Cekricek.id — Seorang perempuan berusia 60 tahun, pensiunan guru, mengajak cucunya yang baru duduk di kelas satu sekolah dasar berkeliling Museum Biologi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Sang cucu datang karena diajak. Neneknya datang karena pernah ke sana sebelumnya — dan begitu melihat deretan awetan di dalam lemari kaca, ia teringat kunjungannya ke museum yang sama pada awal tahun 2000. Di ruang lain, seorang ibu berusia 27 tahun mengantar anaknya yang masih taman kanak-kanak. Anaknya suka bertanya soal apa saja yang ia lihat, tetapi si ibu sendiri mengaku tidak bisa menikmati kunjungan itu karena tidak ada satu pun yang bisa dimainkan.
Delapan orang dari empat keluarga itulah yang menjadi narasumber Narezwari Nindya Pramesti dari Departemen Arkeologi Universitas Gadjah Mada dalam artikel Pengembangan Program Edukasi Keluarga Berbasis Koleksi di Museum Biologi, yang terbit di Jurnal Arkeologi Nusantara Volume 3 Nomor 1 tahun 2025. Persoalan yang ia angkat berangkat dari satu kesenjangan sederhana. “Saat ini, belum ada program khusus di Museum Biologi yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga,” tulisnya dalam artikel tersebut.
Museum Biologi berada di bawah Fakultas Biologi UGM dan merupakan museum universitas bertema sejarah alam. Visinya menempatkan diri sebagai pusat informasi hayati untuk pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Koleksinya berupa awetan flora dan fauna yang dipajang di sepuluh ruang pamer, dikelompokkan menjadi awetan basah, taksidermi, kerangka, dan insektarium.
Empat Keluarga, Delapan Suara
Pengumpulan datanya berlangsung pada September 2024 lewat pengamatan langsung terhadap keluarga yang sedang berkunjung serta wawancara mendalam, masing-masing sekitar 30 menit, baik secara tatap muka maupun melalui telepon. Narasumbernya dipilih secara sengaja: keluarga yang pernah berkunjung ke museum itu, ditambah pengelola museum.
Komposisi narasumbernya sendiri sudah bercerita. Seluruh responden dewasa dalam penelitian ini perempuan — tiga ibu dan satu nenek — sebab selama periode penelitian tidak ada ayah atau laki-laki dewasa yang bisa diwawancarai. “Secara tidak langsung, komposisi ini memberikan gambaran bahwa peran ibu dan pengasuh perempuan lebih dominan dalam aktivitas kunjungan bersama anak,” tulis Narezwari.
Anak-anak yang ikut berkunjung berusia 6, 7, 9, dan 15 tahun, dari jenjang taman kanak-kanak sampai kelas dua sekolah menengah pertama. Ibu-ibunya berusia 27, 35, dan 37 tahun, sementara neneknya 60 tahun. Motivasi kunjungan mereka terbelah menjadi dua: belajar dan rekreasi. Dari delapan responden, tiga orang datang untuk mendapatkan pengetahuan baru, tiga orang untuk pengalaman baru, dan dua orang mencari kesenangan.
Satu keluarga datang khusus untuk mengerjakan tugas sekolah. Anak yang duduk di bangku SMP itu sibuk mengidentifikasi fauna koleksi museum, sementara ibunya hanya mengantar dan melihat-lihat tanpa menunjukkan ketertarikan pada koleksi tertentu, sesekali membantu mencari objek yang disebut dalam tugas anaknya. Keluarga lain datang justru karena si anak sudah lebih dulu jatuh cinta pada hewan lewat buku bacaan, lalu ingin melihat wujud nyata dari apa yang pernah dibacanya.
Harimau, Beruang, dan Kerangka Gajah
Koleksi yang paling banyak disukai adalah hewan berukuran besar. Harimau menempati posisi teratas karena dalam buku-buku yang dibaca anak-anak, hewan itu digambarkan kuat dan besar. Beruang dianggap menarik dengan alasan lain: hewan itu tidak mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kerangka gajah dipilih karena bentuknya yang unik.
Orang tua punya selera berbeda. Bagi mereka, kerangka hewan yang belum pernah mereka temui, seperti kerangka duyung, justru lebih memikat. Ada pula responden yang sama sekali tidak bisa menentukan pilihan karena merasa terlalu banyak koleksi berulang yang ditampilkan.
Jejaknya bertahan cukup lama. Seorang anak menyatakan masih mengingat betul apa yang dilihatnya meski kunjungan terakhirnya sudah setahun berlalu, dan ia menceritakan pengalaman itu kepada teman-teman sekolahnya. Anak lain yang menaruh minat pada harimau merasa kunjungannya menambah pengetahuan dan ingin datang lagi untuk mencari informasi tentang hewan lain. Museum semacam ini memang punya daya simpan memori yang jarang dimiliki ruang belajar lain, sebagaimana terlihat pada museum-museum daerah yang menyimpan ingatan kolektif warganya.
Terasa Gelap dan Tak Ada yang Bisa Dimainkan
Keluhan yang muncul pun cukup terus terang. Seorang ibu menilai museum itu kurang menarik karena koleksinya hanya dipamerkan di dalam lemari vitrin dan ruangannya terasa gelap. Seorang anak menganggap cara penyampaian koleksinya monoton dan tidak ada cara penyajian yang lebih modern. Ibu yang datang bersama anak taman kanak-kanak tidak menemukan apa pun yang bisa dimainkan.
Penulisnya mencatat bahwa keempat jenis koleksi museum itu dipamerkan dengan cara yang cenderung seragam: dimasukkan ke dalam vitrin dan diberi label keterangan. Tidak ada media penyampaian lain seperti pemutaran video atau displai interaktif. Hambatan kedua menyangkut materi edukasinya, yang menurut para narasumber lebih mudah dipahami orang dewasa sehingga kurang relevan bagi anak-anak.
Yang menolong adalah kehadiran pemandu. Para narasumber menyebut interaksi mereka di dalam museum sangat terbantu oleh pemandu yang menemani keluarga selama kunjungan. Konsekuensinya, nilai kunjungan justru berkurang bila dilakukan tanpa pemandu karena informasi yang didapat menjadi tidak lengkap. Persoalan cara menyampaikan pengetahuan kepada anak dengan bahasa yang tepat ini juga menjadi perhatian para pendidik, termasuk peringatan agar orang dewasa tidak terburu-buru menyimpulkan kemampuan seorang anak.
Bingo dari Leiden dan Kegiatan Akhir Pekan Smithsonian
Untuk menyusun usulannya, penulis menengok program keluarga yang sudah berjalan di museum lain. Wereld Museum Leiden punya program bernama Museum Bingo untuk keluarga dengan anak berusia 4 sampai 6 tahun. Keluarga mengambil lembar kerja di meja registrasi, lalu berkeliling museum mencari koleksi yang tercantum di dalamnya. Lembar itu memuat foto dan penjelasan singkat tiap koleksi; setiap kali menemukan, peserta memberi tanda, dan mereka yang berhasil menemukan semuanya mendapat hadiah.
National Museum of Natural History Smithsonian punya program bernama Play Date yang memberi kesempatan keluarga mengamati, membicarakan, dan mendiskusikan koleksi lewat interaksi langsung dengan benda-benda bertema khusus yang boleh disentuh. Natural History Museum of Utah menjalankan program yang mengikuti tema hari peringatan, seperti hari keluarga, hari bumi, dan hari valentine, berisi pembuatan karya seni, lokakarya, dan eksperimen sains.
Kerangka berpikir yang dipakai adalah pergeseran dari museologi lama yang memberi edukasi satu arah ke museologi baru yang menuntut edukasi dua arah, ditambah gagasan edutainment — gabungan pendidikan dan hiburan — yang menempatkan pengunjung sebagai pelaku, bukan penerima informasi.
Biohunter, Hewan Buas, dan Tanaman Obat
Dari situ lahir tiga usulan program yang dibagi menurut usia anak. Yang pertama bernama Biohunter, kegiatan berburu harta karun selama 45 menit untuk orang tua bersama anak berusia 4 sampai 12 tahun, dan dirancang berjalan rutin. Keluarga dibekali peta Museum Biologi berikut petunjuk, lalu mencari koleksi dengan ciri tertentu. Orang tua berperan membaca peta dan menunjukkan jalan, sementara anak mencari petunjuk dan mengerjakan tugas di tiap pos. Pengelola museum hanya bertugas memberi pengantar, setelah itu keluarga berjalan mandiri. Yang berhasil menyelesaikan permainan mendapat cinderamata. Materinya soal ciri, habitat, makanan, dan kebiasaan satwa, dengan pesan pelestarian yang disampaikan secara tersirat.
Program kedua bernama Bio Jungle, bersifat temporer dengan pendaftaran khusus, berlangsung satu sampai dua jam, dan dibatasi maksimal lima keluarga dengan anak berusia 10 sampai 15 tahun. Keluarga diajak mengamati dan mencatat hewan buas yang dipamerkan, lalu mendapat edukasi dan praktik langsung soal cara menghadapinya. Program ini membutuhkan komunitas terkait sebagai instruktur.
Program ketiga berbentuk tur bertajuk Let the Nature Heal Us, juga temporer dan dibatasi lima keluarga, untuk anak berusia 12 sampai 18 tahun. Keluarga mengamati dan mencatat tanaman obat koleksi museum, kemudian mempraktikkan pembuatan pertolongan pertama dari tanaman tersebut. Alasan yang dikemukakan penulis praktis saja: tanaman obat kini jarang dipakai sebagai pertolongan pertama di rumah. Museum sejarah alam memang menyimpan bahan mentah semacam itu dalam jumlah besar, sebagaimana koleksi serangga yang kerap menjadi pintu masuk penemuan spesies baru oleh peneliti kampus.
Ada beberapa hal yang membatasi kesimpulan kajian ini. Narasumbernya hanya empat keluarga dengan delapan orang responden yang dipilih secara sengaja, dikumpulkan dalam satu bulan, dan tidak memuat satu pun responden ayah atau laki-laki dewasa — sesuatu yang diakui sendiri oleh penulisnya. Ketiga program yang diusulkan pun baru berupa rancangan di atas kertas dan belum pernah dijalankan, sehingga efektivitasnya belum bisa dinilai. Artikelnya terbit pada 2025.
Menutup kajiannya, Narezwari menyarankan agar Museum Biologi memulai dari program yang tidak memberatkan pengelola seperti Biohunter, lalu menggandeng komunitas terkait untuk menjadi fasilitator pada program yang membutuhkan keahlian khusus. Ucapan terima kasihnya ditujukan kepada pengelola Museum Biologi UGM yang memberi fasilitas penelitian serta Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM.
















