Cekricek.id — Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, memperingatkan Yaman berisiko kembali terseret ke dalam perang skala penuh. Peringatan itu ia sampaikan setelah kelompok Houthi meningkatkan serangan ke wilayah pemerintah dan jalur pelayaran.
Mengutip Euronews, Senin (17/8/2026), Türk menyatakan keprihatinan serius atas eskalasi kekerasan di negara termiskin di Semenanjung Arab itu. Yaman sudah dilanda perang saudara lebih dari satu dekade dan belakangan ikut tersedot ke dalam ketegangan kawasan yang jauh lebih luas.
Baca juga: PM Jepang Takaichi Absen dari Yasukuni di Peringatan 81 Tahun Akhir Perang
“I urge all parties to halt immediately any actions that risk returning Yemen to full-scale conflict,” kata Volker Türk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Ia mendesak semua pihak segera menghentikan tindakan apa pun yang berisiko mengembalikan Yaman ke konflik skala penuh.
Gencatan Senjata 2022 Ditinggalkan
Houthi yang didukung Iran meninggalkan gencatan senjata 2022 dengan pemerintah Yaman yang disokong Arab Saudi, lalu memperbesar operasi militernya. Kantor HAM PBB mencatat sejak 6 Agustus 2026 sedikitnya tujuh warga sipil tewas dan sepuluh lainnya terluka akibat serangan Houthi ke wilayah yang dikuasai pemerintah. Dua warga sipil juga terluka di wilayah kendali Houthi pada akhir Juli.
Pada 9 Agustus 2026, serangan rudal dan pesawat nirawak Houthi menghantam Pelabuhan Mokha. Tiga pekerja pelabuhan tewas dan empat lainnya luka-luka dalam serangan tersebut.
Empat Awak Kapal Kargo Tewas di Bab al-Mandeb
Dua hari berselang, sebuah kapal kargo diserang di Selat Bab al-Mandeb. Empat awak kapal tewas, terdiri atas tiga warga negara Pakistan dan satu warga negara Indonesia. Sejumlah awak lain mengalami luka-luka dalam serangan pada 11 Agustus 2026 itu.
Baca juga: Naura Ayu Kembali Punya Panggung Sendiri Setelah Tujuh Tahun Menunggu
Awal bulan ini, Houthi melancarkan serangan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Sebanyak 58 tentara pemerintah tewas, sebagian besar di Provinsi Marib. Dua warga sipil ikut menjadi korban dalam penembakan yang menyertai serangan tersebut.
Delapan Belas Juta Warga Rawan Pangan
Türk menyoroti dampak serangan terhadap infrastruktur sipil di tengah kondisi kemanusiaan yang sudah rapuh. “Attacks on civilian infrastructure risk further deepening civilian suffering at a time when at least 18 million Yemenis are already food insecure. These attacks must end immediately,” ujarnya. Serangan terhadap infrastruktur sipil, kata dia, memperdalam penderitaan warga saat sedikitnya 18 juta warga Yaman sudah berada dalam kondisi rawan pangan.
Kantor HAM PBB juga mendokumentasikan jatuhnya korban sipil di fasilitas pelabuhan, di atas kapal kargo, dan di kawasan permukiman. Rangkaian serangan itu terjadi dalam rentang kurang dari dua pekan.
“I call on all parties to de-escalate tensions and spare the Yemeni people from further misery,” kata Volker Türk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Ia meminta semua pihak meredakan ketegangan dan menyelamatkan rakyat Yaman dari penderitaan yang lebih dalam.
Baca juga: Australia Mulai Beli Kembali Senjata Api pada 2 November
Perang saudara di Yaman berlangsung sejak Houthi menguasai ibu kota Sanaa lebih dari satu dekade lalu. Gencatan senjata yang dirintis pada 2022 sempat menurunkan intensitas pertempuran selama beberapa tahun, sebelum kelompok tersebut meninggalkannya dan kembali menyerang wilayah yang dikuasai pemerintah.
Serangan Houthi belakangan tidak hanya menyasar posisi militer, tetapi juga fasilitas pelabuhan dan kapal-kapal yang melintasi perairan sekitar Yaman. Selat Bab al-Mandeb yang menjadi lokasi serangan terhadap kapal kargo pada 11 Agustus 2026 merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di kawasan tersebut.















