Cekricek.id — Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, tetap di atas 5 persen meski melambat dari 5,61 persen pada kuartal I. Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung, Ir. Dzikri Firmansyah Hakam, S.T., Pg.Dip., M.Sc., Ph.D., menilai angka itu hanya bisa dibaca dengan memisahkan gejolak pasar keuangan dari denyut ekonomi riil.
Pertumbuhan itu terjadi di tengah konflik geopolitik, perang dagang, gangguan rantai pasok, serta tekanan nilai tukar, menurut keterangan yang dimuat itb.ac.id, Rabu, 19 Agustus 2026. Dalam pidato kenegaraan 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyebut realisasi investasi semester pertama 2026 mencapai Rp1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.
Baca juga: Banggar DPR Ingatkan Perlambatan Industri Pengolahan di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen
Pasar Keuangan Tertekan, Sektor Riil Belum Ikut Melemah
Dzikri menjelaskan sentimen investor bisa berubah dalam hitungan hari, sedangkan penyesuaian konsumsi, kredit, investasi, produksi, dan tenaga kerja butuh waktu jauh lebih panjang.
“Tekanan di pasar keuangan belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pelemahan aktivitas ekonomi riil,” ujarnya.
Salah satu sumber tekanan itu datang dari pasar saham. Pada Juni 2026, MSCI menyoroti persoalan transparansi pemegang saham dan coordinated trading di pasar saham Indonesia, serta membuka kemungkinan konsultasi soal perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market apabila perbaikan belum terlihat pada November 2026.
Menurut Dzikri, tekanan semacam itu pada tahap awal lebih memengaruhi harga aset, alokasi portofolio, risk premium, dan persepsi atas daya tarik investasi. Dampaknya ke ekonomi riil baru terasa bila berlanjut menjadi kenaikan biaya modal, perlambatan investasi, dan berkurangnya penciptaan lapangan kerja.
Ia juga meminta arus modal asing dibaca utuh. Bank Indonesia mencatat investasi portofolio asing pada kuartal II 2026 justru mengalami arus masuk bersih 8,5 miliar dolar AS, terutama ke Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
“Perkembangan tersebut lebih tepat dipahami sebagai perubahan preferensi dan alokasi portofolio, bukan semata-mata keluarnya modal asing secara menyeluruh,” jelasnya.
Konsumsi Rumah Tangga dan Kredit Jadi Bantalan
Baca juga: Indonesia Pimpin ASEAN: Menuju Era Baru Pertumbuhan dan Stabilitas
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen pada kuartal II 2026, melambat dari 5,52 persen kuartal sebelumnya, tetapi tetap menjadi penopang utama karena porsinya besar dalam struktur ekonomi. Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34 persen, masih di dalam rentang sasaran Bank Indonesia 2,5±1 persen.
Dari sisi pembiayaan, kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67 persen. Kredit investasi tumbuh 24,90 persen, kredit modal kerja 8,94 persen, dan kredit konsumsi 5,75 persen. Survei Perbankan Bank Indonesia mencatat Saldo Bersih Tertimbang penyaluran kredit baru naik menjadi 93,08 persen pada kuartal II, dari 38,74 persen pada kuartal I 2026.
“Selama fungsi intermediasi perbankan berjalan, volatilitas pasar modal tidak serta-merta menghentikan produksi, investasi, dan konsumsi,” tuturnya.
Investasi Tumbuh, Kepercayaan Swasta Belum Tentu
Konsumsi pemerintah tumbuh sekitar 15,97 persen pada kuartal II 2026, lebih rendah dari 21,81 persen pada kuartal I. Pertumbuhan itu ditopang realisasi program prioritas, percepatan belanja, pembayaran gaji ke-13 aparatur sipil negara, bantuan sosial, bantuan pangan, dan stimulus transportasi.
Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh 6,87 persen. Namun Dzikri mengingatkan bahwa penopangnya terutama investasi bangunan yang berkaitan dengan Program Kerja Prioritas Nasional, sementara investasi swasta masih perlu diperkuat. Proyek yang sudah masuk tahap konstruksi juga tidak berhenti hanya karena sentimen pasar berubah sesaat.
Baca juga: Mengintip Kemajuan Ekonomi Indonesia di Tengah Tantangan 2023
“Karena itu, ketahanan investasi tidak selalu berarti ketahanan kepercayaan investor swasta,” kata Dzikri.
Impor Naik dan Bantalan Cadangan Devisa
Pada Mei 2026, ekspor Indonesia tercatat 23,20 miliar dolar AS dan impor 24,81 miliar dolar AS sehingga terjadi defisit sekitar 1,61 miliar dolar AS. Secara kumulatif Januari–Mei 2026, neraca perdagangan masih surplus 4,03 miliar dolar AS, dengan impor tumbuh 15,24 persen dan ekspor 3,02 persen.
Kenaikan impor, menurut Dzikri, tidak otomatis menandakan ekonomi melemah karena bisa mencerminkan kebutuhan bahan baku, barang antara, energi, mesin, dan barang modal untuk produksi dalam negeri. Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 145,6 miliar dolar AS atau setara sekitar 5,5 bulan impor.
Ia menutup dengan catatan bahwa bantalan itu perlu dijaga lewat perbaikan iklim investasi agar tekanan pasar keuangan tidak menular ke sektor riil. “Pertumbuhan 5,29 persen merupakan bukti bahwa ekonomi Indonesia memiliki kapasitas menyerap tekanan dalam jangka pendek. Tantangannya adalah bagaimana menjaga kapasitas tersebut agar dapat mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
















