Cekricek.id — Anjuran berolahraga 150 menit sepekan yang selama ini menjadi patokan kesehatan masyarakat ternyata hanya memberi perlindungan sederhana terhadap serangan jantung dan stroke. Perlindungan yang jauh lebih besar berkaitan dengan durasi 560 hingga 610 menit sepekan — sekitar sembilan sampai sepuluh jam.
Mengutip ScienceDaily, Minggu (9/8/2026), temuan itu berasal dari studi observasional yang terbit di British Journal of Sports Medicine. Angka tersebut kira-kira tiga sampai empat kali lipat anjuran kesehatan masyarakat yang berlaku sekarang.
Tujuh Belas Ribu Orang, Hampir Delapan Tahun
Peneliti dari Macao Polytechnic University di Tiongkok menelaah data 17.088 peserta yang terdaftar dalam studi UK Biobank antara 2013 dan 2015. Rata-rata usia mereka 57 tahun, 56 persen perempuan.
Setiap peserta mengenakan perangkat di pergelangan tangan selama tujuh hari berturut-turut untuk merekam aktivitas fisik sehari-hari. Mereka juga menjalani tes bersepeda yang dipakai memperkirakan VO2 maks — ukuran kemampuan tubuh menyerap dan memakai oksigen saat berolahraga berat, yang mencerminkan seberapa efisien jantung, paru-paru, dan otot bekerja bersama. Peneliti turut memperhitungkan kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, penilaian kesehatan diri, pola makan, indeks massa tubuh, denyut jantung istirahat, dan tekanan darah.
Selama masa pemantauan rata-rata 7,8 tahun, tercatat 1.233 kejadian kardiovaskular: 874 kasus fibrilasi atrium, 156 serangan jantung, 111 kasus gagal jantung, dan 92 stroke.
Delapan Persen Berbanding Tiga Puluh Persen
Peserta yang memenuhi anjuran 150 menit sepekan menunjukkan penurunan risiko kardiovaskular sebesar delapan sampai sembilan persen. Kaitan itu serupa pada semua tingkat kebugaran.
Namun untuk mencapai apa yang peneliti sebut sebagai perlindungan substansial — penurunan risiko lebih dari 30 persen — durasinya melompat jauh, ke kisaran 560 sampai 610 menit aktivitas sedang hingga berat per pekan. Aktivitas kategori ini mencakup jalan cepat, berlari, dan bersepeda. Hanya 12 persen peserta yang benar-benar mencapai tingkat tersebut.
Ada temuan lain yang terasa tidak adil. Orang dengan tingkat kebugaran terendah justru membutuhkan tambahan sekitar 30 sampai 50 menit per pekan dibanding peserta paling bugar untuk memperoleh manfaat setara. Untuk penurunan risiko 20 persen, misalnya, kelompok paling tidak bugar memerlukan 370 menit per pekan, sementara kelompok paling bugar cukup 340 menit.
"Temuan ini menyoroti tantangan yang lebih berat yang dihadapi kelompok dengan kondisi fisik menurun," tulis para peneliti.
Apa yang Tidak Bisa Dibuktikan Studi Ini
Karena rancangannya observasional, penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa olahraga lebih banyak secara langsung menyebabkan risiko kardiovaskular menurun. Yang ditemukan adalah kaitan, bukan sebab-akibat.
Peserta studi juga kemungkinan lebih sehat dan lebih bugar dibanding populasi umum. VO2 maks diperkirakan, bukan diukur langsung. Analisisnya pun tidak menilai waktu duduk maupun olahraga berintensitas ringan. Satu hal lagi yang penting dibaca pembaca Indonesia: 96 persen pesertanya berkulit putih dan rata-rata berusia 57 tahun di Inggris, sehingga angkanya tidak bisa langsung dipindahkan ke populasi Asia Tenggara tanpa kehati-hatian.
Meski begitu, peneliti menegaskan hasil mereka justru mendukung anjuran yang berlaku sebagai batas minimum yang dapat diandalkan. Mereka mengusulkan agar panduan pada masa depan membedakan antara volume olahraga minimal untuk margin keamanan dasar dan volume yang jauh lebih tinggi untuk penurunan risiko kardiovaskular yang optimal — sekaligus mempertimbangkan target yang dipersonalisasi berdasarkan tingkat kebugaran, menggantikan pendekatan satu ukuran untuk semua.
Studi ini dilaporkan Zhide Liang, Senyao Du, Shiao Zhao, Xianfei Wang, Qiang Yan, Baichao Xu, Sanfan Ng, dan Ziheng Ning dari Macao Polytechnic University dalam artikel berjudul Joint non-linear dose-response associations of device-measured physical activity and cardiorespiratory fitness with cardiovascular disease: a cohort and Mendelian randomisation study, terbit di British Journal of Sports Medicine tahun 2026.




















