Pengguna Ganja Rutin Bangun dengan Kadar Kortisol Lebih Tinggi

Daun ganja hijau difoto dari jarak dekat

Ilustrasi daun ganja. [Foto: Pexels/Lucas Pezeta]

Cekricek.id — Tubuh manusia punya jam kimiawi sendiri. Setiap pagi, tak lama setelah mata terbuka, kadar hormon kortisol naik untuk menyiapkan tubuh menghadapi hari. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa pada orang yang sering memakai ganja, titik awal irama itu berada di posisi yang lebih tinggi ketimbang orang yang tidak memakainya.

Temuan tersebut dipaparkan Julia Donner, Alexia N. Obrochta, dan Anita Cservenka lewat artikel Subjective Stress and Diurnal Salivary Cortisol in Adults with Frequent Cannabis Use dalam jurnal Cannabis yang terbit pada 9 Juni 2026. Dikutip dari ScienceDaily, Minggu (9/8/2026), riset itu dikerjakan tim Oregon State University (OSU).

Titik Awal Pagi yang Berbeda

Yang diukur peneliti adalah cortisol awakening response atau CAR, lonjakan kortisol yang terjadi pada semua orang begitu bangun tidur. Cara menghitungnya sederhana: kadar kortisol diambil tepat setelah seseorang terbangun, lalu diukur lagi tiga puluh menit kemudian.

“CAR adalah kenaikan kortisol yang dialami semua orang pada pagi hari, memuncak sekitar 30 menit setelah mereka bangun,” kata Anita Cservenka, peneliti dari OSU College of Liberal Arts, Oregon State University, yang memimpin penelitian ini bersama koleganya di kampus yang sama.

Besaran lonjakan itu ternyata mirip antara pengguna ganja dan bukan pengguna. Perbedaannya justru terletak pada garis awalnya: kelompok pengguna rutin sudah membuka hari dengan kadar kortisol yang lebih tinggi. Hasil ini sekaligus berbeda dari sejumlah studi terdahulu.

“Penelitian sebelumnya oleh peneliti lain menemukan CAR yang tumpul pada pengguna ganja rutin, tetapi kami tidak berhasil mereplikasi temuan itu, yang menunjukkan ada banyak nuansa yang bisa berkaitan dengan strategi analisis dan karakteristik sampel,” ujar Cservenka.

Baca juga: Polusi Udara PM2.5 Terkait Kekambuhan Rheumatoid Arthritis

Belum Bisa Disebut Sebab-Akibat

Cservenka menegaskan bahwa hasil ini tidak membuktikan pemakaian ganja rutin menaikkan kadar kortisol saat bangun tidur, dan tidak pula membuktikan arah sebaliknya. Rancangan penelitiannya memotret satu titik waktu, bukan mengikuti orang yang sama dari tahun ke tahun.

“Kami perlu mempelajari kelompok orang yang sama dalam rentang waktu yang lebih panjang untuk memahami hubungan sebab-akibatnya, tetapi kami rasa ini memberi titik awal yang penting,” tuturnya.

Meski demikian, ia melihat peluang pemanfaatannya. “Penelitian kami menunjukkan kadar kortisol saat bangun tidur mungkin dapat berfungsi sebagai penanda neurobiologis pemakaian ganja yang bermasalah, dan kaitan itu perlu diselidiki lebih jauh,” jelas Cservenka.

Hormon yang Bekerja Sepanjang Hari

Kortisol bukan sekadar hormon stres. Zat ini membantu tubuh melawan infeksi, menjaga tekanan darah, serta mengatur gula darah dan metabolisme. Persoalannya muncul ketika kadarnya bertahan tinggi dalam waktu lama, karena kondisi itu dikaitkan dengan risiko kecemasan, depresi, dan penyakit jantung yang lebih besar.

Konteks pemakaian ganja di Amerika Serikat membuat temuan ini terasa relevan bagi kesehatan masyarakat di sana. Sebanyak 29 persen orang dewasa berusia 19 hingga 30 tahun melaporkan memakai ganja dalam 30 hari terakhir, dan lebih dari 10 persen kelompok usia itu memakainya sedikitnya 20 kali dalam sebulan. Angka pemakaian di kalangan dewasa muda hampir berlipat dua dalam 15 tahun terakhir.

Faktor keseharian lain yang menekan kesehatan metabolik juga sedang jadi sorotan riset, seperti terbaca pada laporan Ragam Sayuran Dunia Menyusut, Gizi Manusia Ikut Terancam.

Baca juga: 26,8 Persen Puskesmas di Indonesia Belum Punya Dokter Gigi

Baca Juga

Segelas susu sapi segar di atas kain putih
Tiga Sajian Susu Penuh Lemak Sehari Tak Menambah Berat Badan
Peneliti menangani gelas kimia berisi sampel air di laboratorium
Bakteri Kunci Uranium Beracun di Air Tambang Jadi Senyawa Stabil
Seorang perempuan tidur berbaring di atas bantal putih
Mikroglia, Bukan Plak, yang Merampas Tidur Penderita Alzheimer
Peneliti berjas laboratorium mengamati sampel lewat mikroskop
Fruktosa Longgarkan Rekatan Sel Kanker dan Bantu Penyebarannya
Beragam sayuran segar berwarna-warni tertata di lapak pasar
Ragam Sayuran Dunia Menyusut, Gizi Manusia Ikut Terancam
Kerangka dinosaurus dipajang di ruang pameran museum
Dinosaurus Bisa Jadi Raksasa, Tapi Kenapa Tak Pernah Mungil?