Cekricek.id — Fatima Zahra menjadi petinju perempuan pertama Pakistan yang membawa pulang medali dari Commonwealth Games. Perunggu kelas 60 kilogram yang ia rebut pada ajang 2026 bulan lalu itu menandai momen terobosan bagi tinju putri negara tersebut, karena sebelumnya belum ada perempuan Pakistan yang meraih medali di kompetisi itu.
Petinju berusia 22 tahun asal Kota Sargodha di bagian timur Pakistan itu memastikan medali setelah menaklukkan wakil Selandia Baru, Jordan Wilson, dengan angka 5-0 pada perempat final kelas 60 kilogram putri. Angka itu berarti seluruh juri menjatuhkan pilihan kepadanya. Ia kemudian finis di posisi ketiga setelah langkahnya terhenti pada semifinal. Dikutip dari Arab News, Senin (10/8/2026), Zahra menceritakan perjalanannya dalam wawancara dengan Independent Urdu pada Minggu.
“Itu momen yang sangat mengharukan dan membanggakan bagi saya. Saat itu saya juga menangis karena tahu bahwa sebelum ini belum ada perempuan yang memenangi medali di cabang mana pun. Jadi, itu momen ketika sejarah tercipta,” kata Zahra.
Sarung Tinju yang Sulit Dibeli
Jalan menuju panggung internasional itu tidak mudah. Zahra menyebut dirinya lahir dari keluarga miskin, dan keluarganya selalu kesulitan membelikan perlengkapan tinju yang ia butuhkan.
“Saya berasal dari keluarga miskin, jadi ketika pertama kali mulai, setiap kali harus membeli sarung tinju, sepatu tinju, perban, dan sebagainya, itu menimbulkan ketegangan besar di rumah,” ujarnya.
Hambatan berikutnya datang dari luar rumah. Di Pakistan yang konservatif, banyak perempuan tidak leluasa mengambil keputusan dasar dalam hidupnya dan bergantung pada kerabat laki-laki untuk urusan pendidikan, pekerjaan, sampai memilih pasangan. Tekanan itu pula yang sempat memutus kariernya di tengah jalan.
Baca juga: Pemkab Meranti Terdepan dalam Bentuk Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak
Berhenti Bertinju Setahun Setengah
Zahra mengatakan keluarganya sempat memintanya berhenti bertinju karena komentar miring yang mereka dengar dari kerabat dan orang di sekitar tentang profesi yang ia pilih.
“Komentar buruk orang-orang dan komentar negatif dari kerabat sangat mengganggu keluarga saya, dan mereka tidak mengizinkan saya bertinju selama satu tahun enam bulan,” katanya.
Keadaan berubah ketika ia mulai bertanding di level senior. Keluarganya akhirnya berbalik mendukung setelah melihat capaiannya di atas ring. Zahra juga menyebut pelatihnya sebagai penopang utama selama bertanding jauh dari rumah, termasuk saat mengikuti turnamen di luar negeri.
“Dan setiap kali saya melakukan tur internasional, saya tetap berhubungan dengan pelatih saya dan dia juga sangat memotivasi saya,” tuturnya.
Pesan untuk Pemerintah
Setelah medalinya, Zahra meminta pemerintah menggarap serius potensi tinju di Pakistan, khususnya di kota asalnya. Ia menilai bibit atlet sudah ada dan yang kurang adalah perhatian serta pembenahan fasilitas.
Baca juga: Terjepit Api dan Terik, Buruh Tungku Bata Pakistan Bertahan demi Upah USD3
“Ada banyak bakat di klub tinju kami di Sargodha. Pemerintah harus memperhatikan hal ini dan perlu ada pembenahan,” kata Zahra.
Prestasi Zahra melengkapi catatan Pakistan di arena tinju amatir, cabang yang selama ini lebih banyak diisi atlet putra. Kemenangan telak atas Wilson pada perempat final menjadi laga penentu, karena hasil itulah yang mengantarkannya ke babak empat besar dan akhirnya ke posisi ketiga. Kekalahan di semifinal menutup peluangnya merebut medali dengan warna lebih terang.
Sargodha, kota asalnya, selama ini bukan pusat pembinaan olahraga nasional Pakistan. Klub tinju tempat Zahra berlatih, menurut pengakuannya sendiri, menyimpan sejumlah calon petinju yang belum tergarap.
Baca juga: Hanya 11,6 Persen Penyandang Disabilitas Berolahraga, Kemenpora Cetak Penggerak Baru





















