Cekricek.id — Tahap pertama bukan pertemuan, bukan pula percakapan, melainkan bertukar daftar riwayat hidup. Formatnya mirip lamaran kerja: usia, pendidikan, lalu keterangan yang jarang dibicarakan di kencan mana pun — riwayat kesehatan, kelainan bawaan, dan utang yang belum lunas, bila ada. Kalau isi berkas itu dinilai memuaskan, barulah kedua calon boleh melangkah ke tahap kedua, yakni bertanya-tanya tentang watak masing-masing kepada teman, saudara, dan rekan kerja. Pertemuan langsung baru datang belakangan, dengan keluarga atau murabbi sebagai pendamping.
Urutan itu diambil dari Ta’aruf 5.0, buku panduan yang ditulis seorang pembuat konten dan muncul berulang kali sebagai properti di dalam serial webnya sendiri. Judulnya meminjam istilah pemasaran yang sempat populer, tetapi angka lima di sana sebenarnya merujuk pada jumlah tahapan: tukar berkas, cari tahu lewat orang terdekat, pertemuan membahas rencana tiga sampai sepuluh tahun ke depan, permintaan restu orang tua, dan terakhir salat istikharah. Seluruh rangkaian dianjurkan rampung dalam dua sampai tiga bulan. Gagal di satu tahap, prosesnya berhenti.
Kanal itu dan penontonnya menjadi bahan penelitian Andina Dwifatma, dosen pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, lewat artikel Ta’aruf, pious asceticism, and shared meaning-making in Islamic YouTube web series, yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 27 No. 1 pada 2026. Ia mewawancarai pasangan pendiri kanal, para pemain, peserta webinar, dan anggota komunitas penontonnya, sambil menelaah buku serta antologi yang diterbitkan kanal tersebut. Kesimpulannya menempatkan serial web Islami sebagai apa yang ia sebut cultural commons — commoning di sini berarti cara sekumpulan orang merawat dan menafsirkan bersama sesuatu yang mereka nikmati beramai-ramai, sehingga maknanya lahir dari perundingan di antara mereka sendiri, bukan diturunkan dari satu mimbar.
Dari Lagu di Soundcloud ke Kanal 594 Ribu Pelanggan
Kanal yang diteliti Andina, Positiverse Creations, dimulai sebagai proyek iseng suami istri yang dalam artikel itu disamarkan namanya menjadi Banu dan Naya. Banu gemar menulis lagu dan cerita sejak sekolah menengah meski kuliah di administrasi bisnis. Pada 2011 ia bekerja di sebuah pusat komputer di Bandung; akses ke perangkat itu membuatnya mengunggah lagu ke Soundcloud dan cerita ke Facebook. Pada 2015 ia dan Naya merilis Cinta positif, video musik sembilan episode tentang dua anak muda Muslim yang saling tertarik tetapi memilih menahan diri dan menuntaskan urusan kuliah serta karier lebih dulu sebelum menikah. Tiap episode punya lagu sendiri. Total penayangan sembilan episode itu mencapai 9,9 juta.
Naya, sarjana gizi yang sebelumnya bekerja sebagai analis nutrisi dan pemasar produk di perusahaan katering makanan sehat, sudah berhenti bekerja ketika anak pertama mereka lahir. Sukses Cinta positif membawa tawaran lain: lagu-lagu Banu dipakai sebagai nada sambung pribadi oleh operator telekomunikasi nasional, dan sebuah penerbit besar mengontraknya untuk novel dengan alur serupa. Pada 2018 Banu ikut lokakarya penulisan skenario selama dua bulan di Jakarta, lalu pulang ke Bandung membuat Singlelillah, permainan kata Inggris-Arab yang kira-kira berarti melajang karena Allah.
Serial itu meledak sebagian karena kebetulan. Dua pemeran utamanya jatuh cinta sungguhan, sepakat menempuh ta’aruf, dan menikah tak lama setelah syuting rampung. Pemeran perempuannya adalah bekas anggota sebuah grup vokal perempuan terkenal yang mundur di puncak popularitas untuk berhijrah, dan kisah itu ramai diberitakan media hiburan sebagai perpindahan dari fiksi ke kenyataan. Banu lantas berhenti dari pekerjaannya sebagai teknisi laboratorium komputer di sebuah kampus Bandung dan menjadi pembuat konten penuh waktu.
Per 17 Agustus 2025, Andina mencatat kanal itu memiliki 594.000 pelanggan, 118 video, dan 63.844.895 penayangan — nomor dua setelah kanal serial web Islami terbesar di Indonesia yang punya 760.000 pelanggan dan 83.888.220 penayangan. Ongkos produksi satu serial berisi lima sampai enam episode ditaksir Rp200 juta, difilmkan sepekan di Bandung, Cianjur, dan sekitarnya. Sejak 2022 sponsor merek mulai masuk, tetapi pendirinya sengaja tidak bergantung padanya dan menjual produk turunan: kaus, tas, buku agenda, tiket seminar, sampai paket nonton yang dibundel webinar.
Buku yang Muncul Tepat Saat Tokohnya Bingung
Buku Ta’aruf 5.0 tidak hanya dijual, tetapi juga ditanam di dalam cerita. Dalam serial Cinta positif, buku itu muncul persis ketika tokoh utamanya bersiap menikah dan kebingungan soal tata caranya; mereka mendatangi seorang konselor ta’aruf yang diperankan Banu sendiri, dan sang konselor menyerahkan buku tersebut. Andina membaca ini sebagai paratext, yaitu bahan pendamping yang bukan cuma alat promosi melainkan juga pembentuk harapan penonton terhadap isi tontonannya. Akun media sosial pribadi Banu bekerja dengan cara yang sama, penuh selebaran webinar dan seminar pranikah. Ketika ia muncul sebagai konselor di layar, penonton sudah tahu apa yang akan didengar.
Kekhawatiran Banu sendiri justru tertuju pada gerakan antipacaran yang lebih keras, yang menurut dia berisiko disalahpahami dan mendorong anak muda menikah tanpa bekal pengetahuan cukup. Ia menempatkan versinya sebagai yang lebih menyeluruh, karena membahas pernikahan dan bukan sekadar larangan. Berbeda dari kampanye yang mengandalkan tudingan dosa, serial web bekerja lewat tokoh dan alur yang terasa dekat, disampaikan oleh sesama anak muda, bukan oleh figur yang lebih tua dan lebih alim. Pilihan pasangan dalam kerangka ini bukan urusan pribadi — tema yang juga akrab dalam anjuran memilih pasangan menurut ajaran Islam yang beredar luas — melainkan keputusan yang melibatkan murabbi, teman, kolega, dan orang tua sekaligus.
Muslimah Sebagai Pasar Sekaligus Sumber Cerita
Andina menunjukkan bahwa seluruh bangunan itu bertumpu pada penonton perempuan. Banu mengakuinya terang-terangan: di hampir semua acara mereka, sekitar 70 persen hadirin perempuan, dan hampir selalu datang berombongan — teman sekolah, teman kuliah, kelompok mengaji, bahkan kelompok penggemar K-Pop — sehingga mereka membutuhkan identitas bersama, dan di situlah merek Sisterlillah masuk.
Latar hidup Banu ikut membentuk perhatian itu. Ayahnya meninggal ketika ia berusia tujuh tahun dan ibunya tidak menikah lagi; salah satu ingatan terkuatnya adalah menyaksikan kakak perempuannya menikah muda lalu meninggal karena komplikasi persalinan. Ia menikahi Naya pada usia 23 tahun dan kini punya tiga anak, semuanya perempuan. Naya mengurus rumah dan anak-anak sambil menjadi tangan kanan produksi serta pembaca pertama naskah suaminya, dengan hari yang dimulai di dapur sebelum subuh dan berlanjut ke rapat konten di lantai dua rumah mereka di Ujungberung.
Produk cetaknya mengikuti garis yang sama. Antologi Cara muslimah memperjuangkan cinta (2020) memuat 25 esai tulisan penonton perempuan, yang seluruhnya kurang lebih mengulang satu pesan: menahan perasaan atau menyerahkannya kepada orang tua dan murabbi adalah jalan terhormat, dan kehormatan itulah yang menentukan nilai seorang muslimah. Buku Muslimah dalam penantian (2022) yang ditulis Naya bersama Banu disusun berurutan dari masa lajang sampai berumah tangga, dengan sampul putih, ungu, dan merah muda yang senada dengan buku agenda Sisterlillah. Kata produktif dan berdaya kerap muncul di dalamnya, tetapi selalu berujung pada peran merawat keluarga; salah satu ilustrasinya menggambarkan perempuan bertangan enam yang memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh anak sekaligus, dan gambar itu disajikan sebagai bukti kemampuan, bukan sebagai keluhan atas beban.
Sikap itu ditegaskan Banu dalam wawancara. “Menjadi ibu, menurut saya, peran paling mulia yang Allah pilihkan untuk muslimah. Tidak bisa disangkal,” katanya seperti dikutip Andina, seraya menambahkan bahwa berdaya tidak berarti perempuan boleh mengabaikan kodrat. Ketika ditanya apakah keberatan disebut feminis, ia berpikir lama lalu menjawab tidak, karena merasa mengakui perempuan sebagai sosok kuat — meski ia tidak setuju pada sejumlah tuntutan feminisme, termasuk hak perempuan memilih tidak punya anak, dan tetap menempatkan suami sebagai pemimpin keluarga.
Cinta yang Ditunda dan Ditaruh di Akhir
Dari sisi ini, tulis Andina, ta’aruf bekerja sebagai penawar romantika. “Ikatan batin di kalangan Muslim muda urban tidak lagi dibangun sebagai menikah karena cinta atau kelekatan emosional, melainkan sebagai kecocokan di atas kertas,” tulisnya. Kasih sayang tidak hilang, tetapi berpindah posisi: bukan lagi sebab atau dasar, melainkan ganjaran yang diterima setelah prosedurnya dilalui. Inilah yang ia sebut askese saleh, laku menahan diri yang dibungkus kesalehan.
Beban penahanan itu tidak dibagi rata. Seorang peserta webinar merumuskannya dengan lugas. “Menurut saya keuntungan terbesar ta’aruf bagi perempuan adalah menjaga kehormatan kami. Dalam pacaran, kamilah yang lebih berisiko,” ujarnya. Kenikmatan jasmani dipandang sebagai hasrat laki-laki yang merugikan perempuan bila dituruti, sehingga ta’aruf dibaca sebagai rem bagi yang satu dan perisai bagi yang lain. Andina menautkannya pada temuan lama tentang pemisahan penonton perempuan di balik layar putih pada pertunjukan wayang, yang mencerminkan keyakinan bahwa kehormatan keluarga bergantung pada kesucian perempuannya. Semua ini beredar lewat kanal yang sama dengan tempat orang tua hari ini memperdebatkan tontonan anak di YouTube, dan tumbuh bersama percakapan tentang etika digital di kalangan pelajar Muslim.
Jajak Pendapat 4.011 Suara
Yang membuat kesimpulan Andina tidak searah adalah reaksi penontonnya. Dalam jajak pendapat di akun Instagram resmi Sisterlillah, pengikut ditanya apa yang akan mereka pilih bila keputusan sepenuhnya di tangan sendiri. Dari 4.011 suara, 40 persen memilih melanjutkan studi, 24 persen memulai usaha, 23 persen menikah, dan 13 persen bekerja. Artinya, di komunitas penggemar yang seluruhnya perempuan dan sepakat bahwa ta’aruf adalah cara paling Islami mencari jodoh, menikah tetap bukan pilihan pertama bila ada pilihan lain.
Cerita perorangan memperjelas jarak itu. Ajeng dua kali menempuh ta’aruf dan dua-duanya berhenti di tahap pertemuan langsung; sekali karena tidak ada kecocokan rasa, sekali lagi karena calonnya terlalu tua. Devi belum pernah mencoba dan membayangkan akan canggung membicarakan urusan pribadi di depan pendamping, sehingga ia lebih suka berkenalan dulu sebagai teman — bukan pacaran — sebelum masuk ta’aruf. Utari khawatir jenuh bila hanya di rumah dan ingin tetap mengajar setelah menikah. Ajeng bahkan berpikir sampai ke urusan hitam di atas putih. “Saya akan membuat perjanjian hukum untuk memastikan dia menepati janjinya. Tapi kalau boleh memilih, saya akan tetap bekerja dan produktif,” katanya.
Kecemasan itu punya dasar. Andina merujuk studi tentang keikutsertaan perempuan Indonesia di pasar kerja yang mencatat sekitar 46 persen perempuan berhenti bekerja setahun setelah anak pertama lahir, dengan taksiran 8,5 juta perempuan berusia 20–24 tahun keluar dari pasar kerja setelah melahirkan. Sebagian besar narasumbernya berasal dari keluarga kelas pekerja, dan sebagian termasuk generasi sandwich yang menanggung orang tua serta adik, sehingga penghasilan sendiri bukan soal kemandirian semata melainkan kewajiban keluarga. Peneliti demografi yang ia kutip juga menyimpulkan tren cinta halal hanya sedikit menahan kecenderungan panjang menunda usia kawin.
Andina menandai batas temuannya sendiri. Ia menelaah satu kanal, bukan seluruh lanskap serial web Islami; nama-nama pendiri dan penonton yang ia wawancarai disamarkan; dan artikel ini merupakan bagian dari disertasinya yang dipertahankan di Monash University pada 2024, yang sedang ia olah menjadi buku sehingga cakupan dan penekanannya bisa berubah. Ia juga menegaskan ta’aruf belum menjadi arus utama: dari pengamatannya terhadap Muslim kebanyakan, pacaran masih menjadi jalan lazim menuju pernikahan, dan bahkan para penonton setia kanal itu menaruh ta’aruf sebagai cita-cita yang tidak harus segera dikejar. Di luar dua serial yang sudah berjalan, dua proyek lanjutan kanal tersebut, Brotherlillah untuk penonton laki-laki dan After akad untuk pasangan yang sudah menikah, sampai penelitian ini rampung masih berupa rancangan tanpa jadwal.
















