Cekricek.id — Sepanjang 2011 hingga 2024, hanya ada sembilan penelitian arkeologi di Indonesia yang menganalisis butir pati. Sembilan, untuk sebuah negeri yang punya ribuan situs dan ratusan tanaman pangan lokal. Sebagian besar dari sembilan itu bahkan bukan proyek besar berdana negara, melainkan skripsi dan tesis mahasiswa Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Angka itu keluar dari penelusuran pustaka yang dipaparkan M. Dziyaul F. Arrozain dari Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia Komda DIY-Jawa Tengah lewat artikel Perkembangan Analisis Butir Pati dalam Kajian Arkeobotani di Indonesia, yang terbit dalam Jurnal Arkeologi Nusantara Volume 3 Nomor 1 pada 2025. Penelusuran dilakukan melalui koleksi Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, Google Scholar, dan ResearchGate, dengan kata kunci butir pati, pati, arkeobotani, dan arkeobotani Indonesia.
Hasilnya sekaligus mengoreksi kajian sebelumnya. Sejumlah tinjauan terdahulu menyebut analisis butir pati di Indonesia baru muncul pada 2017 dengan tiga penelitian dalam rentang 2018 sampai 2022. Penelusuran ini menemukan titik awal yang lebih tua: penelitian Muasomah pada 2011 tentang kemungkinan pemanfaatan tumbuhan di Situs Kendenglembu, Banyuwangi, berdasarkan analisis residu pada fragmen gerabah dan beliung.
Kenapa Bukan Serbuk Sari atau Fitolit
Sisa tumbuhan yang dipelajari arkeobotani dibagi dua: yang kasatmata seperti biji, umbi, akar, kayu, daun, dan buah; serta yang hanya terlihat lewat mikroskop seperti serbuk sari, fitolit, butir pati, dan kristal kalsium oksalat. Di Indonesia, kajian mikro didominasi fitolit dan serbuk sari sepanjang 2009 hingga 2022.
Butir pati punya keunggulan yang tidak dimiliki keduanya. Ia terbentuk di bagian tumbuhan yang jelas dimakan manusia, seperti akar, biji, umbi, dan buah yang belum masak. Serbuk sari berasal dari bunga, sedangkan fitolit umumnya dari daun dan batang — bagian yang relatif jarang dikonsumsi. Karena itu kehadiran butir pati bisa menunjukkan aktivitas konsumsi secara lebih langsung. Keunggulan kedua ada pada jangkauan identifikasi: butir pati punya ciri khas ukuran, bentuk, dan bagian spesifik yang memungkinkan penentuan sampai tingkat spesies, sementara fitolit umumnya berhenti di tingkat suku, dengan padi sebagai salah satu perkecualian.
Ironisnya, teknik yang unggul itu justru sepi peminat. “Sayangnya, penelitian arkeobotani di Indonesia yang menganalisis butir pati masih sedikit,” tulis penulisnya. Padahal, butir pati sudah diperkenalkan di Indonesia setidaknya sejak 2002, ketika Carol J. Lentfer bersama timnya mengumpulkan sampel rujukan dari tumbuhan segar di Flores, Nusa Tenggara Timur. Penelitian yang benar-benar menerapkannya pada konteks situs arkeologi baru muncul lebih dari satu dekade kemudian.
Tiga Sumber, Empat Protokol
Butir pati hanya bisa diperoleh lewat ekstraksi di laboratorium, dan sumbernya di Indonesia ada tiga: residu artefak, sedimen, serta karang gigi. Residu artefak paling banyak dipakai — lima dari sembilan penelitian, ditambah dua penelitian yang menggabungkannya dengan sedimen. Benda yang diambil residunya beragam: fragmen gerabah, alat tulang, artefak batu, batu pipisan, dan gandik. Pengambilan dilakukan pada bagian yang menunjukkan bekas pemakaian.
Untuk residu artefak, empat protokol asing menjadi acuan dengan berbagai modifikasi, dari yang paling sederhana — menyemprotkan air suling ke permukaan artefak lalu menyedotnya dengan pipet — sampai yang menyertakan pengendapan dengan larutan pendispersi, pemusingan pada 3.000 putaran per menit selama delapan menit, dan pengapungan dengan cairan berat. Untuk sedimen, tahapannya lebih ringkas: pembersihan lempung, pembersihan karbonat, penyaringan kotoran, dan pengapungan. Tiga penelitian yang mengekstraksi sedimen bahkan melakukannya secara ganda, mengangkat butir pati dan fitolit dalam satu rangkaian kerja, yang menghemat waktu dan biaya laboratorium.
Adapun ekstraksi dari karang gigi hanya sekali dilakukan, yakni pada rangka manusia dari Situs Plawangan, Rembang, pada 2023. Sampai artikel ini ditulis, itu satu-satunya penelitian arkeobotani di Indonesia yang berhasil memperoleh butir pati dari material karang gigi. Kerja-kerja laboratorium semacam ini sudah menjadi tulang punggung banyak temuan modern, sebagaimana pembacaan ulang bata kuno Mesopotamia yang mengungkap fluktuasi medan magnet bumi.
Tiga Puluh Enam Jenis Tumbuhan
Dari sembilan penelitian itu, 36 jenis tumbuhan berhasil diidentifikasi. Kelompok terbesar adalah tumbuhan herba dan rempah dengan 36 persen, disusul umbi-umbian 33 persen, serealia 11 persen atau empat spesies, dan palem-paleman 6 persen atau dua spesies. Sisanya berupa pisang, kacang hijau, karet, tumbuhan sepit udang, dan arrowhead.
Daftar itu bila disusun menurut umur situs membentuk garis perubahan pola makan. Pada 20.000 tahun lalu di Gua Makpan, Alor, yang terbaca hanya daluga. Sepuluh ribu tahun lalu bertambah birah. Pada 4500 tahun lalu di Gua Here Sorot Entapa, Kisar, yang muncul sagu, dan pada 3500 sampai 3000 tahun lalu di Pulau Ay, Banda, muncul pala. Di Situs Kendenglembu dengan pertanggalan 1332 tahun lalu, daftarnya melebar menjadi ubi jalar, garut, gadung, ganyong, kacang hijau, dan cantel. Yang paling padat justru Situs Liyangan, Temanggung, dari abad ke-7 sampai ke-10 Masehi: jali, kemiri, ketumbar, lengkuas, kunyit, kumis kucing, pisang, cantel, ganyong, garut, kimpul, dan bawang. Artinya, dapur Jawa Kuno — lengkap dengan rempah dan jamu — bisa direkonstruksi tanpa bersandar semata pada prasasti dan relief.
Dua Fase dan Sederet Kerancuan
Penulisnya membagi perkembangan itu menjadi dua fase. Fase pertama, kira-kira 2011 sampai 2018, adalah fase pengembangan metode: peneliti sibuk mencoba berbagai protokol ekstraksi pada situs-situs prasejarah seperti Kendenglembu, Here Sorot Entapa, Gua Makpan, dan Pulau Ay, dan hasil identifikasinya didominasi umbi-umbian. Pengetahuan tentang pengganggu dalam sampel masih terbatas; kristal kalsium oksalat menjadi satu-satunya unsur pengganggu yang sudah dikenal cukup baik.
Fase kedua, sejak 2022, disebut fase diversifikasi kajian: metode yang sudah baku diterapkan pada situs-situs baru di Pegunungan Meratus, Gua Arca di Kangean, dan Palemba di Sulawesi Barat, serta pada matriks baru berupa karang gigi. Jenis tumbuhan yang terbaca tak lagi terbatas pada umbi, dan daftar pengganggu bertambah dengan serbuk sari serta jamur.
Kritiknya tetap tajam. Identifikasi di Indonesia cenderung dilakukan secara kualitatif, sekadar mencocokkan tampilan butir pati temuan dengan sampel rujukan tumbuhan segar, tanpa memaparkan ciri khas tiap spesies secara eksplisit. Contohnya, temu lawak dan temu mangga dilaporkan memiliki bentuk butir pati yang sama, yakni lonjong hingga elips, sementara keterangan soal titik pusat, garis silang optik, dan lapisan pertumbuhan tidak ada — celah yang bisa melahirkan bias. Penulis mengusulkan pemakaian kunci determinasi, model yang lazim dipakai untuk mengidentifikasi makhluk hidup. Hanya satu penelitian, yaitu di Pulau Ay pada 2018, yang menggabungkan identifikasi kualitatif dengan perbandingan kuantitatif berbasis pembelajaran mesin, dan model itu belum pernah dicoba lagi oleh peneliti lain di Indonesia.
Persoalan lain berupa jumlah dan kebersihan sampel. Perolehan butir pati dari artefak dan sedimen rata-rata kurang dari sepuluh butir per sampel, sehingga tafsir yang dihasilkan — terutama tentang kondisi lingkungan — kurang meyakinkan. Kontaminasi juga jarang dikendalikan: penyimpanan artefak di gudang dalam waktu lama bisa menyebabkan pencemaran lewat kantong plastik, dan koleksi batu pipisan serta gandik dari Situs Liyangan tercatat kurang terawat karena diletakkan di permukaan lantai. Persoalan perawatan koleksi seperti ini bergandengan dengan urusan penilaian risiko pada situs cagar budaya yang belakangan makin banyak dibicarakan.
Kesenjangan yang Ditinggalkan
Tiga keterbatasan disorot penulis sebagai pekerjaan rumah. Pertama, cakupan wilayah kajian yang terpusat di Indonesia bagian tengah. “Hingga saat ini, penelitian butir pati dari wilayah Papua belum dilakukan,” tulisnya, merujuk pada pustaka yang terkumpul sampai 2024 — padahal penelitian sejenis di Papua Nugini sudah mengungkap aktivitas bercocok tanam awal pada 7.000 tahun lalu. Kedua, dominasi situs prasejarah, sementara peluang di situs masa Klasik justru menjanjikan karena prasasti, naskah, dan relief bisa membantu tafsir. Ketiga, belum adanya basis data sampel rujukan butir pati tumbuhan Indonesia yang lengkap dan terbuka, padahal kajian fitolit dan serbuk sari sudah lama memilikinya.
Penelitian ini sendiri berupa kajian pustaka, bukan analisis laboratorium baru, dan sepenuhnya bergantung pada apa yang terpublikasi dan terindeks di tiga kanal penelusuran tadi. Artikelnya merupakan pengembangan dari kajian literatur tugas akhir penulis di Program Studi S-2 Arkeologi FIB UGM — kampus yang sama yang selama ini menjadi tempat lahirnya sebagian besar penelitian butir pati di Indonesia, sebagaimana kampus lain menjadi tempat lahirnya penemuan spesies baru dan aneka riset dasar lain. Penutupnya berupa penilaian atas kedudukan metode itu sendiri: “Oleh sebab itu, kedudukan analisis butir pati tidak dapat dipandang sebelah mata dalam kajian arkeobotani,” tulis Arrozain, seraya menyebut kolaborasi lintas bidang sebagai jalan yang sudah selayaknya ditempuh. Sebagian jejak yang ditunggu itu memang masih tersimpan di tempat-tempat yang belum terjamah, tak jauh berbeda dengan naskah kuno yang menunggu dibaca ulang di gua-gua Qumran.














![Jose Mourinho bersama Presiden Real Madrid Florentino Perez pada acara perkenalannya di Ciudad Real Madrid. [Foto: Real Madrid]](https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/Jose-Mourinho-bersama-Presiden-Real-Madrid-Florentino-Perez-pada-acara-perkenalan.webp?resize=100%2C75&ssl=1)

