Cekricek.id — Universitas Brawijaya memperkuat mutu pembimbingan mahasiswa pascasarjana dengan menggandeng pakar bioenergi dari University of Nottingham Malaysia, Assoc. Prof. Dr. Suchithra Thangalazhy-Gopakumar. Kolaborasi itu dijalankan Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem melalui program Joint Supervision, menurut keterangan tertulis Universitas Brawijaya, Senin (24/08/2026).
Program pembimbingan bersama tersebut diusulkan Dr. Kiki Gustinasari, S.T., dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem. Riset yang diangkat bertajuk “Joint Supervision for Valorization of Industrial Organic Sludge and Biomass-Derived Materials in Low-Carbon Environmental Engineering Applications”.
Tema itu menempatkan lumpur organik industri dan bahan turunan biomassa bukan semata sebagai limbah yang harus dibuang. Keduanya diposisikan sebagai bahan baku yang masih bisa diolah kembali untuk aplikasi teknik lingkungan rendah karbon.
Membuka Jalan ke Jurnal Kuartil Teratas
Dr. Kiki Gustinasari menilai skema pembimbingan bersama ini tidak berhenti pada pendampingan mahasiswa pascasarjana. Menurutnya, kerja sama dua kampus itu berpotensi berlanjut menjadi riset dan karya ilmiah bersama.
Baca juga Riset Mahasiswa UNP Ukur Karbon Hutan Nagari Sijunjung
“Kegiatan ini sekaligus membuka peluang kolaborasi riset dan publikasi bersama di jurnal internasional bereputasi Q1 antara UB dan University of Nottingham Malaysia,” kata Kiki.
Jurnal berperingkat Q1 merujuk pada kelompok jurnal dengan kuartil tertinggi di bidang keilmuannya. Publikasi di kelompok itu kerap dijadikan tolok ukur mutu luaran riset perguruan tinggi, sehingga menjadi sasaran yang diincar banyak kampus di Indonesia.
Baca juga UNAND dan ITERA Sepakati Kolaborasi Riset dan Jalur Akademik Terpadu
Skema joint supervision sendiri menempatkan mahasiswa pascasarjana di bawah bimbingan pembimbing dari dua institusi sekaligus. Pola ini memungkinkan mahasiswa mengakses perspektif, metode, dan jejaring riset yang lebih luas tanpa harus berpindah program studi.
Rekam Jejak Pakar yang Digandeng
Assoc. Prof. Suchithra Thangalazhy-Gopakumar dipilih karena rekam jejak risetnya pada pengolahan limbah organik, biochar, dan konversi biomassa. Akademisi tersebut masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientist versi Stanford List 2021.
Bidang yang ditekuninya bersinggungan langsung dengan persoalan pengelolaan limbah industri dan pemanfaatan biomassa. Isu itu relevan bagi Indonesia yang memiliki sektor agroindustri besar dengan volume limbah organik yang tidak sedikit.
Baca juga Konjen AS Puji Ekosistem UMM, Siap Perluas Kolaborasi Pendidikan dan Riset
Rangkaian agenda kegiatan mencakup sesi bertajuk “Publishing for Impact”, Strategic Meeting bersama dekanat Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, serta sesi pembimbingan intensif. Sesi pembimbingan itu dibuka oleh Dr. Hendrix Yulix Setyawan selaku Director of Global Partnership & Reputation Universitas Brawijaya.
Susunan agenda tersebut memperlihatkan kegiatan tidak hanya diarahkan pada satu topik riset. Sesi penulisan ilmiah dan pertemuan strategis dengan pimpinan fakultas menempatkan program ini sebagai bagian dari penataan kerja sama jangka panjang.
Didanai LPDP lewat Program EQUITY
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program EQUITY – THE Impact Rankings UB 2025. Pendanaannya berasal dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Skema pendanaan itu menunjukkan program pembimbingan bersama berada dalam kerangka dukungan negara terhadap penguatan kapasitas riset kampus. Pemanfaatannya diarahkan untuk membuka akses pakar internasional bagi mahasiswa dan dosen di dalam negeri.
Program ini juga disiapkan untuk mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama atau IKU 6 dan IKU 7. Targetnya adalah percepatan transfer pengetahuan di bidang teknologi lingkungan.
Riset Limbah dan Agenda Rendah Karbon
Topik valorisasi limbah organik industri yang diangkat dalam program ini bertemu dengan agenda pembangunan rendah karbon. Pengolahan kembali limbah menjadi bahan bernilai dinilai dapat menekan beban lingkungan sekaligus membuka nilai ekonomi baru.
Bagi Universitas Brawijaya, kerja sama dengan University of Nottingham Malaysia menambah daftar mitra riset di kawasan Asia Tenggara. Kedekatan geografis dan kemiripan karakter limbah agroindustri di kedua negara membuat topik riset yang digarap relatif mudah dipertemukan.
Yang masih perlu dibuktikan adalah kelanjutan program setelah rangkaian sesi pembimbingan usai. Target publikasi Q1 yang disebut Dr. Kiki Gustinasari menjadi ukuran paling terang untuk menilai apakah kolaborasi ini benar-benar menghasilkan luaran riset, bukan sekadar pertemuan akademik.
















