Indonesia Teratas dari 22 Negara dalam Ukuran Hidup Sejahtera

A A

Ilustrasi permukiman desa berlatar sawah dan perbukitan di Jawa Barat. [Foto: Pexels]

  • Global Flourishing Study menempatkan Indonesia paling sejahtera di antara 22 negara
  • Ukurannya mencakup enam ranah dan stabilitas finansial hanya salah satunya
  • UGM menyiapkan lima pilar kajian melalui Human Flourishing Center

Cekricek.id — Dalam ukuran yang menimbang kebahagiaan sampai kedekatan sosial, Indonesia berada di urutan teratas dari 22 negara yang disurvei.

Angka itu dibahas lewat keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Kamis (01/10/2026), merangkum Public Talk Show “Kajian Human Flourishing dari Multi Perspektif” di Auditorium Sekolah Pascasarjana UGM, Selasa (29/09/2026).

Dosen Indonesia Consortium for Religious Studies UGM, Dicky Sofjan, M.A., MPP., Ph.D., mengutip hasil Global Flourishing Study yang menempatkan Indonesia di posisi pertama, mengungguli sejumlah negara maju.

“Berdasarkan studi ini, Indonesia menjadi negara paling sejahtera manusianya dibandingkan dengan negara maju lainnya. Mungkin juga ada kaitan antara komitmen agama dengan kesejahteraan manusia di dalamnya,” jelasnya.

Enam Hal yang Diukur, Bukan Hanya Uang

Human flourishing dihitung dari enam ranah: kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang erat, serta stabilitas finansial. Uang hanya satu dari enam.

Menurut Dicky, tingginya posisi Indonesia berkaitan dengan responden yang memahami makna kehidupan dan memiliki hubungan sosial yang rapat.

Konsep itu bukan barang asing bagi tradisi keagamaan di Indonesia. Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Fatimah Husein, M.A., Ph.D., menyebut sejumlah istilah Islam yang sejalan dengannya: insan kamil, hayat thayyibah, maslahah, dan tazkiyah an-nafs.

Dari tradisi lain, dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Romo Dr. Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D., menekankan solidaritas terhadap sesama sekaligus terhadap bumi, dan memaknai hidup yang baik sebagai kesatuan dengan diri sendiri, sesama, dan kosmos.

UGM sendiri menyiapkan lima pilar kajian melalui Human Flourishing Center. Perwakilan pusat kajian itu, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., menyebut pilarnya meliputi kesehatan dan kesejahteraan, keadilan bagi dunia usaha dan masyarakat, hubungan antaragama dan antarbudaya, pendidikan sepanjang hayat, serta ekologi dan keberlanjutan.

“Harapannya kontribusi bapak ibu bisa memunculkan studi yang sesuai dengan keadaan di Jogja,” tuturnya.

Pembanding datang dari Australia. Samantha Hauw dari Deakin University memaparkan bahwa kemakmuran tidak otomatis merata: masyarakat adat di sana masih menanggung kerugian sosial-ekonomi warisan kolonisasi, sementara penduduk umum menghadapi kesepian, kecemasan iklim, dan kerusakan lingkungan.

Ukuran kesejahteraan memang kerap berselisih dengan angka ekonomi. Satu kajian menunjukkan jurang kesehatan desa dan kota tetap ada meski faktor kekayaan diperhitungkan.

Dari sisi gizi, perbandingan antarnegara juga menyisakan pekerjaan rumah, seperti konsumsi susu Indonesia yang hanya 5 liter per kapita per tahun. Di ruang kuliah, kampus menyiapkan bekal lewat kurikulum adaptif dengan enam jalur tambahan.

Bagikan

Baca Juga

Hambatan Dagang Kini Bersembunyi di Balik Aturan, Bukan Tarif
Hidrogen Hijau Indonesia Butuh Sistem Perawatan Elektroliser Baru
Pola Arus Selat Sunda Bisa Jadi Peta Pencarian Korban Kapal
Api Biru Papandayan Kian Sering Muncul Seiring Suhu Fumarol Naik
Monetisasi Konten Anak Punya Tiga Pola, Temuan Riset UGM
Pekerja Kontrak Lewati Satu Dekade, Batas Lima Tahun Tak Ditegakkan