Cekricek.id — Peraih Nobel Perdamaian 2014 Kailash Satyarthi mendorong Universitas Gadjah Mada membawa program Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke panggung global. Ajakan itu disampaikan dalam UGM Annual Lecture Nobel Laureate Series bertema “Global Leadership for Humanity: Advancing Impactful Community Engagement” di Balai Senat UGM, Jumat (21/08/2026), menurut keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada.
Aktivis asal India itu menilai dunia hari ini sebenarnya tidak kekurangan ilmu pengetahuan maupun lembaga. Persoalannya justru terletak pada keterpecahan dan hilangnya pertautan antarmanusia. Di tengah keadaan tersebut, ia meyakini tindakan kecil yang lahir dari kepedulian tetap punya daya ubah.
“Dalam situasi kegelapan, setiap tindakan kebaikan, setiap hal yang telah lakukan untuk perbaikan dan membawa cahaya harapan, kepastian, membuat kita memahami bahwa kebangkitan itu mungkin,” kata Satyarthi.
Belajar dari Masyarakat, Bukan Menggurui
Satyarthi memuji model kemitraan yang dipakai UGM dalam KKN. Menurut dia, mahasiswa yang diterjunkan ke desa tidak boleh menempatkan diri sebagai pihak yang lebih tahu, melainkan sebagai rekan belajar warga.
Baca juga Tim KKN UGM Susun Arsip Budaya Desa Bayan di Lombok Utara
“Sebaliknya, mahasiswa juga perlu belajar dari masyarakat, termasuk dari orang-orang yang mungkin tidak pernah bersekolah atau hanya memperoleh sedikit pendidikan,” ujarnya.
Ia membagikan prinsip 3D yang selama ini menuntun kerjanya, yakni dream, discover, dan do. Mimpi, kata dia, harus dirancang untuk kepentingan orang banyak, bukan semata untuk diri sendiri. Dari cara kerja semacam itulah gerakan globalnya bermula.
Baca juga Wamen LH di UNAND: Pilah Sampah Sejak dari Hulu
“Dari situ lahir gerakan global melawan pekerja anak dan gerakan global untuk pendidikan ialah Global March Against Child Labour dan Global Campaign for Education,” tuturnya.
Satyarthi menyebut belas kasih sebagai tenaga penggerak perubahan yang bertahan lama. “Compassion merupakan kekuatan yang dapat mendorong perubahan berkelanjutan. Bukan perubahan yang hanya terjadi sekali, melainkan perubahan yang terus berkembang karena setiap orang merasa menjadi bagian dari persoalan dan penyelesaiannya,” tegasnya. Pengalaman lokal di desa-desa, lanjut dia, layak diolah menjadi pengetahuan yang bisa dibagikan lintas negara.
Tiga Pilar KKN-PPM Menurut Rektor UGM
Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menjelaskan bahwa KKN-PPM bertumpu pada tiga hal, yaitu kehadiran, daya tanggap, dan keberlanjutan. Program tersebut telah dijalankan kampus itu selama lebih dari tujuh dekade dan menempatkan mahasiswa langsung di tengah persoalan warga.
Baca juga Santri Pidie Jaya Diajari USK Bikin Sabun dari Garam
“KKN-PPM merupakan mekanisme yang menempatkan mahasiswa secara langsung untuk menangani berbagai persoalan nyata, termasuk akses pendidikan, kesehatan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan,” jelas Ova.
Peran mahasiswa, menurut dia, tidak berhenti pada penanganan dampak langsung ketika bencana terjadi. “Kehadiran mahasiswa tidak hanya difokuskan untuk membantu masyarakat memulihkan dampak langsung bencana, tetapi juga mendukung pemulihan kehidupan masyarakat,” sebutnya.
Ova menambahkan, forum kuliah umum tersebut menjadi ruang refleksi bersama. “Kehadiran dalam acara ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana pendidikan dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan perubahan yang bermakna dan berkelanjutan,” katanya.
Diplomat dan Filantrop Bicara Keadilan Sosial
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M., mengenang masa KKN-nya sebagai mahasiswa. Saat itu, kata dia, peserta dituntut mencari jalan keluar atas masalah desa dengan cara mereka sendiri. “Sebagai mahasiswa saat itu kami diminta untuk kreatif dan mencoba menemukan solusi terhadap persoalan desa,” ujarnya.
Pelajaran terpenting dari pengalaman itu, menurut Havas, tidak tergantikan oleh perkuliahan. “Tidak ada ruang kuliah yang dapat mengajarkan selama satu bulan atau tiga bulan apa yang dapat diajarkan sebuah desa tentang kerendahan hati,” tuturnya.
Duta Besar Indonesia untuk Norwegia Prof. Dr. Todung Mulya Lubis, S.H., LL.M., memandang KKN sebagai tanggung jawab kelembagaan. “KKN tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa dan universitas untuk menjaga bumi dan kemanusiaan,” katanya.
Pendiri Mayapada Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir mengaitkan kerja pemberdayaan dengan cita-cita keadilan sosial. “Ketika masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, dan status sosial yang lebih baik, maka kita dapat mulai berbicara tentang keadilan sosial,” tegasnya. Pandangan para pembicara itu bertemu pada satu titik, bahwa pengalaman mahasiswa di desa punya bobot yang setara dengan capaian akademik di ruang kelas.
















