Cekricek.id — Sebuah feri penumpang terbalik dihantam gelombang tinggi di Danau Kariba, danau buatan terbesar di dunia berdasarkan volume air yang membentang di perbatasan Zimbabwe dan Zambia. Sedikitnya 15 orang tewas dan 27 lainnya masih dinyatakan hilang, sementara 77 penumpang berhasil diselamatkan.
Dikutip dari Al Jazeera yang bersumber dari AFP, Reuters, dan Associated Press, Rabu (12/8/2026), feri itu terbalik pada Selasa (11/8/2026) setelah berangkat dari kota Kariba di bagian utara Zimbabwe menuju sejumlah pulau dan perkampungan nelayan di tengah danau, sekitar 300 kilometer timur laut Harare.
Berlayar di Tengah Cuaca Buruk
Danau Kariba membentang lebih dari 200 kilometer dengan lebar hingga 40 kilometer, dan kerap dilanda gelombang tinggi mendadak. Menurut kesaksian yang beredar, feri itu tetap berangkat meski cuaca sedang buruk, dan sebuah gelombang besar diduga menghantam lambung kapal hingga melumpuhkan mesinnya.
“Ketika kami berada di perairan, terlihat tanda darurat dan kapal-kapal lain merespons,” kata Maxton Kanhema, saksi mata yang berada di lokasi kejadian. “Orang-orang dalam kondisi darurat… ada jenazah di air dan itu pemandangan yang menyedihkan.”
Kanhema menambahkan proses evakuasi sempat terhambat oleh kondisi alam. “Karena cuaca buruk, respons sedikit terlambat… sayangnya nyawa melayang,” ujarnya.
Kapasitas 90 Orang, Penumpang Terdaftar 114
Unit Perlindungan Sipil Zimbabwe menyebut feri tersebut berkapasitas resmi 90 orang, tetapi data penjualan tiket menunjukkan sedikitnya 114 penumpang dewasa terdaftar naik bersama lima kru kapal. Otoritas belum bisa memastikan apakah ada anak-anak yang naik tanpa tiket terpisah, sehingga jumlah pasti orang di atas kapal saat kejadian masih belum jelas.
Kepolisian Nasional Zimbabwe menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung. Tim penyelam bawah air dikerahkan, dibantu helikopter dari Taman Nasional Matusadona serta penyelam militer, untuk menyisir perairan danau yang dalam dan luas itu mencari korban yang masih hilang.
Rute Vital bagi Warga Sekitar Danau
Feri semacam ini menjadi urat nadi transportasi bagi warga yang tinggal di pulau-pulau dan kamp nelayan terpencil di Danau Kariba, yang hanya bisa dijangkau lewat jalur air. Kelebihan muatan pada moda transportasi air bukan persoalan baru di negara berkembang, ketika armada terbatas harus melayani permintaan yang jauh lebih besar dari kapasitasnya.
Kasus serupa pernah terjadi di kawasan lain. Cekricek.id sebelumnya memberitakan feri kelebihan muatan yang tenggelam di Filipina dan menewaskan 26 orang saat Badai Doksuri melanda, kejadian yang juga dipicu kombinasi cuaca buruk dan kapasitas penumpang yang melampaui batas resmi.
Hingga laporan ini diturunkan, otoritas Zimbabwe belum mengumumkan hasil investigasi resmi mengenai penyebab pasti terbaliknya feri, maupun apakah operator kapal akan menghadapi konsekuensi hukum atas dugaan kelebihan muatan tersebut. Pencarian 27 orang yang masih hilang terus berlanjut.

















