Cekricek.id — Dari 22,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia, hanya sekitar 11,6 persen yang aktif berolahraga. Angka itu menjadi latar Kementerian Pemuda dan Olahraga menggelar Training of Trainers Penggerak Olahraga Disabilitas di Kota Tangerang, Banten, pada 7 sampai 8 Agustus 2026.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga, kemenpora.go.id, Senin (10/8/2026), jumlah 22,9 juta itu setara 8,5 sampai 9 persen penduduk Indonesia dan bersumber dari data Badan Pusat Statistik 2024. Kementerian mencatat baru ada 92 pelatih disabilitas yang berlatar National Paralympic Committee Indonesia untuk melayani populasi sebesar itu.
Baca juga: Hasil Kualifikasi MotoGP Inggris: Jorge Martin Pole, Marc Marquez Melorot ke Posisi 6
Pelaksana Harian Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Budi Ariyanto Muslim menyebut pelatihan ini sebagai kelanjutan program pemberdayaan pelatih olahraga disabilitas yang menyasar dua hal sekaligus, yaitu kompetensi melatih dan perluasan partisipasi komunitas.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada NPCI Prov. Banten dan Kota Tangerang atas dukungan peserta ToT penggerak olahraga disabilitas. Program ini merupakan tindak lanjut program prioritas dan berkelanjutan untuk pembinaan olahraga disabilitas,” kata Budi Ariyanto Muslim.
Ia berharap peserta pulang sebagai penggerak di daerah masing-masing. “Kami berharap kegiatan ini melahirkan penggerak-penggerak yang berkompeten dan menjadi awal pembinaan yang berkelanjutan serta mampu menjadi multiplier di daerah masing-masing,” ujarnya.
Satu Pendekatan Tidak Berlaku untuk Semua
Materi pelatihan menekankan bahwa metode melatih tidak bisa diseragamkan. Pelatih Nasional NPCI M. Bram Riyadi menjelaskan setiap atlet punya klasifikasi berbeda dan kebutuhan latihan yang mengikuti klasifikasi itu.
“Setiap atlet disabilitas memerlukan pendekatan yang berbeda-beda karena memang atlet memiliki masing-masing klasifikasi. Dimana setiap klasifikasi memiliki unsur-unsur berbeda dalam peningkatan kebutuhan latihannya,” katanya.
“Pelatih sangat perlu memahami unsur-unsur hambatan yang ada dalam masing-masing atlet disabilitas. Disetiap masing-masing hambatan memiliki cara pendampingan dan proses cara melatihnya yang berbeda-beda,” ujar Bram melanjutkan.
Baca juga: Dosen Unand Gagas Penguatan Layanan Kesehatan Primer Berbasis Masyarakat di ICHS 2026
Peserta pelatihan berasal dari kalangan atlet, pelatih, dan penggerak olahraga disabilitas, dengan narasumber dari NPCI Pusat dan Universitas Negeri Surakarta. Salah satu peserta, Citra, guru sekolah khusus, menyebut materi tentang pemetaan kemampuan murid sebagai bagian yang langsung bisa dipakai di sekolah.
“Saya mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara mengetahui profil dari para murid terkait dengan kemampuannya, potensi yang dimiliki dan kekurangan atau hambatan yang dimilikinya. Sehingga saya juga dapat memodifikasi alat bantu yang dapat menunjang latihan lebih giat lagi,” tuturnya.
Kementerian menyebut rendahnya akses, layanan, fasilitas, dan dukungan tenaga pelatih sebagai penyebab kelompok disabilitas belum banyak berolahraga. Dengan 92 pelatih yang tersedia hari ini, satu pelatih menanggung rata-rata lebih dari dua ratus ribu penyandang disabilitas.
Kemenpora menempatkan pelatihan di Tangerang sebagai tindak lanjut program prioritas yang dirancang berlanjut, bukan kegiatan sekali jalan. Peserta yang datang dari berbagai ragam disabilitas diharapkan meneruskan materi pelatihan di daerah masing-masing sehingga jumlah pendamping bertambah tanpa harus menunggu pelatihan pusat berikutnya. Kementerian belum menyebut target jumlah pelatih baru maupun jadwal pelatihan lanjutan.
Baca juga: IPM 84,93, Wamendiktisaintek Sebut Padang Punya Modal Jadi Kota Global Berbasis Pendidikan



















