Vitamin C Bisa Melawan Kanker, Tapi Bukan dengan Cara yang Diduga Selama Ini

Ilustrasi kantong infus di ruang rumah sakit dengan buah jeruk di latar depan

Ilustrasi infus vitamin C. Riset terbaru menghidupkan kembali perdebatan vitamin C dosis tinggi dalam terapi kanker. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Setengah abad setelah gagasan Linus Pauling dicap gagal, vitamin C kembali masuk radar riset kanker. Bedanya, kali ini para ilmuwan mengerti mengapa uji-uji terdahulu saling bertentangan — dan mengapa vitamin yang sama bisa berperan sangat berbeda tergantung cara pemberiannya.

Mengutip laporan ScienceDaily dari artikel The Conversation yang ditulis Justin Stebbing, profesor ilmu biomedis Anglia Ruskin University, Jumat (7/8/2026), kuncinya ada pada dosis dan jalur masuk. Vitamin C yang diberikan lewat infus mampu mencapai kadar dalam darah puluhan hingga ratusan kali lebih tinggi daripada yang bisa dicapai tablet.

Dari Pelindung Menjadi Penyerang

Pada kadar sehari-hari, vitamin C bekerja sebagai antioksidan yang melindungi sel. Namun pada kadar sangat tinggi, perannya berbalik: di sekitar tumor, vitamin C memicu terbentuknya hidrogen peroksida yang menimbulkan stres oksidatif. Sel kanker — yang bekerja di bawah tekanan metabolik lebih berat dengan sistem pertahanan yang sudah terkuras — lebih rentan terhadap serangan ini dibanding sel sehat.

Mekanisme itu sekaligus menjelaskan teka-teki lama: riset Pauling dan Ewan Cameron pada 1970-an memakai vitamin C infus, sementara uji-uji Mayo Clinic yang membantahnya hanya memakai tablet oral. Keduanya sebenarnya menguji dua hal yang berbeda.

Menjanjikan, tetapi Belum Terbukti

Uji-uji klinis kecil menunjukkan pasien dapat menoleransi vitamin C infus dosis tinggi beberapa kali sepekan tanpa efek samping serius, dengan perbaikan kualitas hidup: kelelahan, nyeri, dan mual berkurang. Namun bukti manfaatnya bagi angka harapan hidup masih belum meyakinkan, dan terapi ini tidak cocok bagi pasien dengan gangguan ginjal atau kondisi genetik langka tertentu.

Kesimpulan Stebbing tegas: sampai bukti kuat tersedia, vitamin C dosis tinggi harus dipandang sebagai terapi eksperimental — cukup menjanjikan untuk terus diteliti, tetapi belum layak menggantikan terapi standar. Perkembangan dunia kesehatan semacam ini rutin kami ikuti, termasuk soal berbagai penyebab tubuh mudah lelah yang kerap tak disadari.

Baca juga: Studi 11 Ribu Anak: Ganja Perlambat Pertumbuhan Daya Ingat Remaja

Tag:

Baca Juga

Ilustrasi perbandingan ubi jalar oranye berkulit halus dan uwi berkulit kasar di atas meja kayu
Sering Dikira Sama, Ini Beda Ubi Jalar dan Uwi alias Yam
Ilustrasi stasiun riset terpencil di hamparan es Antarktika dengan figur peneliti kecil di kejauhan
Studi 10 Bulan di Antarktika Ungkap Bekal Psikologis Misi ke Mars
Ilustrasi remaja belajar di meja dengan motif jaringan otak bercahaya di atasnya
Studi 11 Ribu Anak: Ganja Perlambat Pertumbuhan Daya Ingat Remaja
Ilustrasi bakul anyaman berisi gabah di atas meja kayu tua dengan timbangan gantung kuningan, bernuansa sepia
Sejarah Gizi Publik di Indonesia: Ketika Dapur Pribumi Menjadi Urusan Negara Kolonial
Ilustrasi perempuan kelelahan di meja kerja dengan buku menutupi wajah dan cangkir kopi di sekelilingnya
12 Penyebab Mudah Lelah yang Sering Tidak Disadari
Peserta The 4th International Conference on Health Sciences 2026 berfoto bersama di depan latar acara di Jakarta
Dosen Unand Gagas Penguatan Layanan Kesehatan Primer Berbasis Masyarakat di ICHS 2026