-rekannya juga menyisipkan dasar strategi pemasaran dan cara menetapkan harga. Peserta terlibat di setiap tahap produksi, dan menurut tim itulah yang membuat pengetahuan lebih mudah dipahami dan diingat.
Untuk pendekatan belajar lewat pengalaman ini, Rahmi Awalina dan rekan-rekannya merujuk Mohammed dan kawan-kawan, yang menemukan pendekatan serupa berdampak besar pada kapasitas ekonomi produktif, terutama di kelompok berlatar pendidikan terbatas. Mereka juga mengutip Quisumbing dan kawan-kawan tentang perlunya akses ke pengetahuan praktis dan teknologi terapan bagi perempuan di sektor pertanian.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Dari 2,1 Menjadi 4,26
Kuesioner akhir memberi tim Rahmi Awalina angka yang mereka jadikan bukti utama. Skor rata-rata peserta untuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap kewirausahaan naik dari 2,1 sebelum pelatihan menjadi 4,26 sesudahnya. Selisih itu diterjemahkan ke N-Gain sebesar 0,74, yang menurut mereka masuk kategori tinggi. Hasil pre-test dan post-test ini dianalisis secara deskriptif.
Yang ditekankan Putri Wulandari Zainal dan rekan-rekannya bukan hanya angkanya, melainkan pergeseran sikap di baliknya. “Selanjutnya, peningkatan signifikan pada sikap kewirausahaan menunjukkan pergeseran pola pikir peserta dari sekadar konsumen atau produsen bahan mentah menjadi pelaku usaha produktif,” tulis tim ini dalam bahasa Inggris. Minat dan rasa percaya diri berwirausaha disebut ikut naik.
Di luar kuesioner, Omil Charmyn Chatib dan rekan-rekannya mencatat dinamika kelompok selama kegiatan: interaksi, kerja sama, dan solidaritas antaranggota meningkat. Bagi tim, itu modal sosial yang menopang usaha berbasis kelompok. Mereka merujuk Prajuliyanto tentang peran kelompok wanita tani sebagai wadah belajar kolektif, dan Pratiwi dan kawan-kawan tentang posisi perempuan dalam ekonomi rumah tangga.
Yang Belum Selesai Sesudah Pelatihan
Rahmi Awalina dan rekan-rekannya tidak menutup laporan dengan klaim bahwa semua sudah beres. Mereka menyebut tiga tantangan keberlanjutan: akses pasar yang terbatas, konsistensi produksi, dan pengembangan inovasi produk lanjutan. Tanpa dukungan berkelanjutan, kata mereka, smoothies kangkung dari Aia Tajun akan sulit bersaing di pasar yang lebih luas.
Dukungan yang dimaksud tim Rahmi Awalina cukup spesifik. Pemasaran digital, manajemen usaha, dan legalitas produk seperti izin PIRT serta sertifikasi halal disebut sebagai kebutuhan berikutnya. Paper ini menyebut ada pendampingan dan pemantauan sesudah pelatihan, tetapi tidak merinci berapa lama, siapa yang melakukannya, dan apakah smoothies itu sudah benar-benar dijual.
Keterbatasan lain terletak pada rancangan penilaiannya sendiri. Tim Rahmi Awalina hanya mengukur peserta sebelum dan sesudah satu hari kegiatan, dan hasilnya diolah secara deskriptif saja. Angka 4,26 menunjukkan apa yang peserta ketahui dan rasakan sore itu, bukan apakah usaha smoothies benar-benar berjalan di bulan-bulan berikutnya.
Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta
Yang Perlu Diperiksa Pembaca
Ada beberapa hal dalam naskah Rahmi Awalina dan rekan-rekannya yang bisa dicek siapa saja. Pertama, jumlah peserta tidak pernah disebut, padahal angka rata-rata 2,1 dan 4,26 bergantung pada berapa orang yang mengisi kuesioner. Skala kuesionernya, apakah dari lima atau dari angka lain, juga tidak dijelaskan di bagian mana pun.
Kedua, kata “signifikan” dipakai Rahmi Awalina dan rekan-rekannya berulang kali untuk kenaikan skor, sementara bagian metode menyatakan analisisnya deskriptif saja. Ketiga, judul dan abstrak berbicara tentang inovasi-inovasi diversifikasi produk dalam bentuk jamak, tetapi satu-satunya produk yang dibuat adalah smoothies kangkung. Abstrak juga menjanjikan peningkatan pada tiga aspek, namun hanya satu angka gabungan yang dilaporkan.
Keempat, dan ini yang paling mudah diperiksa, halaman jurnal mencantumkan artikel Rahmi Awalina dan rekan-rekannya terbit pada 17 April 2026. Bagian pelaksanaan menyebut kegiatannya berlangsung Senin, 20 April 2026, tiga hari sesudahnya. Nama tempatnya pun berganti-ganti: Nagari Aia Tajun di abstrak, Aia Tajun Village di judul. Hal-hal ini tidak membatalkan angka, tetapi layak ditanyakan.
Yang tersisa dari satu hari di Balai KWT Sinar Pagi adalah gambaran yang dibawa pulang Rahmi Awalina: kangkung yang tadinya dijual segar di Aia Tajun kini pernah diblender, dikemas, dan dihitung harganya oleh ibu-ibu yang menanamnya. Apakah minuman itu sampai ke pasar, naskahnya belum bisa menjawab. Ia baru mencatat bahwa skornya naik, dan bahwa para perempuan itu mengaku lebih percaya diri.















