Cekricek.id — Militer Amerika Serikat menyatakan telah menyerang sebuah kapal yang diduga mengangkut narkotika di perairan Samudra Pasifik bagian timur pada Minggu (23/08/2026). Dua orang yang berada di atas kapal itu tewas dalam serangan tersebut.
Serangan diumumkan Komando Selatan Amerika Serikat atau United States Southern Command (SOUTHCOM) melalui unggahan media sosial sehari kemudian, menurut laporan Al Jazeera, Senin (24/08/2026). SOUTHCOM adalah komando militer AS yang membawahi wilayah operasi Amerika Latin dan Karibia.
Dalam keterangannya, SOUTHCOM menyebut kapal yang menjadi sasaran sedang melintas di jalur yang selama ini dikenal sebagai rute penyelundupan narkotika di kawasan tersebut.
“Intelijen yang telah terkonfirmasi mengungkap keterlibatan aktif kapal itu dalam perdagangan narkotika,” demikian pernyataan SOUTHCOM.
Baca juga Meksiko Protes AS Deportasi 2.300 Warganya ke Guatemala
Video Hitam Putih Rekam Ledakan di Laut
Unggahan tersebut disertai rekaman video hitam putih beresolusi rendah. Dalam rekaman itu tampak sebuah kapal bergerak di permukaan laut, sesaat sebelum sebuah ledakan besar terjadi.
SOUTHCOM tidak merinci berapa orang yang sebenarnya berada di atas kapal, jenis muatan yang diklaim diangkut, maupun kewarganegaraan para korban. Komando itu juga tidak menjelaskan jenis persenjataan yang dipakai serta tidak menyebutkan adanya upaya pencarian korban selamat setelah serangan.
Menurut SOUTHCOM, serangan dijalankan oleh satuan tugas gabungan Joint Task Force Western Hemisphere atas perintah langsung komandan SOUTHCOM. Operasi itu disebut sebagai serangan kinetik mematikan terhadap sasaran di laut lepas.
Donovan: Kami Membawa Perang Langsung ke Kartel
“Operasi ini adalah pengingat yang jelas dan tegas bahwa SOUTHCOM membawa perang langsung kepada para kartel,” kata Komandan SOUTHCOM Jenderal Francis L. Donovan.
Baca juga AS Deportasi ke Liberia, Nasib Migran Tak Pasti
Donovan menegaskan pihaknya berkomitmen menekan jaringan yang ia sebut sebagai teroris narkotika di seluruh kawasan Amerika Latin dan Karibia.
“Kami berkomitmen memberikan gesekan sistemik total kepada para teroris narkotika — mengganggu operasi mereka, membongkar kepemimpinan mereka, dan melenyapkan teror kartel di seluruh kawasan,” ujarnya.
“Izinkan saya menegaskan, kami tidak akan mengizinkan teroris narkotika beroperasi tanpa hukuman di Belahan Bumi Barat, dan kami juga tidak akan membiarkan racun mematikan mereka sampai ke masyarakat Amerika. Operasi ini adalah demonstrasi kuat dari presisi mematikan, kemampuan luar biasa, dan tekad mutlak kami untuk melindungi tanah air Amerika Serikat,” kata Donovan.
Lebih dari 200 Orang Tewas sejak Operasi Dimulai
Serangan pada Minggu merupakan bagian dari Operasi Southern Spear yang dijalankan militer Amerika Serikat. Operasi itu berjalan di bawah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang menyatakan Amerika Serikat pada praktiknya sedang berperang melawan kartel narkoba Amerika Latin.
Baca juga AS Jatuhkan Sanksi ke Presiden Mahkamah Pidana Internasional
Berdasarkan penghitungan AFP, lebih dari 200 orang telah tewas dalam rangkaian serangan di Samudra Pasifik bagian timur dan Laut Karibia sejak operasi tersebut dimulai. Sasaran serangan umumnya berupa kapal berukuran kecil yang dituding mengangkut muatan gelap.
Dasar Hukum Serangan Masih Dipersoalkan
Pemerintahan Trump sampai saat ini belum menyodorkan bukti definitif bahwa kapal-kapal yang dihantam benar-benar mengangkut narkotika. Pakar hukum dan organisasi hak asasi manusia memperingatkan serangan semacam itu berpotensi masuk kategori pembunuhan di luar proses hukum.
Inspektur Jenderal Pentagon menyatakan akan meninjau apakah militer mengikuti prosedur baku penetapan sasaran dalam rangkaian serangan tersebut. Namun evaluasi itu tidak akan menyentuh persoalan dasar kewenangan hukum yang dipakai untuk melancarkan serangan di laut lepas.
















