- Kurikulum adaptif membuka skema second major, minor, intensifikasi, fast track, double degree, dan joint degree
- Mahasiswa tetap diarahkan menguasai bidang program studi sambil mengembangkan kompetensi lintas disiplin
- Kuliah Kerja Nyata dirancang ulang agar pembelajaran bertaut dengan persoalan nyata di lapangan
Cekricek.id — Kurikulum adaptif UGM membuka enam jalur tambahan bagi mahasiswa, dari second major hingga joint degree, tanpa melepas kedalaman ilmu program studi.
Rancangan itu dipaparkan lewat keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Selasa (29/09/2026), dalam lokakarya ELEVATE Higher Education Workshop 2 bertema The Modern Curriculum & Graduate Readiness yang mempertemukan wakil 11 perguruan tinggi Indonesia di Kampus UGM pada 28–30 September 2026.
Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, PhD, menyebut kurikulum adaptif disusun sebagai jawaban atas perubahan pengetahuan, teknologi, karakteristik mahasiswa, mobilitas pendidikan, dan kebutuhan dunia kerja.
“Kita perlu terus melakukan inovasi karena perubahan akan selalu terjadi dan setiap perubahan menghadirkan peluang,” katanya.
Isi Kurikulum Adaptif dan Ukuran Keberhasilannya
Dalam rancangan tersebut, mahasiswa tetap diarahkan menguasai bidang program studinya, sekaligus memperoleh ruang mengembangkan kompetensi lintas disiplin. Pilihannya diwujudkan lewat skema second major, minor, intensifikasi, fast track, double degree, dan joint degree, menyesuaikan struktur tiap program.
UGM juga merancang ulang Kuliah Kerja Nyata agar pembelajaran mahasiswa bertaut langsung dengan persoalan di lapangan. Ukuran keberhasilannya digeser dari sekadar keikutsertaan menjadi perubahan yang dirasakan warga.
“Dampak menjadi kunci dari proses tersebut. Mahasiswa perlu menerapkan pengetahuan yang dimiliki sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Gandes.
Direktur United in Diversity, Dr. Suyoto, menempatkan pendidikan sebagai investasi strategis yang proses transformasinya tidak boleh berhenti, mulai dari kurikulum, metode mengajar, sampai cara kampus terhubung dengan industri.
“Ketika kita berhenti mentransformasi universitas, kurikulum, cara mengajar, serta cara terhubung dengan industri, berarti kita menghentikan proses transformasi itu sendiri,” ungkapnya.
Pengajar Massachusetts Institute of Technology dan Tsinghua Southeast Asia, Prof. Edward Crawley, menilai pendidikan, riset, dan inovasi kampus perlu tersambung dengan industri, pemerintah, lembaga kebudayaan, serta organisasi nirlaba melalui pertukaran pengetahuan.
“Universitas tidak akan berhasil memberikan pengaruh kepada masyarakat jika hanya memikirkan apa yang mereka kerjakan sendiri,” jelas Crawley.
Prof. Hamish Coates dari Australian National University menambahkan, sumbangan perguruan tinggi semestinya dinilai dari dampak pendidikan, riset, dan keterlibatan komunitas, bukan dari kemegahan infrastruktur. Ia juga mengingatkan kampus agar menentukan sendiri cara memakai teknologi, bukan sekadar mengikutinya.
“Kita harus berfokus pada hasil yang dirasakan masyarakat,” tegas Coates.
Persoalan yang melatari pembahasan itu terbaca dari angka serapan kerja. Seorang guru besar UGM mencatat penganggur lulusan perguruan tinggi menembus 1,03 juta orang, sementara kampus lain menempuh jalan pembekalan, seperti UIN STS Jambi yang membekali 45 mahasiswa menghadapi dunia kerja.
Arah yang sama terdengar dari pemerintah, yang menyebut talenta Indonesia dituntut mampu mengevaluasi keluaran kecerdasan buatan.















