Cekricek.id — Gelombang investor pemula di Korea Selatan menelan kerugian besar setelah pasar saham yang sempat melonjak akibat euforia saham kecerdasan buatan (AI) berbalik anjlok tajam. Banyak dari mereka yang meminjam dana demi mengejar cuan instan kini terjebak utang dan trauma finansial.
Menurut laporan Al Jazeera, Rabu (19/08/2026), indeks Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) sempat melesat 101,14 persen pada semester pertama tahun ini, dari sekitar 5.000 poin di Januari menembus 8.000 poin pada Mei, sebelum mencatat rekor tertinggi 9.385,59 poin pada 19 Juni. Namun sejak itu indeks anjlok hingga di bawah 5.595 poin pada 30 Juli, atau turun hampir 40 persen dari puncaknya.
Salah satu korban euforia itu adalah Eun-bi, pegawai negeri sipil berusia 30-an tahun yang menarik sebagian besar tabungannya untuk membeli saham pembuat chip memori SK Hynix dan dana yang melacak industri semikonduktor Amerika Serikat. Ia berharap keuntungan investasi itu bisa membiayai pernikahannya pada April tahun depan.
Baca juga Airlangga: Investasi Semester I 2026 Tumbuh 7,2 Persen
Ketika KOSPI ambruk, portofolio Eun-bi merugi puluhan ribu dolar AS dan membuat rencana pernikahannya terancam batal.
“Sekarang saya bertanya-tanya apakah harus memperkecil skala resepsi atau melewatkan bulan madu,” kata Eun-bi kepada Al Jazeera.
Pinjaman Margin Membengkak lalu Menyusut
Menurut data Korea Financial Investment Association yang dikutip Al Jazeera, nilai pinjaman margin — utang yang dipakai investor ritel untuk membeli saham secara leverage — sempat menembus puncak 38,6 triliun won atau setara US$27,6 miliar pada Juni, sebelum menyusut menjadi 28,9 triliun won (US$20,7 miliar) pada akhir Juli seiring banyak investor terpaksa menjual rugi.
Baca juga Bolivia Pecat Menteri Ekonomi di Tengah Krisis Terburuk
Otoritas bahkan sempat menyetujui produk exchange-traded fund (ETF) berleverase yang melacak dua kali pergerakan harian saham Samsung Electronics dan SK Hynix, dengan 18 ETF baru terdaftar pada 27 Mei. Belakangan, pada 31 Juli, syarat saldo tunai minimum untuk berdagang ETF saham tunggal berleverase itu dinaikkan tiga kali lipat menjadi 30 juta won (US$21.450) untuk meredam spekulasi berlebihan.
Kritik Mengarah ke Kebijakan Pemerintah
Mantan Menteri Keadilan sekaligus pendiri Rebuilding Korea Party, Cho Kuk, melontarkan kritik keras lewat unggahan di Facebook pada 5 Agustus. Ia menyebut kebijakan pemerintah yang memuluskan ETF berleverase saham tunggal sebagai kegagalan.
“Perkenalan ETF berleverase saham tunggal oleh pemerintah adalah kegagalan kebijakan yang nyata,” tulis Cho Kuk.
Baca juga Curtis Jones Pamit dari Liverpool Setelah 16 Tahun
“Anak muda yang berinvestasi dengan mempercayai maksud pemerintah justru terjebak dalam jerat leverage yang dibuat sendiri oleh pemerintah, dan kini tertinggal dengan utang serta trauma,” tegas Cho Kuk, seraya menambahkan bahwa pasar saham tidak boleh berubah menjadi kasino.
Asisten Profesor di Universitas Dankook, Yongin, yang juga pengamat politik Korea, Benjamin Engel, menjelaskan bahwa gejolak pasar kerap berimbas ke persepsi publik terhadap pemerintah.
“Para politikus, benar atau salah, sering disalahkan atas fluktuasi di pasar,” ujar Benjamin Engel. Ia menambahkan bahwa banyak masyarakat tampak terlalu berani mengambil pinjaman demi berinvestasi secara leverage.
Presiden Lee Jae Myung Tertekan
Presiden Lee Jae Myung, yang semasa kampanye berjanji mendorong KOSPI menembus 5.000 poin dan aktif mengajak warga berinvestasi di pasar saham, kini menghadapi tekanan politik akibat gejolak tersebut. Survei Realmeter yang digelar pada 10-14 Agustus mencatat tingkat persetujuan publik terhadap Lee anjlok ke 43 persen, level terendah sejak ia menjabat, setelah turun selama lima pekan berturut-turut.
Kepala Asia di Leverage Shares, Bora Kim, menilai investor ritel Korea sebenarnya bukan pemain baru dalam dunia leverage. Menurutnya, investor Korea berusia 30-an hingga 50-an sudah lama menjadi pembeli inti produk-produk berleverase semacam itu.
“Sebagian besar investor ritel Korea bukan orang baru dalam hal leverage,” kata Bora Kim.
Eun-bi sendiri mengaku tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah atas kerugian yang dialaminya. “Secara pribadi, saya tidak berpikir presiden atau pemerintah menanggung tanggung jawab,” katanya, sembari menegaskan masih ingin mengamati perkembangan pasar hingga paruh kedua tahun ini sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
















