Cekricek.id — Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Bahjuri Ali, S.T.P., M.S., Ph.D., menilai perguruan tinggi di Indonesia harus bergerak lebih cepat mengikuti perubahan kebutuhan dunia kerja. Ia menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara utama Orientasi Pendidikan dan Kemahasiswaan atau ORDIK Pascasarjana Universitas Brawijaya di Gedung Samantha Krida, Sabtu (22/08/2026).
Menurut keterangan tertulis Universitas Brawijaya, Senin (24/08/2026), orientasi mahasiswa baru program pascasarjana tahun akademik 2026/2027 itu mengusung tema “Pascasarjana Unggul dan Berintegritas Menuju Indonesia Berdaya Saing Global”. Bahjuri membuka paparannya dengan menyorot jarak antara kurikulum kampus dan kebutuhan riil pengguna lulusan.
“Pendidikan tinggi harus responsif terhadap perubahan. Apa yang dibutuhkan dunia kerja dan masyarakat terus berubah, sehingga perguruan tinggi juga harus mampu menyesuaikan diri,” kata Bahjuri.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan mahasiswa baru program magister dan doktor yang memulai studi pada tahun akademik ini. Bahjuri menempatkan daya tanggap kampus terhadap perubahan sebagai syarat, bukan pilihan, bagi penyelenggara pendidikan tinggi.
Bukan Sekadar Pintar di Atas Kertas
Bahjuri menekankan bahwa capaian akademik semata tidak lagi memadai sebagai bekal lulusan pascasarjana. Ia menempatkan keterampilan praktis, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi sejajar dengan penguasaan teori.
Baca juga UGM Gandeng Kampus Australia Riset Etika AI
“Jangan hanya menjadi orang yang pintar secara akademik. Kita membutuhkan lulusan yang memiliki keterampilan, pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan mampu bekerja sama,” ujarnya di hadapan mahasiswa baru pascasarjana.
Penekanan pada kemampuan bekerja sama itu ia sampaikan sebagai bagian dari kebutuhan tenaga kerja terdidik yang dihadapi Indonesia. Bagi Bahjuri, kemampuan bekerja lintas bidang menjadi pembeda ketika lulusan masuk ke dunia profesional maupun kembali ke masyarakat.
Beda Tuntutan Sarjana, Magister, dan Doktor
Deputi Bappenas itu juga menguraikan pembagian peran antarjenjang pendidikan tinggi. Ia mengingatkan mahasiswa baru bahwa naik jenjang berarti berpindah dari posisi pengguna pengetahuan menjadi pengembang, lalu pencipta pengetahuan.
“Kalau sarjana lebih banyak belajar menggunakan pengetahuan yang sudah ada, maka magister harus mulai mengembangkan dan mengintegrasikan keahlian. Sementara doktor dituntut untuk menghasilkan pengetahuan baru,” jelasnya.
Baca juga Riset Lumpur Industri UB Dibimbing Pakar Nottingham
Pemetaan itu menjadi rujukan bagi mahasiswa yang baru memulai studi magister dan doktor. Tuntutan menghasilkan pengetahuan baru, khususnya pada jenjang doktor, menempatkan riset sebagai inti kegiatan akademik, bukan pelengkap kelulusan.
Riset yang Berhenti di Kampus
Persoalan yang menurut Bahjuri paling mendesak justru muncul setelah riset selesai dikerjakan. Ia menyebut Indonesia tidak kekurangan hasil penelitian, tetapi tersendat pada tahap pemanfaatannya di luar tembok kampus.
“Kita punya banyak hasil penelitian, tetapi tantangannya adalah bagaimana hasil penelitian tersebut bisa keluar dari kampus dan benar-benar digunakan oleh masyarakat atau industri,” tuturnya.
Pernyataan itu menyentuh persoalan lama hilirisasi riset nasional, yakni jarak antara publikasi ilmiah dan pemakaian teknologi oleh sektor produktif. Dalam kerangka itu, program pascasarjana ditempatkan bukan hanya sebagai jalur peningkatan gelar, melainkan pemasok solusi bagi persoalan masyarakat dan industri.
Kompetensi Berjalan Bersama Integritas
Di bagian akhir paparannya, Bahjuri menautkan mutu lulusan dengan tema yang diusung ORDIK Pascasarjana Universitas Brawijaya tahun ini. Ia menegaskan kompetensi akademik tidak berdiri sendiri tanpa dasar etika.
Baca juga UNP dan QUT Australia Perkuat Kerja Sama Riset
“Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas dan mampu memberikan kontribusi bagi Indonesia,” tegasnya.
Orientasi tersebut menjadi pintu masuk mahasiswa baru pascasarjana Universitas Brawijaya sebelum perkuliahan tahun akademik 2026/2027 berjalan. Kehadiran pejabat Kementerian PPN/Bappenas sebagai pembicara utama menempatkan agenda kampus itu dalam kerangka perencanaan pembangunan manusia yang lebih luas.
Tema yang diusung panitia juga menyandingkan keunggulan akademik dengan integritas, sejalan dengan pesan penutup pembicara utama. Keduanya, menurut paparan Bahjuri, sama-sama menentukan kontribusi lulusan bagi negara.
Bagi mahasiswa yang mengikuti sesi tersebut, pesan Bahjuri mengarah pada satu titik: studi lanjut dinilai dari sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan sampai kepada pengguna. Ukuran keberhasilan pascasarjana, dalam kerangka yang ia sampaikan, tidak berhenti pada sidang dan wisuda.
















