Cekricek.id — Asap hitam mengepul dari cerobong tungku bata di Distrik Sheikhupura, Provinsi Punjab, Pakistan. Di bawah cerobong itu para buruh menumbuk batu bara, lalu menjatuhkannya lewat lubang-lubang kecil di bawah kaki mereka, langsung ke ruang bakar yang menyala. Tungku tradisional semacam ini terbakar pada suhu di atas 1.000 derajat Celsius dan harus terus diawasi agar panasnya tidak turun.
Pekerjaan itu kini kian berat karena musim panas Pakistan makin menyengat. Suhu udara di sana lazim menembus 40 derajat Celsius. Dikutip dari Arab News, Senin (10/8/2026), yang menurunkan laporan kantor berita AFP dari Sheikhupura, para buruh tetap bertahan di permukaan tungku yang membara selama berjam-jam meski debu memenuhi udara dan matahari membakar punggung mereka.
Abid Hussain, buruh berusia 35 tahun yang pakaiannya berselimut jelaga, menggambarkan pekerjaannya seperti terjepit di antara api di bawah dan terik yang makin ganas di atas.
“Panasnya memang luar biasa, tetapi kalau memikirkan tekanan keuangan di rumah, tidak ada pilihan selain terus bekerja,” kata Hussain.
Upah USD3 Sehari bagi Sejuta Pekerja
Hussain menerima sekitar 25.000 rupee Pakistan atau setara USD90 per bulan. Jumlah itu, katanya, nyaris hanya cukup untuk membayar sewa rumah dan kebutuhan dasar anak-anaknya. Upah harian di sektor tungku bata berkisar USD3.
“Apa pun keadaannya, entah kami sakit atau ada urusan keluarga, kami tetap harus bekerja. Kalau saya libur, kami akan kesulitan,” ujarnya.
Sheikhupura berada di jantung industri tungku bata Pakistan. Secara nasional terdapat lebih dari 18.000 tungku bata yang mempekerjakan lebih dari satu juta orang, merujuk data 2018 dalam laporan Climate and Clean Air Coalition. Kebutuhan tenaga kerja terus bertambah seiring ledakan pembangunan di negara itu.
Baca juga: Remitansi Pakistan Naik 13 Persen jadi USD3,6 Miliar, Arab Saudi Penyumbang Terbesar
“Tempat Pengurungan”
Syeda Ghulam Fatima, Sekretaris Jenderal Bonded Labour Liberation Front Pakistan, menilai kondisi kerja di tungku bata sudah melampaui batas kewajaran.
“Saya akan menyebut tungku-tungku bata ini sebagai tempat pengurungan. Pekerja menanggung panas tanpa henti dari matahari yang membakar di atas kepala, sementara panas hebat yang memancar dari tungku naik dari bawah kaki mereka,” tutur Fatima.
Para pegiat perburuhan menyebut industri ini lemah pengawasannya, rendah upahnya, dan makin berbahaya seiring naiknya suhu. Buruhnya terperangkap dalam lingkaran utang, panas ekstrem, dan kesehatan yang terus menurun.
Baca juga: Pekerja Migran Indonesia di Libya Alami Kekerasan Fisik, KBRI Tripoli Menindaklanjuti Pengaduan
Mujeeb Ullah, mandor tungku berusia 45 tahun, mengatakan jeda istirahat yang panjang tidak mungkin diberikan.
“Istirahat yang lama tidak memungkinkan. Entah panas ekstrem, dingin, atau hujan, pekerjaan harus terus berjalan tanpa terputus,” katanya.
Muhammad Azeem, buruh berusia 28 tahun, menyampaikan hal serupa dengan nada pasrah. “Soal cuaca, baik atau buruk, pekerjaan tetap pekerjaan, harus diselesaikan,” ucapnya.
Ancaman Kesehatan dan Rencana Tungku Zigzag
Ahli kesehatan memperingatkan bahwa paparan panas berkepanjangan, terutama di tungku tradisional, membuat buruh bata lebih rentan terkena gangguan kulit, masalah pernapasan, hingga penyakit ginjal. Pakistan sendiri termasuk negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Baca juga: Dampak Gelombang Panas pada Kesehatan Otak Anak
Harapan perbaikan datang dari dorongan Pemerintah Provinsi Punjab untuk mengonversi industri ini ke teknologi yang lebih modern, yakni tungku zigzag, yang menekan polusi udara sekaligus bahaya bagi pernapasan.
Di sisi lain kompleks tungku, seorang pria berjongkok di samping deretan bata mentah, mengaduk lumpur basah dan memadatkannya dengan tangan ke dalam cetakan kayu — pekerjaan yang menguras tenaga pada suhu setinggi itu.





















