Cekricek.id — Susu penuh lemak sudah lama masuk daftar makanan yang dicurigai. Kandungan lemak jenuhnya membuat banyak panduan gizi menyarankan versi rendah lemak. Sebuah uji klinis di Kanada menempatkan anggapan itu di bawah pengujian, dan hasilnya tidak sesuai dugaan.
Penelitian tersebut dipaparkan Gerald Harvey Anderson bersama koleganya lewat artikel The Effect of Three Daily Servings of Full-Fat Dairy for 12 Weeks on Body Weight, Body Composition, Energy Metabolism, Blood Lipids, and Dietary Intake of Adults with Overweight and Obesity dalam jurnal The Journal of Nutrition Vol. 156 No. 4, artikel 101373, pada 2026. Dikutip dari ScienceDaily, Minggu (9/8/2026), riset itu dikerjakan tim University of Toronto.
Tiga Kelompok, Dua Belas Minggu
Sebanyak 74 orang dewasa dengan berat badan berlebih dan obesitas mengikuti pola makan berbeda selama 12 minggu. Kelompok pertama menjalani diet rendah produk susu dengan pembatasan kalori. Kelompok kedua menjalani diet yang kalorinya dibuat netral, tidak dikurangi dan tidak ditambah, disertai tiga sajian produk susu setiap hari. Kelompok ketiga makan tanpa pembatasan, juga dengan tiga sajian produk susu setiap hari.
Pada akhir masa percobaan, dua kelompok yang menyantap produk susu penuh lemak tidak menunjukkan perbedaan berarti dalam pertambahan berat badan, komposisi tubuh, maupun kadar kolesterol dibandingkan kelompok rendah produk susu. Yang berubah ke arah lebih baik justru tekanan darah mereka. Asupan kalsium, protein, dan vitamin D pada kelompok tersebut juga lebih tinggi.
“Mereka yang mengonsumsi tiga sajian produk susu tidak mengalami kadar kolesterol darah atau lipid yang merugikan, maupun tanda-tanda resistensi insulin,” kata Harvey Anderson, profesor ilmu gizi pada Temerty Faculty of Medicine, University of Toronto. Resistensi insulin adalah kondisi ketika sel tubuh kurang tanggap terhadap hormon insulin sehingga kadar gula darah menjadi sulit dikendalikan.
Baca juga: Ragam Sayuran Dunia Menyusut, Gizi Manusia Ikut Terancam
Hipotesis Matriks Susu
Penjelasan yang diajukan para peneliti bertumpu pada gagasan yang mereka sebut matriks susu. Intinya, struktur fisik sebuah bahan pangan ikut menentukan bagaimana zat gizi di dalamnya dicerna, diserap, dan akhirnya memengaruhi tubuh. Lemak jenuh yang berdiri sendiri belum tentu berperilaku sama dengan lemak jenuh yang terkurung dalam anyaman protein dan mineral.
“Pada produk susu, ada dua protein — kasein dan whey — yang terikat bersama lemak dan bercampur dengan zat-zat gizi lain,” jelas Anderson. Susunan semacam itu, menurut penjelasan tim, membuat zat gizi dalam produk susu dilepaskan ke tubuh secara bertahap, bukan sekaligus.
Batas Jangkauan dan Sumber Dana
Uji coba ini berjalan 12 minggu dengan 74 peserta, sehingga yang terpotret adalah dampak jangka pendek pada orang dewasa yang kelebihan berat badan dan obesitas — bukan perjalanan bertahun-tahun pada populasi umum. Penelitian ini didanai Dairy Research Cluster 3 di bawah program AgriScience Canadian Agricultural Partnership, serta program Mitacs Accelerate.
Perdebatan mengenai kualitas gizi harian sendiri sedang berlangsung di banyak lini, dari komposisi pangan sampai kesenjangan layanan kesehatan dasar yang tercatat dalam laporan 26,8 Persen Puskesmas di Indonesia Belum Punya Dokter Gigi.
Baca juga: Polusi Udara PM2.5 Terkait Kekambuhan Rheumatoid Arthritis



















