Pemutih Gigi dari Lemon dan Soda Kue Masih Dipercaya di Istanbul

A A

Pasta gigi dioleskan dari tabung ke bulu sikat gigi bergagang biru kehijauan [Foto: Thegreenj/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Satu dari tiga responden percaya lemon, soda kue, atau cuka bisa membuat gigi lebih putih.
  • Dokter gigi menjadi sumber informasi utama soal pemutihan bagi 58,08 persen responden.
  • Lulusan sekolah dasar paling banyak pernah memakai cara alternatif, yakni 43,48 persen.
  • Pengalaman pernah diputihkan dokter tidak membuat seseorang menilai risiko dengan lebih cermat.
Daftar Isi
  1. Ruang tunggu yang dekat dengan dokter, tetapi tetap menyimpan mitos
  2. Perempuan yang paling mendambakan gigi putih sekaligus paling cemas akan akibatnya
  3. Bangku sekolah menentukan siapa yang benar-benar meraih lemon di dapur
  4. Pasta pemutih dari rak toko mengalahkan resep dapur, meski keraguan tetap tinggal
  5. Dua angka yang tidak bertemu di tabel, lalu kembali ke depan wastafel

Di depan wastafel, sebagian orang pernah mengambil keputusan kecil yang jarang mereka ceritakan kepada dokter gigi. Mereka menaburkan soda kue ke sikat gigi, menggosok gigi dengan garam, memeras lemon, atau mencoba arang aktif, dengan satu harapan yang sama, yakni senyum yang lebih putih. Pengakuan itu muncul dari ruang tunggu sebuah pusat kesehatan gigi kampus di Istanbul, Turki.

Dari 532 orang dewasa yang mengisi kuesioner di Istanbul Kent University, 70 orang mengaku pernah memakai soda kue, 68 orang memakai garam, dan 49 orang memakai lemon. Angka itu dicatat Ezgi Erden Kayalidere, Niki Ansari, dan Burak Ahmet Deveci dalam artikel Public awareness, preferences, and myths regarding tooth whitening: a cross-sectional survey di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Para responden bukan orang asing bagi dunia kedokteran gigi. Mereka pasien pusat pendidikan dan layanan kesehatan gigi milik kampus itu, ditambah kerabat yang mengantar, yang mengisi kuesioner antara Maret dan Mei 2026. Mahasiswa kedokteran gigi dan tenaga kesehatan gigi sengaja tidak diikutkan, supaya yang terekam adalah pengetahuan orang biasa.

Ruang tunggu yang dekat dengan dokter, tetapi tetap menyimpan mitos

Di atas kertas, kelompok ini punya keuntungan. Dokter gigi menjadi sumber informasi utama soal pemutihan bagi 58,08 persen responden. Media sosial menyusul di urutan kedua dengan 36,09 persen, lalu teman dan keluarga 23,31 persen, sedangkan televisi dan koran hanya 7,89 persen. Perempuan lebih sering bertanya kepada dokter gigi, yakni 65,03 persen, dibandingkan laki-laki yang 47,09 persen. Laki-laki lebih sering menyebut televisi dan koran, 12,62 persen berbanding 4,91 persen. Sarjana dan pascasarjana pun lebih sering berpegang pada dokter gigi.

Namun, kedekatan dengan dokter tidak menyapu bersih keyakinan lama. Satu dari tiga responden percaya lemon, soda kue, atau cuka bisa membuat gigi lebih putih. Tepatnya 34,59 persen, atau 184 orang, menjawab ya untuk pertanyaan itu, dan tingkat pendidikan tidak membuat perbedaan bermakna pada keyakinan tersebut.

Keyakinan itu juga tidak berhenti di kepala. Sebanyak 27,82 persen responden, atau 148 orang, mengaku pernah sendiri memakai cara alternatif untuk memutihkan gigi. Ketika ditanya dari mana keyakinan itu datang, media sosial disebut oleh 49,15 persen, hampir sama dengan rekomendasi kenalan atau kerabat yang disebut 48,02 persen.

Penulis membaca pola ini dengan nada waspada. “Tingginya angka salah kaprah yang teramati dalam penelitian ini menunjukkan bahwa akses terhadap informasi profesional saja mungkin tidak cukup untuk menghapus mitos yang terus bertahan seputar pemutihan gigi,” tulis Ezgi Erden Kayalidere, peneliti Departemen Kedokteran Gigi Restoratif Istanbul Kent University, bersama dua rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Perempuan yang paling mendambakan gigi putih sekaligus paling cemas akan akibatnya

Garis paling tajam dalam survei ini memisahkan perempuan dan laki-laki. Sebanyak 73,01 persen perempuan percaya gigi putih menambah rasa percaya diri. Pada laki-laki, angkanya 56,31 persen. Perempuan juga lebih sering percaya bahan dapur bekerja. Sebanyak 38,96 persen perempuan meyakini lemon, soda kue, atau cuka bisa memutihkan gigi, dibandingkan 27,67 persen laki-laki. Sejauh ini, gambarnya tampak sederhana, yakni mereka yang paling menginginkan gigi putih juga paling terbuka pada jalan pintas.

Yang diyakini perempuan dan laki-lakiYang diyakini perempuan dan laki-lakiYang diyakini perempuan dan laki-lakiPersen yang menjawab ya, 326 perempuan dan 206 laki-lakiPerempuanLaki-laki73,0%56,3%Gigi putih, tambahpercaya diri46,0%34,0%Pemutihanmerusak gigi39,0%27,7%Lemon, soda kue,cuka memutihkan12,3%19,9%Hasil pemutihanpermanen81,6%68,0%Warna kusam bisakembaliResponden pasien dan pengantar di pusat gigi Istanbul Kent University.
Sumber: Ezgi Erden Kayalidere, Niki Ansari, dan Burak Ahmet Deveci, Public awareness, preferences, and myths regarding tooth whitening: a cross-sectional survey, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu muncul kejutan. Perempuan yang sama ternyata juga lebih takut pada pemutihan itu sendiri. Sebanyak 46,01 persen perempuan percaya pemutihan merusak gigi, sementara laki-laki 33,98 persen, dan separuh perempuan, tepatnya 50 persen, yakin pemutihan menipiskan email serta membuat gigi lebih mudah berlubang.

Kekhawatiran itu merembet ke pasta gigi. Sebanyak 68,40 persen perempuan menilai pemakaian pasta pemutih dalam jangka panjang merusak email, berbanding 57,77 persen laki-laki. Perempuan juga lebih sering menganggap perawatan pemutihan mahal, 63,80 persen berbanding 50,97 persen, dan lebih sering sadar bahwa warna gigi bisa kusam lagi, 81,60 persen berbanding 67,96 persen.

Penulis menyebut keadaan ini sebagai paradoks antara kesadaran dan perilaku. “Temuan ini mengisyaratkan bahwa partisipan perempuan sekaligus menunjukkan minat yang lebih besar terhadap pemutihan gigi dan kekhawatiran yang lebih besar akan kemungkinan efek sampingnya,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Menurut penulis, kesadaran akan risiko saja belum tentu menghalangi orang melirik cara alternatif.

Laki-laki menyimpan cerita yang lain. Mereka lebih sering memilih jawaban tidak berpendapat pada sejumlah pertanyaan, yang menurut penulis bisa mencerminkan ketidakpastian atau kurang akrabnya mereka dengan informasi pemutihan, bukan beda pengetahuan yang jelas. Laki-laki pula yang lebih sering percaya hasil pemutihan bersifat permanen, 19,90 persen berbanding 12,27 persen pada perempuan.

Ada satu hal yang tidak memisahkan keduanya. Persentase yang benar-benar pernah memakai cara alternatif tidak berbeda bermakna, 29,75 persen pada perempuan dan 24,76 persen pada laki-laki. Pengalaman pemutihan di dokter pun setara, 31,90 persen berbanding 30,58 persen.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Bangku sekolah menentukan siapa yang benar-benar meraih lemon di dapur

Pendidikan menarik garis yang berbeda. Ia hampir tidak mengubah apa yang dipercaya orang soal lemon dan soda kue, tetapi mengubah apa yang mereka lakukan. Lulusan sekolah dasar paling banyak pernah memakai cara alternatif, yakni 43,48 persen. Di ujung lain, responden pascasarjana paling jarang mencobanya, yaitu 12,09 persen. Lemon menjadi contoh paling jelas. Penulis mencatat lulusan pascasarjana jauh lebih jarang memakai lemon untuk memutihkan gigi daripada lulusan sekolah menengah atas. Lulusan SMA juga lebih sering menyebut media sosial sebagai asal keyakinan mereka tentang cara alternatif dibandingkan lulusan universitas.

Soal rasa percaya diri, jaraknya lebar. Sebanyak 76,13 persen pemegang gelar sarjana setuju gigi putih menambah rasa percaya diri, sedangkan di kalangan lulusan sekolah menengah pertama hanya 35,14 persen yang setuju, dan 54,05 persen justru menolak anggapan itu. Tentang daya tahan hasil pemutihan, 76,77 persen lulusan sarjana dan 75,82 persen lulusan pascasarjana menjawab bahwa hasilnya tidak permanen. Di kelompok yang tidak bisa membaca dan menulis, tujuh dari 14 orang, atau separuhnya, percaya warna putih itu akan bertahan selamanya.

Penulis menduga orang berpendidikan tinggi lebih mungkin menimbang informasi dengan kritis sebelum mencoba sesuatu, tetapi mereka mengakui hal itu tidak diukur langsung. Mitos tetap muncul di semua jenjang, sehingga menurut mereka pendidikan formal saja tidak cukup untuk menghapusnya.

Cara yang pernah dipakai memutihkan gigiPasta, gel, bubuk pemutih bebas: Persen responden +41,0%; Pemutihan oleh dokter gigi: Persen responden +30,8%; Soda kue: Persen responden +13,2%; Garam: Persen responden +12,8%; Lemon: Persen responden +9,2%; Ramuan herbal: Persen responden +8,1%; Arang aktif: Persen responden +7,5%; Tidak pernah: Persen responden +22,4%.Cara yang pernah dipakai memutihkan gigiPersen dari 532 responden dewasa di Turki10%20%30%40%50%0Pasta, gel, bubuk pemutih bebas41,0%Pemutihan oleh dokter gigi30,8%Soda kue13,2%Garam12,8%Lemon9,2%Ramuan herbal8,1%Arang aktif7,5%Tidak pernah22,4%Satu orang boleh memilih lebih dari satu cara.
Sumber: Ezgi Erden Kayalidere, Niki Ansari, dan Burak Ahmet Deveci, Public awareness, preferences, and myths regarding tooth whitening: a cross-sectional survey, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pasta pemutih dari rak toko mengalahkan resep dapur, meski keraguan tetap tinggal

Ketika responden ditanya apa yang benar-benar pernah mereka pakai, jawabannya tidak didominasi resep dapur. Pasta, gel, atau bubuk pemutih yang dijual bebas paling banyak dipilih, yakni 40,98 persen, lalu pemutihan oleh dokter gigi 30,83 persen. Cara ini paling umum di semua jenjang pendidikan.

Soda kue, garam, lemon, ramuan herbal seperti kunyit dan minyak kelapa, serta arang aktif tertinggal jauh, masing-masing di bawah 14 persen. Sebanyak 22,37 persen responden mengaku tidak pernah mencoba cara apa pun. Penulis membacanya sebagai tanda orang lebih memilih produk yang terasa mudah didapat dan lebih aman.

Rasa aman itu sendiri rapuh. Hanya 30,64 persen responden yang menilai bahan kimia pemutihan profesional aman, sementara 39,85 persen menilainya tidak aman. Produk pemutih di apotek dan pasar lebih sedikit lagi dipercaya, dengan 27,26 persen menyebutnya aman dan 44,36 persen menyebutnya tidak.

Penulis mengingatkan bahwa banyak bukti menunjukkan pemutihan di bawah pengawasan dokter gigi aman bila dilakukan sesuai protokol klinis. Ngilu dan iritasi gusi bisa muncul, tetapi umumnya ringan dan pulih, tanpa kerusakan permanen pada struktur email. Mayoritas responden, 68,61 persen, juga setuju bahwa pemutihan tanpa pengawasan dokter gigi berisiko.

Benang merah lain muncul ketika jawaban dibandingkan satu sama lain. Mereka yang percaya resep dapur cenderung juga pernah memakainya, dan cenderung menilai produk bebas aman. Mereka yang sadar warna gigi bisa kembali kusam cenderung lebih berhati-hati soal biaya, pasta pemutih jangka panjang, dan pemutihan tanpa dokter. Pengalaman pernah diputihkan dokter tidak membuat seseorang menilai risiko dengan lebih cermat.

Penulis menegaskan bahwa semua kaitan itu lemah dan bersifat penjajakan. Mereka juga mengingatkan bahwa responden datang dari satu pusat kesehatan gigi kampus, sehingga peran dokter gigi sebagai sumber utama mungkin mencerminkan siapa yang ditanya, dan hasilnya tidak bisa disamaratakan ke masyarakat luas tanpa kehati-hatian.

Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi

Dua angka yang tidak bertemu di tabel, lalu kembali ke depan wastafel

Pembaca yang teliti akan menemukan dua hal kecil di tabel. Pertanyaan tentang asal keyakinan pada cara alternatif hanya diajukan kepada yang menjawab ya soal lemon dan soda kue, yaitu 127 perempuan dan 57 laki-laki. Namun, tabel menghitung persentasenya dari 121 perempuan dan 56 laki-laki. Pada pertanyaan tentang warna yang bisa kusam kembali, tabel hanya memuat jawaban ya sebanyak 406 orang dan tidak sebanyak 50 orang. Baris tidak berpendapat untuk 76 orang sisanya tidak tercetak, meski angkanya bisa dihitung dari total 532 responden.

Selebihnya, gambaran dari Istanbul itu cukup terang. Orang-orang yang duduk di ruang tunggu dokter gigi tetap membawa pulang keyakinan dari dapur dan layar ponsel. Di depan wastafel, soda kue dan perasan lemon masih menunggu, berdampingan dengan tabung pasta pemutih yang dibeli dari rak toko.

Bagikan

Baca Juga

Empat Juta Kelambu Dibagikan, Malaria Kinshasa Tak Kunjung Surut
Pelatih Pribadi di Gym China Kini Lebih Sibuk Menjual Kelas
Delapan dari Sepuluh Buruh Garmen Sri Lanka Kepanasan di Pabrik
Separuh Peziarah Arbain Iran Pakai Layanan Kesehatan di Jalan
Perajin Lonceng Tembaga Bhuj Terpapar Debu, Bising, dan Panas
Keran Cuci Tangan Portabel Spatap Diterima Tiga Komunitas Fiji