- Tomat kehilangan rata-rata 34,7 persen dari hasil panen, sayur daun 28,3 persen, dan wortel 19,6 persen.
- Pada puncak panen November sampai Desember 2024, harga tomat di tingkat petani anjlok rata-rata 67,2 persen dibanding luar musim.
- Risiko kurang vitamin A mencapai 62,5 persen pada keluarga susut tinggi, dibanding 31,6 persen pada keluarga susut rendah.
- Umur simpan tomat naik dari 7,2 hari tanpa lapisan menjadi 18,6 hari, atau bertambah 158 persen.
Daftar Isi
Tomat yang rusak sebelum sempat dijual di ladang-ladang Kamonyi, Rwanda, dan piring makan keluarga petani yang jarang berisi sayur tampak seperti dua persoalan yang berbeda. Yang satu terdengar sebagai urusan pasar dan panen, yang lain sebagai urusan gizi di dapur. Sebuah penelitian dari distrik penghasil sayur di Provinsi Selatan Rwanda itu justru menaruh keduanya di satu meja dan mengukur seberapa rapat keduanya berkaitan.
Penelitian itu ditulis Gisubizo Fabien, Dushimimana Olive, Dushimimana Anicet, dan John Atsu Agbolosoo dengan judul Post-harvest losses of perishable vegetables and their contribution to household dietary gaps in Kamonyi District, Rwanda, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulis berasal dari IPB University di Bogor, University of Global Health Equity di Kigali, dan Rwanda Agriculture Board. Mereka mendata 384 petani sayur skala kecil di seluruh 12 sektor Kamonyi antara November 2024 dan Januari 2026.
Tiga sayur menjadi pusat perhatian, yaitu tomat, sayur daun, dan wortel. Menurut naskah, Kamonyi adalah wilayah penghasil sayur utama yang memasok pasar setempat dan ibu kota Kigali. Di sana tomat menjadi tanaman utama, disusul sayur daun dan wortel. Hasilnya dibaca dari dua sisi yang saling bercermin: sisi ladang yang kehilangan hasil panen, dan sisi dapur yang kehilangan ragam makanan.
Susut di Ladang
Angka susutnya besar untuk ketiga sayur. Tomat kehilangan rata-rata 34,7 persen dari hasil panen, sayur daun 28,3 persen, dan wortel 19,6 persen. Perbedaan antarketiga sayur itu dinyatakan bermakna secara statistik. Pada tomat, bagian terbesar hilang sudah di ladang saat panen, yakni 18,4 persen, terutama karena terlalu matang, rusak secara mekanis, dan diserang hama.
Sesudah ladang, susut tomat berlanjut di setiap mata rantai. Pengangkutan menambah 8,2 persen, penyimpanan 5,3 persen, dan pasar 2,8 persen. Pola sayur daun agak berbeda, dengan kehilangan di ladang 12,6 persen dan di perjalanan 9,4 persen, lebih tinggi daripada tomat pada tahap angkut. Wortel paling kecil susutnya di semua tahap, dengan 8,2 persen di ladang dan 5,8 persen saat diangkut.
Antarsektor pun hasilnya tidak seragam. Susut tomat tertinggi tercatat di sektor Musambira, 42,3 persen, dan terendah di Nyarubaka, 26,8 persen. Kerusakan di ladang saat musim panen berkisar dari 14,2 persen di Rukoma sampai 23,6 persen di Kayumbu. Para penulis membaca perbedaan itu sebagai tanda pentingnya penanganan yang disesuaikan dengan tempat, karena jalan, gudang, dan jarak ke pasar ikut menentukan pola susut.
Pukulan kedua datang dari harga. Pada puncak panen November sampai Desember 2024, harga tomat di tingkat petani anjlok rata-rata 67,2 persen dibanding luar musim. Harga rata-rata saat panen raya hanya 180 franc Rwanda per kilogram, sementara di musim paceklik mencapai 550 franc. Di Musambira, sektor dengan susut terbesar, harga panen paling rendah, yaitu 158 franc per kilogram, turun 71,3 persen.
Para penulis menyebut keadaan itu sebagai paradoks. “Situasi perubahan harga yang ekstrem saat panen, dengan harga di tingkat petani turun rata-rata 67,2%, adalah skenario paradoks ketika kelimpahan di tingkat ladang tidak berubah menjadi ketahanan pangan atau hasil ekonomi yang lebih baik bagi petani,” tulis Fabien dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Naskah juga mencatat kemungkinan lingkaran yang saling menguatkan. Harga rendah dan kerusakan ladang yang tinggi membuat petani enggan menangani panen dengan saksama, dan itu bisa menambah susut. Di bagian latar, para penulis menggambarkan siklus naik-turun antara kelimpahan dan kemiskinan yang berujung pada rawan pangan, bahkan ketika tingkat produksi tinggi.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Susut di Gudang
Di sisi lain, sayur yang selamat dari ladang tidak otomatis selamat gizinya. Uji laboratorium dalam penelitian ini menyimpan sayur pada suhu ruang lalu mengukur kandungannya. Setelah 14 hari, tomat hanya menyimpan 43,2 persen vitamin C awalnya, dari 23,4 menjadi 10,1 miligram per 100 gram. Susutnya dengan demikian dua lapis, bukan hanya jumlah yang berkurang, tetapi mutu sisa panen juga menurun.
Sayur daun paling cepat kehilangan vitamin C, hanya tersisa 33,3 persen pada hari ke-14, dari 42,6 menjadi 14,2 miligram per 100 gram. Beta-karoten, bahan pembentuk vitamin A, relatif lebih stabil, tetapi pada sayur daun tetap turun 42,3 persen. Wortel lebih tahan, dengan beta-karoten tersisa 72,2 persen dan vitamin C tersisa 47,5 persen.
Pada kasus kedua, penelitian menguji jalan keluar sederhana. Tomat Roma dari Musambira dicelup lapisan gel lidah buaya yang dicampur madu dengan perbandingan 70 banding 30, lalu dibandingkan dengan tomat tanpa lapisan dan tomat berlapis gel lidah buaya saja. Menurut naskah, gel lidah buaya membentuk sekat semipermeabel yang memperlambat respirasi, sedangkan madu bersifat antibakteri dan menahan kelembapan.
Hasilnya berpihak pada lapisan campuran. Umur simpan tomat naik dari 7,2 hari tanpa lapisan menjadi 18,6 hari, atau bertambah 158 persen. Vitamin C yang tersisa pada hari ke-14 mencapai 89,3 persen, dibanding 52,1 persen pada tomat tanpa lapisan. Kejadian busuk turun dari 58,3 persen menjadi 8,4 persen, dan susut bobot dari 18,4 persen menjadi 6,2 persen.
Lapisan gel lidah buaya saja juga lebih baik daripada tanpa lapisan, dengan umur simpan 13,8 hari dan vitamin C tersisa 74,6 persen. Namun, pada semua ukuran, campuran dengan madu mencatat angka terbaik. Naskah menyebut bahan bakunya, daun lidah buaya dan madu lokal, umumnya tersedia di Kamonyi, sehingga teknologi ini dinilai cocok untuk petani kecil yang minim modal.
Dapur Susut Rendah
Sisi dapur dibaca lewat skor keragaman pangan rumah tangga, ukuran yang menghitung berapa kelompok pangan dimakan sebuah keluarga dalam 24 jam terakhir. Para penulis membagi keluarga petani ke dalam tiga kelompok. Kelompok susut rendah kehilangan kurang dari 15 persen panen, kelompok sedang 15 sampai 30 persen, dan kelompok tinggi lebih dari 30 persen.
Pada kelompok susut rendah, yang berjumlah 98 keluarga, skor keragaman pangannya rata-rata 6,8. Hanya 8,2 persen keluarga di kelompok ini yang masuk kategori keragaman rendah, yaitu makan empat kelompok pangan atau kurang. Mereka makan sayur rata-rata 5,8 hari dalam sepekan, dan asupan vitamin C hariannya 68,4 miligram, di atas ambang risiko 45 miligram yang dipakai naskah.
Kelompok ini tidak sepenuhnya aman. Risiko kurang vitamin A masih mengenai 31,6 persen keluarga, dan risiko kurang vitamin C 24,5 persen. Asupan vitamin A rata-ratanya 486 mikrogram per hari, sedikit di bawah ambang 500 mikrogram yang dipakai para penulis untuk menandai risiko kekurangan. Kelompok susut sedang berada di tengah, dengan skor keragaman 5,6.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Dapur Susut Tinggi
Pada kelompok susut tinggi, gambarannya berbalik tajam. Dari 144 keluarga, skor keragaman pangannya rata-rata 4,2, dan 59,7 persen masuk kategori keragaman rendah. Sayur hanya muncul rata-rata 3,2 hari dalam sepekan. Asupan vitamin C harian merosot menjadi 32,6 miligram, dan asupan vitamin A 278 mikrogram per hari.
Risiko kekurangan gizi mikro pun berlipat sekitar dua kali. Risiko kurang vitamin A mencapai 62,5 persen pada keluarga susut tinggi, dibanding 31,6 persen pada keluarga susut rendah. Risiko kurang vitamin C 54,2 persen, dibanding 24,5 persen. Korelasi antara total susut pascapanen dan skor keragaman pangan tercatat negatif dengan nilai r minus 0,67.
Setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, besar keluarga, pendapatan, dan pendidikan, besarnya susut tetap menjadi penanda terkuat keragaman pangan. Setiap kenaikan satu poin persen susut berkaitan dengan turunnya skor keragaman sebesar 0,068 poin. Pendidikan dan pendapatan berkaitan dengan skor yang lebih tinggi, sedangkan jarak ke pasar dan besar keluarga berkaitan dengan skor yang lebih rendah.
Di sini dua sisi tadi bertemu. Menurut para penulis, keluarga yang mengalami susut tinggi cenderung mengurangi ragam makanan, lebih bergantung pada makanan pokok, dan menjauhi sayur kaya gizi. “Sifat sehat sebuah pola makan tidak bergantung pada jumlah makanan yang dimakan, tetapi juga pada mutu makanan itu,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris tersebut.
Dari situ para penulis menyimpulkan bahwa susut pascapanen bisa ditekan tanpa harus menambah produksi, dan bahwa penurunan susut berkaitan dengan keragaman pangan yang lebih baik. Mereka mengusulkan pelatihan penanganan pascapanen dalam penyuluhan pertanian, pemasaran bersama agar harga tidak jatuh saat panen raya, rantai dingin di titik pengumpulan, serta uji lapangan teknologi pengawet murah.
Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut
Batas yang Diakui Penulis
Kaitan antara ladang dan dapur itu tetap harus dibaca sebagai hubungan, bukan sebab-akibat. “Bagaimanapun, desain potong lintang ini tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat,” tulis para penulis dalam naskah berbahasa Inggris itu. Data keragaman pangan juga bersandar pada ingatan keluarga tentang apa yang mereka makan, sehingga rawan bias pelaporan.
Uji lapisan lidah buaya-madu dikerjakan dalam kondisi laboratorium, dan para penulis mengakui penerapannya di lapangan bisa berbeda. Penelitian juga hanya mencakup satu musim panen, padahal cuaca yang berubah dari tahun ke tahun bisa memengaruhi besarnya susut. Perkiraan biaya lapisan sekitar 50 franc Rwanda per kilogram tomat masih perkiraan awal, karena analisis biaya-manfaat formal belum dilakukan.
Naskah juga mencatat pekerjaan rumah sebelum teknologi ini bisa diperluas. Mutu gel lidah buaya dari kebun berbeda-beda, komposisi madu lokal juga bervariasi, cara pemakaiannya perlu disederhanakan untuk petani, dan rantai dingin belum tersedia. Karena itu, angka 158 persen tadi lebih tepat dibaca sebagai hasil uji terkendali, belum jaminan hasil di gudang petani.
Kejanggalan di Dalam Naskah
Beberapa angka di dalam naskah tidak saling cocok dan bisa diperiksa pembaca. Abstrak menulis risiko kurang vitamin A sebesar 62,4 persen pada keluarga susut tinggi dan 31,2 persen pada keluarga susut rendah. Tabel hasil dan bagian pembahasan menulis 62,5 persen dan 31,6 persen. Selisihnya kecil, tetapi keduanya merujuk pada kelompok yang sama.
Suhu penyimpanan pada uji lapisan tertulis 2 derajat Celsius plus-minus 2 di bagian metode, padahal judul tabel penurunan gizi menyebut 22 derajat plus-minus 2 dan naskah menyebutnya suhu ruang. Tingkat respons juga janggal. Naskah menulis 424 petani direkrut dari target 427 dan menyebutnya 96,5 persen, padahal hitungan itu menghasilkan sekitar 99,3 persen.
Rujukan pun perlu dicermati. Pembahasan menyebut temuan Tefera tentang gejolak harga sayur di pasar Etiopia dengan nomor rujukan 43, tetapi daftar pustaka nomor 43 adalah penelitian hasil panen tanaman tef. Ambang keragaman pangan yang cukup dirujuk ke nomor 44, yang ternyata buku pengantar sibernetika. Di bagian yang sama muncul frasa tentang studi perikanan yang tidak berhubungan dengan isi penelitian.
Kejanggalan itu tidak menghapus pola besar yang konsisten di tabel, tetapi membuat angka tertentu perlu dikutip dengan hati-hati. Di satu sisi, ada ladang yang kehilangan lebih dari sepertiga tomatnya dan harga yang jatuh dua pertiga saat panen raya. Di sisi lain, ada dapur yang skor keragaman pangannya turun dari 6,8 ke 4,2, sementara penelitian ini baru bisa menunjukkan keduanya berjalan beriringan tanpa memastikan mana yang menggerakkan mana.














