Uni Eropa Tambah 10,5 Juta Euro Bantuan Kemanusiaan untuk Myanmar

Pengungsi di tenda darurat

Ilustrasi pengungsi di tenda darurat. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Uni Eropa menambah bantuan kemanusiaan senilai 10,5 juta euro atau sekitar Rp189 miliar (kurs perkiraan Rp18.000 per euro) untuk Myanmar. Dana itu ditujukan bagi warga yang terdampak konflik, pengungsian, serta bencana termasuk banjir bandang yang baru saja melanda sejumlah wilayah negara itu.

Dikutip dari laman resmi Komisi Eropa bidang perlindungan sipil dan bantuan kemanusiaan, civil-protection-humanitarian-aid.ec.europa.eu, Kamis (13/8/2026), tambahan tersebut membawa total bantuan kemanusiaan Uni Eropa untuk Myanmar sepanjang 2026 menjadi 49,1 juta euro atau sekitar Rp884 miliar.

Krisis yang Meluas Drastis

Komisi Eropa menyebut kebutuhan kemanusiaan di Myanmar membengkak tajam dalam lima tahun terakhir. Saat ini sekitar 16,2 juta orang membutuhkan bantuan — setara sekitar seperempat penduduk Myanmar — sementara sistem kesehatan disebut nyaris runtuh dan ekonomi terjun bebas. Myanmar juga tercatat sebagai negara dengan korban ranjau darat dan sisa bahan peledak perang tertinggi di dunia.

Komisaris Uni Eropa untuk Kesiapsiagaan dan Manajemen Krisis, Hadja Lahbib, menggambarkan skala penderitaan itu. Dalam pernyataan berbahasa Inggris ia mengatakan, “The scale of Myanmar’s humanitarian crisis has changed beyond recognition in over the past 5 years. What was a crisis affecting around 1 million people, has now become one of the world’s largest humanitarian emergencies, with 16.2 million people in need of assistance.”

Baca juga: Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, 47 Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi

Lahbib melukiskan kehidupan warga sipil yang kian terhimpit. “Civilians live in daily fear for their lives, their coping capacities stretched to breaking point amid an economy in freefall, a collapsed health system, and one of the world’s worst hunger crises,” tuturnya. Ia menekankan komunitas internasional tidak boleh melupakan krisis ini — “We cannot allow this crisis to fade from international attention while millions continue to bear its human cost,” tegasnya.

Ke Mana Dana Disalurkan

Menurut Komisi Eropa, dana bantuan akan digunakan untuk layanan kesehatan darurat, penyediaan pangan, perlindungan warga sipil, tempat berlindung, serta peralatan air bersih dan sanitasi. Bantuan diarahkan kepada penduduk yang terdampak konflik, warga yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka, dan korban banjir bandang terbaru.

Komisi menyatakan penyaluran dilakukan melalui mitra kemanusiaan yang bekerja di lapangan, dengan fokus menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses dan paling parah terdampak. Blok Eropa itu menegaskan bantuan diberikan berdasarkan asas kemanusiaan tanpa memandang pihak yang berkonflik. Belum ada rincian resmi mengenai pembagian pasti dana 10,5 juta euro untuk masing-masing kategori, baik konflik, pengungsian, maupun tanggap darurat banjir.

Baca juga: Kasus Ebola Kongo Tembus 4.665, Africa CDC Desak Vaksinasi Segera

Beban Bertahun-tahun

Berdasarkan catatan yang dikutip Komisi Eropa, krisis di Myanmar telah merenggut lebih dari 100.000 jiwa sejak Februari 2021. Kombinasi kekerasan berkepanjangan, keruntuhan layanan dasar, dan bencana alam membuat jutaan warga hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian. Kebutuhan pangan, tempat tinggal, dan layanan kesehatan disebut meningkat lebih cepat daripada kemampuan lembaga bantuan menjangkaunya.

Uni Eropa telah menyalurkan bantuan dalam beberapa gelombang sepanjang 2026. Pada Januari, blok itu mengalokasikan 63 juta euro untuk merespons krisis Myanmar dan dampaknya terhadap negara-negara tetangga, termasuk pengungsi Rohingya. Tambahan 10,5 juta euro kali ini secara khusus memperkuat respons di dalam Myanmar, termasuk bagi korban banjir bandang yang melanda pada musim hujan, dan menempatkan Uni Eropa sebagai salah satu penyumbang terbesar bagi negara itu.

Situasi kemanusiaan di Myanmar kerap diperparah bencana musiman. Banjir dan tanah longsor pada musim penghujan berulang kali menggusur puluhan ribu warga, menambah beban di atas pengungsian akibat kekerasan. Komisi Eropa menyatakan bantuan darurat diarahkan agar keluarga terdampak dapat mengakses air bersih, pangan, dan layanan kesehatan secepat mungkin melalui mitra di lapangan.

Baca juga: Hujan Rekor Rendam Chiba Jepang, Sembilan Tewas dan 400.000 Warga Mengungsi

Uni Eropa selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi respons kemanusiaan di Myanmar. Penyaluran umumnya dikoordinasikan bersama badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi nonpemerintah yang telah beroperasi di lapangan. Blok itu menyatakan akan terus memantau situasi dan menilai kebutuhan tambahan seiring perkembangan, sekaligus menyerukan agar seluruh pihak menjamin akses aman bagi pekerja kemanusiaan yang menyalurkan bantuan kepada warga terdampak.

Baca Juga

Bendera India berkibar
Modi Janji India Jadi Negara Maju 2047, Latih 10 Juta Anak Muda AI
Kepadatan lalu lintas di sebuah ruas jalan di Hanoi
Polisi Hanoi Terjunkan Drone Awasi Pelanggaran dan Kemacetan Lalu Lintas
Perahu terdampar di dasar sungai yang mengering
Sungai-Sungai Besar Eropa Susut ke Rekor Terendah Akibat Kekeringan
Suasana terkait proses pemilihan umum
Zambia Sempat Hentikan Penghitungan Suara Pemilu di Tengah Kekerasan
Seseorang mengenakan setelan jas
Presiden Korsel Lee Ajak Korut Akhiri Perang Korea di Hari Kemerdekaan
Menara pendingin pembangkit listrik tenaga nuklir
IAEA: PLTN Zaporizhzhia Kini Bergantung pada Satu Saluran Listrik