Cekricek.id — Krisis kepemimpinan di tubuh FIFA memasuki babak baru setelah badan sepak bola dunia itu memastikan berakhirnya hubungan kerja dengan kepala operasionalnya, Kevin Lamour, kurang dari tiga pekan setelah sang eksekutif secara terbuka menentang rencana Presiden FIFA Gianni Infantino menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Kepergian itu langsung memantik kecaman dari Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness, yang menyebut cara FIFA memperlakukan Lamour sebagai bentuk pengelolaan berbasis rasa takut.
Klaveness: Ini Pemecatan, Bukan Pengunduran Diri
Dalam wawancara dengan kantor berita AP yang dirilis Selasa, 18 Agustus 2026, Klaveness menolak versi resmi yang membingkai kepergian Lamour sebagai perpisahan biasa. Ia menegaskan bahwa Lamour disingkirkan justru karena berani menyuarakan keberatan yang, menurut dia, sudah menjadi rahasia umum di lingkungan sepak bola Eropa.
Baca juga: FairSquare Desak FIFA Tolak Pencalonan Ulang Infantino
“Sekarang dia dilempar keluar dan kami diharapkan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Itu tidak bisa diterima, itu manajemen dengan rasa takut,” kata Klaveness. Ia menambahkan, “Ini situasi pemecatan, ini bukan pengunduran diri.” Dikutip dari AP News, Klaveness juga menilai pernyataan Lamour pada akhir Juli lalu memang diperlukan untuk menghentikan proyek tersebut. “Pernyataannya perlu untuk mematikan proyek itu. Dia mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah kasatmata,” ujarnya.
Presiden federasi berusia 45 tahun itu sekaligus melayangkan seruan kepada jajaran pejabat dan staf FIFA agar tidak tunduk pada instruksi yang dinilai bertentangan dengan kepentingan olahraga tersebut. “Sekarang kami juga harus menyerukan kepada pimpinan dan administrasi FIFA untuk tidak tunduk pada perintah yang kalian sendiri tahu tidak sejalan dengan kepentingan sepak bola,” katanya.
Baca juga: Persik Kediri Kalah 0-4 dari Phnom Penh Crown di Piala Gubernur Malaka
Berawal dari Rencana Jual Saham Piala Dunia
Lamour bergabung dengan FIFA pada November 2024 setelah sebelumnya bekerja di UEFA. Sebagai chief operating officer, ia membawahi bidang keuangan, hukum dan kepatuhan, komunikasi, hubungan dengan asosiasi anggota, teknologi, operasional, serta tanggung jawab sosial, dengan kantor yang tersebar di Zurich, Paris, dan Miami.
Posisinya goyah setelah ia mengeluarkan pernyataan terbuka pada 31 Juli 2026 yang menentang FIFA Forward Enterprise, anak usaha komersial senilai 20 miliar dolar Amerika Serikat yang dirancang untuk membuka pintu bagi investor swasta menguasai 20 persen saham sejumlah turnamen utama, termasuk Piala Dunia. “Kalau itu berarti saya kehilangan pekerjaan, biarlah begitu. Saya akan memahami dan menghormati keputusan tersebut. Setidaknya malam ini saya bisa tidur dengan tenang,” kata Lamour ketika itu. Ia menuding administrasi FIFA dikelabui dalam penyusunan proposal dan menyebut rencana itu sebagai proyek satu orang.
Baca juga: 500 Pembalap Adu Cepat di Drag Bike Piala Wali Kota Pariaman
Proposal tersebut akhirnya ditarik Infantino setelah gelombang penolakan dari UEFA, CONCACAF, dan AFC, yang menyebut rencana itu sebagai pelanggaran mendasar atas kepercayaan. UEFA bahkan sempat menyatakan siap memboikot kompetisi FIFA. Sebelum Lamour, penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, lebih dulu mundur setelah menyebut skema itu sebagai kesepakatan yang buruk bagi sepak bola.
Pernyataan Resmi FIFA
Dikutip dari Euronews, juru bicara FIFA mengonfirmasi bahwa hubungan kerja kedua pihak resmi berakhir pada 17 Agustus 2026. “FIFA berterima kasih kepada Kevin atas dua tahun pengabdiannya dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya. Hubungan kerja antara FIFA dan Kevin Lamour sebagai chief operating officer FIFA telah berakhir,” bunyi pernyataan tersebut. FIFA tidak menjelaskan siapa yang akan mengisi posisi yang ditinggalkan Lamour maupun kapan penggantinya akan diumumkan.
















