Cekricek.id — Djidji Ayokwe, gendang sakral yang dijarah tentara kolonial Prancis pada 1916 dan dibawa ke Eropa, akhirnya tiba kembali di desa asalnya di Pantai Gading pada Jumat. Upacara penyambutannya digelar bertepatan dengan hari kemerdekaan nasional negara itu.
Mengutip Africanews yang memuat laporan AFP, Minggu (9/8/2026), inilah pertama kalinya generasi Pantai Gading masa kini dapat melihat langsung benda tersebut.
Gendang yang Bisa Berbicara
Djidji Ayokwe bukan sekadar alat musik. Gendang kayu berukuran lebih dari tiga meter dengan bobot 430 kilogram itu dipakai suku Ebrie untuk mengirim pesan jarak jauh — memperingatkan bahaya, terutama dari kaum kolonial, memanggil warga untuk berperang, atau mengumpulkan mereka dalam upacara adat.
Otoritas kolonial Prancis menyita gendang itu pada 1916, mengapalkannya ke Eropa pada 1929, lalu memamerkannya di Paris selama puluhan tahun.
Pantai Gading mengajukan permintaan pemulangan Djidji Ayokwe pada akhir 2018, satu dari 148 karya seni yang diambil selama masa kolonial. Benda itu resmi diserahkan pada Februari dan tiba kembali di Pantai Gading pada Maret dengan pesawat carter khusus — tetapi tidak dikeluarkan dari peti kayu raksasanya sampai upacara Jumat lalu.
Arak-arakan dan Persembahan untuk Leluhur
Gendang berwarna hitam, putih, dan merah itu diarak dalam parade militer melintasi Distrik Yopougon, Abidjan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Adjame, tempat ia dibuat. Ia diangkut dalam kotak berkaca di atas kendaraan hias besar, disambut Menteri Kebudayaan Francoise Remarck, para pemimpin adat, dan ratusan warga.
Belasan orang melakukan upacara libasi, menuangkan beberapa tetes cairan ke tanah sebagai persembahan kepada leluhur.
"Sebuah bangsa tidak dapat berkembang jika tidak menjaga ingatannya dan memuliakan warisannya," kata Wali Kota Adjame, Farikou Soumahoro, yang mengaku merasakan haru mendalam sekaligus kebanggaan besar.
Bagi warga, persoalannya lebih sederhana dan lebih dalam sekaligus. "Kami ingin melihat gendang itu dengan mata kepala sendiri, supaya kami benar-benar percaya bahwa ia milik kami," ujar Jacqueline Akrebie, warga berusia 69 tahun, kepada AFP. Cyriaque Ahoure, pemimpin adat berusia 63 tahun, menyebut kedatangannya sebagai kegembiraan besar saat mengenang para leluhur.
Djidji Ayokwe rencananya dipamerkan di Museum Peradaban di Abidjan, yang direnovasi khusus untuk menerimanya.
Gelombang Pemulangan yang Sedang Berjalan
Gendang ini merupakan satu dari ratusan artefak yang tengah disiapkan Paris untuk dikembalikan ke Afrika, setelah undang-undang baru Prancis disetujui pada Mei. Senegal dan Benin juga telah mengajukan permintaan pemulangan pusaka mereka.
Pengembalian benda budaya yang diambil dari bekas koloni — di Afrika maupun kawasan lain — kini menjadi isu sensitif, dengan museum, lembaga, dan kolektor di Eropa serta Amerika Serikat menghadapi tekanan untuk menyerahkannya kembali. Pola pengambilan pada masa kolonial itu sendiri terdokumentasi luas, termasuk dalam kasus seperti eksploitasi warisan budaya dan alam di Tasmania.




















