Cekricek.id — Kimia darah manusia bergeser perlahan seiring naiknya kadar karbon dioksida di atmosfer. Kesimpulan itu diumumkan sekelompok peneliti Australia yang menelaah data pemeriksaan darah warga Amerika Serikat selama lebih dari dua dekade dan mendapati kadar bikarbonat naik sekitar 7 persen sejak 1999.
Dikutip dari laman ScienceDaily, sciencedaily.com, Sabtu (15/8/2026), penelitian itu dikerjakan The Kids Research Institute Australia bersama Curtin University dan Australian National University. Tim menelaah hasil pemeriksaan darah sekitar 7.000 orang yang dikumpulkan antara 1999 dan 2020 melalui survei kesehatan nasional Amerika Serikat, National Health and Nutrition Examination Survey atau NHANES.
NHANES adalah survei yang menggabungkan wawancara rumah tangga dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium terhadap sampel penduduk Amerika Serikat, dan dijalankan berulang setiap beberapa tahun. Karena metodenya konsisten selama puluhan tahun, datanya kerap dipakai untuk melacak perubahan penanda kesehatan populasi dalam rentang panjang. Itulah yang dimanfaatkan tim Australia tersebut untuk membandingkan hasil laboratorium lintas generasi.
Selain bikarbonat yang menanjak, kadar kalsium dan fosfor dalam darah justru menurun pada periode yang sama. Para peneliti menyebut pola itu berjalan beriringan dengan kenaikan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer sepanjang rentang 1999 hingga 2020.
Baca juga: Stetoskop AI Terbukti Sering Lewatkan Murmur Jantung pada Kucing dan Anjing
“What we’re seeing is a gradual shift in blood chemistry that mirrors the rise in atmospheric carbon dioxide, which is driving climate change,” kata Associate Professor Alexander Larcombe, peneliti utama studi tersebut. Dalam pernyataan berbahasa Inggris itu ia menjelaskan bahwa yang timnya lihat adalah pergeseran bertahap kimia darah yang mencerminkan kenaikan karbon dioksida atmosfer, gas yang mendorong perubahan iklim.
Bikarbonat, Penyangga Keasaman Darah
Bikarbonat adalah komponen sistem penyangga yang menjaga keasaman darah tetap berada dalam rentang sempit. Ketika tubuh menghadapi kelebihan karbon dioksida, ginjal mengompensasi dengan menahan lebih banyak bikarbonat agar keasaman darah tidak melenceng. Kenaikan kadar bikarbonat karena itu dibaca peneliti sebagai penanda tubuh sedang bekerja lebih keras menyeimbangkan diri.
Perubahan kadar bikarbonat dalam praktik klinis biasanya dibaca bersama penanda lain untuk menilai gangguan asam basa. Pergeseran kecil pada tingkat populasi umumnya tidak terasa oleh individu, tetapi dapat terlihat ketika ribuan hasil laboratorium dibandingkan lintas tahun. Pendekatan itulah yang dipakai peneliti untuk menangkap tren yang tidak muncul pada pemeriksaan tunggal.
Baca juga: Terumbu Karang Groote Archipelago Dipetakan Ilmuwan, Ungkap Dampak Pemutihan Massal
Larcombe menekankan bahwa nilai rata-rata yang tercatat sampai 2020 belum keluar dari rentang yang dianggap sehat. Yang mengkhawatirkan timnya adalah arah dan kecepatan perubahannya. “If current trends continue, modeling indicates average bicarbonate levels could approach the upper limit of today’s accepted healthy range within 50 years,” ujarnya. Maksudnya, bila tren sekarang berlanjut, pemodelan menunjukkan rata-rata kadar bikarbonat berpotensi mendekati batas atas rentang sehat yang berlaku hari ini dalam waktu 50 tahun.
Diterbitkan di Jurnal Air Quality, Atmosphere & Health
Temuan itu dipublikasikan Alexander N. Larcombe dan Phil N. Bierwirth dengan judul Carbon dioxide overload, detected in human blood, suggests a potentially toxic atmosphere within 50 years di jurnal Air Quality, Atmosphere & Health edisi volume 19 nomor 3 tahun 2026.
Bierwirth, ahli geosains lingkungan yang kini pensiun, berpendapat pergeseran itu memperlihatkan tubuh manusia tidak menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. “I actually think that what we are seeing is because our bodies are not adapting,” katanya. Ia menilai perubahan yang terekam pada darah bukan bentuk adaptasi, melainkan tanda tekanan yang terus berjalan.
Penelitian ini bersifat pengamatan. Ia memperlihatkan dua tren yang berjalan berbarengan dalam rentang dua dekade, yaitu kenaikan karbon dioksida atmosfer dan pergeseran penanda kimia darah, tanpa merancang percobaan untuk membuktikan hubungan sebab akibat secara langsung. Karena datanya berasal dari NHANES, sampel yang dipakai juga terbatas pada penduduk Amerika Serikat.
Baca juga: Peneliti OIST Ciptakan Saklar Molekul Cahaya yang Bisa Berpendar dan Berubah Struktur
Judul Makalah yang Memancing Perdebatan
Judul makalah yang menyebut kemungkinan atmosfer menjadi toksik dalam 50 tahun tergolong keras untuk ukuran publikasi ilmiah dan berpotensi memicu perdebatan di kalangan peneliti kesehatan lingkungan. Klaim itu bersandar pada pemodelan tren, bukan pengukuran langsung terhadap dampak klinis pada pasien.
Larcombe dan Bierwirth mendorong pemantauan lanjutan atas penanda kimia darah populasi seiring naiknya karbon dioksida atmosfer. Sampai laporan ini disusun, belum ada tanggapan dari lembaga kesehatan lain atas proyeksi 50 tahun yang mereka ajukan.


















