Dendang Serawai Diwariskan Lewat Menonton, Bukan Lewat Sekolah

A A

Ilustrasi laki-laki berpeci memainkan biola, serunai, dan rebana di panggung berhias daun kelapa [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Anggotanya sekitar 30 sampai 40 orang, tua dan muda.
  • Pewarisan seni dendang sekarang disebut agak lambat karena pertunjukannya sudah jarang ditampilkan, padahal seluruh cara belajarnya bertumpu pada seringnya menonton.
  • Dari bahan itu para penulis merumuskan enam hal yang paling berperan dalam proses belajar seorang pemain.
  • Ada pula rujukan kepada Lord yang di badan tulisan bertahun 2000, sedangkan di daftar pustaka bertahun 1981.
Daftar Isi
  1. Panggung berhias daun kelapa pada malam bimbang adat
  2. Ketika hampir setiap laki-laki di desa bisa naik pengujung
  3. Latihan yang tidak disadari sebagai latihan
  4. Enam bekal sebelum seseorang disebut pemain dendang
  5. Pewarisan yang masih berjalan, tetapi melambat
  6. Beberapa hal yang tidak seiras di dalam naskah

Kesenian tradisi kerap dibayangkan bertahan karena ada yang mengajarkannya dengan tertib, lengkap dengan guru, ruang belajar, dan urutan pelajaran yang jelas. Seni dendang orang Serawai di Bengkulu berjalan dengan cara yang lain sama sekali: ia turun lewat malam-malam pesta pernikahan adat, lewat anak-anak yang menonton sampai mengantuk, lalu esok paginya mengulang irama yang masih tertinggal di telinga tanpa tahu bahwa mereka sedang berlatih.

Gambaran itu muncul dari tulisan Bustanuddin Lubis, M. Yoesoef, dan Pudentia berjudul Pewarisan Tradisi Lisan Pertunjukan Seni Dendang Masyarakat Serawai Bengkulu, yang terbit di Jurnal Ilmiah Korpus volume 7 nomor 1 tahun 2023. Bustanuddin Lubis berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu, sedangkan dua penulis lainnya dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Bahan mereka adalah satu pertunjukan yang diamati langsung dan penuturan pimpinan sebuah sanggar di Kabupaten Seluma.

Orang Serawai, salah satu etnik di Provinsi Bengkulu, berdiam di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Seluma. Seni dendang mereka adalah pertunjukan lisan yang dipadukan dengan tari dan musik, dimainkan sekelompok laki-laki pada bimbang adat, yakni upacara pernikahan cara adat. Pertunjukan digelar dua kali dalam satu rangkaian perkawinan: malam sebelum akad nikah di rumah pihak perempuan, dan malam setelah akad nikah di rumah pihak laki-laki.

Panggung berhias daun kelapa pada malam bimbang adat

Tempat bermainnya disebut pengujung, panggung berukuran 4x6 meter atau lebih yang beralas papan tersusun rapat dan dilapisi tikar. Tiang-tiangnya dihubungkan dengan bambu setinggi sekitar 50 sentimeter dari lantai, dihiasi daun kelapa, yang sekaligus menjadi dinding dan tempat bersandar para pemain. Mereka naik ke sana dengan pakaian rapi: baju lengan panjang atau jas, kain sarung, dan kopiah.

Tuan rumah, yang dalam bahasa setempat disebut sepokok rumah, menyiapkan lengguai untuk dihadapkan kepada penghulu mudo di atas pengujung. Perangkat adat dari kuningan itu diisi sirih, tembakau, kapur, gambir, dan pinang. Para pemain membawa alat musik masing-masing, yakni satu biola, satu serunai, dan rebana sebanyak orang yang naik panggung, sementara tiga pelantang dipasang: dua dipakai bergantian oleh pendendang dan satu untuk pemain biola.

Ketua sanggar menyediakan perlengkapan tari, mulai dari dua sapu tangan, dua piring porselen, dua cincin besi, satu kain sal, satu payung, sampai empat kain panjang. Pertunjukan dibuka gesekan biola, disusul pukulan rebana berirama lambat, lalu seorang pemain melantunkan rejung atau pantun. Sesudah itu berturut-turut hadir tari sapu tangan, tari piring, tari duo, tari mainangan, dendang rampai, serta dendang dan tari redok.

Seni dendang Serawai dalam angkaPengujung berukuran 4x6 meter atau lebih, tiga pelantang, unsi beranggota 30 sampai 40 orang, enam bekal pemain.Seni dendang Serawai dalam angkaPertunjukan pada malam bimbang adat di Kabupaten Seluma4x6 mpengujungatau lebih3pelantangdi atas panggung30-40anggota unsitua dan muda6bekal pemainhasil analisisJalan risetnyaPertunjukan diamatiPimpinan unsi ditanyaEnam bekal disusunPengujung: panggung pertunjukan. Unsi: kelompok seni budaya, seringjuga disebut sanggar.
Sumber: Bustanuddin Lubis, M. Yoesoef, dan Pudentia, Pewarisan Tradisi Lisan Pertunjukan Seni Dendang Masyarakat Serawai Bengkulu, Jurnal Ilmiah Korpus, 7(1), 2023. Grafik: Cekricek.id

Dendang penutup dibawakan tanpa tarian, dilanjutkan talibun yang tidak diiringi musik, sebelum biola kembali digesek untuk tari kain panjang. Irama sepanjang malam itu bergantung pada kelihaian pendendang memainkan suaranya: panjang dan pendek, tinggi dan rendah, cepat dan lambat. Pemain memulai dengan suara panjang lalu pendek, dan di pertengahan kerap memunculkan nada panjang atau tinggi agar penonton maupun pemain lain menoleh kepadanya.

Ketika hampir setiap laki-laki di desa bisa naik pengujung

Pada zaman dahulu, menurut keterangan yang dihimpun para penulis, tidak ada sanggar yang khusus memainkan seni dendang. Hampir seluruh laki-laki di desa bisa berdendang dan bisa diajak naik ke atas pengujung, sebab pertunjukan ini milik masyarakat dan siapa pun boleh ikut asalkan mengikuti aturannya. Namun, kini banyak desa tidak lagi memiliki pemain, sehingga pewarisan harus ditempuh lewat unsi, sebutan setempat untuk kelompok seni budaya.

Salah satu yang masih aktif adalah Unsi Harapan Bersama, yang dibentuk warga Desa Tangga Batu, Kecamatan Seluma Selatan, dan dipimpin Bapak Dustan. Anggotanya sekitar 30 sampai 40 orang, tua dan muda. Kelompok inilah yang mengisi bimbang adat di Desa Lubuk Lintang, Kecamatan Seluma, pada 17 dan 18 Agustus 2019, dan dari penuturan pimpinannya para penulis menyusun kembali bagaimana seorang anak Serawai tumbuh menjadi pemain dendang.

Dustan mengisahkan bahwa pada masa kecilnya seni dendang adalah tontonan yang ditunggu dan ramai didatangi, lebih-lebih bila pemainnya terkenal karena gaya tari, cara berdendang, dan teks yang dilantunkannya. Ibu-ibu berkumpul dengan sesama ibu, bapak-bapak dengan bapak-bapak, anak muda di depan rumah. Anak kecil bermain di sekitar panggung sampai lelah, lalu mencari orang tuanya untuk tidur, sehingga ia sendiri sudah sering menonton tanpa tahu apa arti tradisi itu.

Baca juga Saluang Pauah, Pendendang Laki-laki Pengiring Kaba Pauh

Latihan yang tidak disadari sebagai latihan

Justru di situlah pewarisan dimulai. Pagi hari sesudah pertunjukan, anak-anak mengulang-ulang irama dendang sambil mengingat larik yang semalam mereka dengar dan menirukan gerak tariannya, di mana saja, tanpa tempat khusus. Siang mereka habis untuk pekerjaan rumah, sawah, atau ladang, dan malamnya mereka kembali berkumpul di rumah, bermain dan menirukan tarian itu bersama teman sebaya sebelum beristirahat.

Kisah Dustan memuat dua penanda waktu. Pada 1974, katanya, begitu banyak anak yang belajar kepada guru dendang sehingga mereka harus dibagi ke dalam beberapa kelompok. Empat tahun kemudian, pada 1978, ia ikut bermain di Kota Bengkulu ketika ada kerabat yang menggelar bimbang adat di sana, bersama kelompok seni dendang dari kota itu, walaupun belum sanggup mengikuti pertunjukan dari awal sampai akhir.

“Pendidikan secara formal untuk belajar seni dendang tidak pernah ada dan bahkan sampai sekarang,” tulis Bustanuddin Lubis, M. Yoesoef, dan Pudentia dalam naskah mereka. Sebagai pembanding mereka menyebut dalang wayang, yang menurut uraian Groenendael sebagian besar pernah belajar di sekolah dalang yang berdiri sejak 1920-an. Sekolah pertama, Pasinaon Dhalang ing Surakarta, dibuka pada 1923 atas perintah Susuhunan Paku Buwana X.

Tanpa sekolah, tersisa dua jalan. Yang pertama belajar sendiri dengan, dalam istilah para penulis, mencuri ilmu pemain dendang ketika pertunjukan berlangsung. Yang kedua meminta berguru kepada seorang pemain, dan cara ini dahulu tidak dibayar dengan uang karena murid membantu gurunya di sawah sambil belajar. “Upah guru pada saat mereka belajar seni dendang dibayar dengan tenaga,” tulis ketiganya.

Baca juga Dendang Suayan Balenggek Diubah Jadi Fantasia Orkestra

Enam bekal sebelum seseorang disebut pemain dendang

Dari bahan itu para penulis merumuskan enam hal yang paling berperan dalam proses belajar seorang pemain. Bekal pertama adalah menyukai pertunjukan, yang dimulai dari seringnya menonton, tetapi bukan sebagai penikmat semata, melainkan penonton yang berniat kuat menjadi pemain. Bekal kedua adalah kepiawaian menyesuaikan larik dengan irama musik, dan di titik inilah setiap pendendang disebut memiliki keunikannya sendiri.

Bekal ketiga adalah menguasai pembagian pertunjukan, dari dendang ketapang di awal sampai tari kain panjang di akhir, termasuk bagian mana yang berdendang tanpa tarian dan mana yang dengan tarian. Bekal keempat konsentrasi tinggi, sebab teks dendang dan tarian dicipta di atas panggung dan pewarisannya memang tidak melalui penghafalan teks. Dua bekal terakhir bersifat sosial: percaya diri di hadapan penonton dari semua kalangan, dan mudah bergaul.

Pergaulan yang luas, menurut naskah itu, membuat seorang pemain makin dikenal dan makin sering diajak tampil. Adapun urutan belajarnya bermula dari irama dan larik, kemudian mengingat bagian-bagian teks beserta tariannya, baru sesudah itu alat musik. Dustan dan seorang pemain lain, Bapak Jauhari, mengaku yang paling sulit adalah biola, dan Dustan menyebut orang harus bisa berdendang dahulu sebelum bisa memainkan alat gesek itu.

Jalan menjadi pemain dendangCalon pemain menonton sejak kecil, meniru larik dan irama, berguru, tampil menggantikan guru, sampai diakui masyarakat.Jalan menjadi pemain dendangTahapan calon pemain seni dendang SerawaiMenontonsejak kecilMenirularik daniramaBergurupemainatau unsiTampilganti guruDiakuiolehmasyarakatBila pertunjukan murid sukses, undangan berikutnya datang dan tugasguru selesai.
Sumber: Bustanuddin Lubis, M. Yoesoef, dan Pudentia, Pewarisan Tradisi Lisan Pertunjukan Seni Dendang Masyarakat Serawai Bengkulu, Jurnal Ilmiah Korpus, 7(1), 2023. Grafik: Cekricek.id

Jalan seorang calon pemain karena itu panjang tetapi tidak berpagar. Ia tertarik, terus menonton, ikut melafalkan larik dan bertanya kepada pemain bila ada yang terlupa, lalu berguru atau bergabung dengan unsi dan berlatih sendiri di mana pun. Guru mengajaknya sebagai pendamping setiap kali ada undangan, sebagaimana Dustan membawa anak dan cucunya ke Lubuk Lintang, sampai tiba saat murid diberi kesempatan menggantikan sang guru di atas panggung.

Guru memperhatikan penampilan muridnya malam itu. Bila pertunjukan sukses, undangan berikutnya datang kepada si murid, dan setelah beberapa kali tampil dengan baik masyarakatlah yang mengakuinya sebagai pemain dendang. Pada saat itu, tulis para peneliti, tugas guru sudah selesai, sehingga ukuran kelulusan dalam tradisi ini bukan penilaian seorang pengajar, melainkan penerimaan para penonton.

Pewarisan yang masih berjalan, tetapi melambat

Para penulis membedakan dua corak pewarisan dengan meminjam pandangan Finnegan tentang ingatan. Corak aktif melibatkan kreativitas untuk menyusun kembali teks dendang yang pernah didengar, dan kini berlangsung ketika Dustan melatih anak-anak menarikan tarian dalam pertunjukan serta mengajak mereka menonton sambil mengamati. Corak pasif terjadi ketika banyak anak menyaksikan pertunjukan tetapi tidak ikut berlatih.

Di situlah persoalannya. Pewarisan seni dendang sekarang disebut agak lambat karena pertunjukannya sudah jarang ditampilkan, padahal seluruh cara belajarnya bertumpu pada seringnya menonton. Yang masih terjaga, menurut naskah itu, adalah proses dan ingatan bermain yang tersimpan pada setiap pemain. Unsi Harapan Bersama disebut menyadari keadaan ini, sehingga mengajak anak-anak belajar agar tradisi nenek moyang orang Serawai tidak hilang.

Sebagai saran, ketiga penulis mengusulkan agar proses pewarisan ini dimasukkan ke dalam muatan lokal di sekolah supaya siswa lebih dekat dengan budayanya sendiri. Perlu dicatat bahwa pijakan tulisan ini sempit: satu sanggar, satu pertunjukan pada Agustus 2019, dan penuturan pimpinannya. Naskah tidak memuat suara murid, penonton, atau sanggar lain, sehingga apa yang tergambar belum bisa dianggap mewakili seluruh orang Serawai di dua kabupaten.

Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat

Beberapa hal yang tidak seiras di dalam naskah

Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa ketidakcocokan. Naskah menyebut lama pertunjukan sekitar enam sampai tujuh jam, tetapi di kalimat berikutnya menulis pelaksanaannya dari sekitar pukul 20.00 sampai pukul 01.00 WIB, yang berarti lima jam. Enam tahapan pertunjukan yang dikutip dari penelitian terdahulu juga tidak sama dengan urutan yang dicatat di lapangan, dan nama dendang penutup dieja dengan dua cara yang berbeda.

Ada pula rujukan kepada Lord yang di badan tulisan bertahun 2000, sedangkan di daftar pustaka bertahun 1981. Bapak Jauhari muncul sekali tanpa keterangan siapa dia, dan bagian kesimpulan menyebut enam bekal tadi sebagai tahapan, padahal di bagian hasil keenamnya disajikan sebagai poin yang berperan dalam belajar. Semua itu tidak mengubah isi pokok, tetapi patut diketahui sebelum angka-angkanya dikutip ulang.

Yang tersisa dari naskah ini adalah gambaran sebuah kesenian yang tidak pernah punya sekolah, tetapi lama sekali tidak kekurangan murid, karena panggungnya sendirilah yang mengajar. Kalau pengujung berhias daun kelapa itu makin jarang didirikan dan anak-anak makin jarang tertidur di dekatnya, cukupkah latihan tari di sanggar dan pelajaran muatan lokal menggantikan malam-malam panjang yang dahulu membentuk seorang pemain dendang?

Bagikan

Baca Juga

Orang Serawai Mencuci Kampung dengan Darah Ayam dan Kambing
Merawat Lansia di Rumah Menguras Dompet Keluarga di Finlandia
Ulaon Unjuk, Pesta Kawin Batak Toba yang Ditonton Seisi Kampung
Rumah Suku Moronene Dibagi Tiga seperti Kepala, Badan, dan Kaki
Minuman Manis Selalu Ada di Rumah, Remaja Belanda Minum Banyak
Orang Siberut Mengenal 452 Tumbuhan, Sagu dan Aileleppet Teratas