Kain Gringsing Tenganan Sengaja Ditenun Lambat agar Tak Ditiru

A A

Ilustrasi detail kain gringsing wayang tenun ikat ganda dari Tenganan Pegringsingan, Bali, koleksi LACMA [Foto: Los Angeles County Museum of Art/Wikimedia Commons, Domain Publik]

  • Selembar kain bermotif wayang dari Tenganan Pegringsingan memakan waktu dua sampai sepuluh tahun.
  • Para penulis mencatat hanya tiga komunitas di dunia yang masih mengerjakannya.
  • Warna hitam pekat pada gringsing wayang bukan hasil satu pewarna.
  • Satu logika kemurnian bekerja pada kain, tubuh, dan hukum.
  • Hukum adat itu melarang penjualan tanah kepada orang luar demi kedaulatan desa atas wilayahnya.
Daftar Isi
  1. Tiga di Dunia
  2. Hitam dari Dua Warna
  3. Lambat yang Disengaja
  4. Enam Motif Wayang
  5. Kulit Sosial Kedua
  6. Kain, Tubuh, Hukum
  7. Pasar sebagai Perisai
  8. Yang Belum Terjawab

Kain gringsing sengaja ditenun lambat. Selembar kain bermotif wayang dari Tenganan Pegringsingan memakan waktu dua sampai sepuluh tahun. Bagi warga desa Bali Aga itu, kelambatan adalah cara menjaga diri.

Temuan itu dilaporkan I Nengah Juliawan, I Kadek Edi Palguna, I Kadek Abdhi Yasa, dan Kadek Anggie Noviari Dewi dalam artikel Gringsing Ethnoscience: Structural Homology and Bali Aga Identity in Tenganan Pegringsingan. Artikel itu dimuat Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts volume 8 nomor 2 tahun 2025.

Keempat penulis berasal dari Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Mereka berada di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, selama delapan bulan pada Maret sampai Oktober 2025. Yang mereka dengar adalah perajin, tetua adat, dan anak muda desa.

Tiga di Dunia

Gringsing ditenun dengan teknik ikat ganda. Para penulis mencatat hanya tiga komunitas di dunia yang masih mengerjakannya. Dua lainnya adalah penenun Patola di Gujarat, India, dan Kasuri di Okinawa, Jepang.

Di Indonesia, tempatnya hanya satu, sebab Tenganan Pegringsingan disebut sebagai satu-satunya lokasi tradisi ikat ganda gringsing masih hidup dan dikerjakan secara asli. Warganya adalah orang Bali Aga, komunitas pra-Majapahit yang tidak mengenal kasta. Penenunnya sedikit: mengutip riset terdahulu, para penulis menyebut perajin aktif tinggal sekitar 12 orang, sebagian besar berusia di atas 50 tahun.

Hitam dari Dua Warna

Bahan kain diambil dari alam: kapas keling, akar mengkudu, dan minyak kemiri. Pencelupan warna nila dikerjakan lewat hubungan dengan desa lain, yaitu Desa Bugbug. Warna hitam pekat pada gringsing wayang bukan hasil satu pewarna. Benang lebih dulu dicelup biru dengan nila, lalu benang yang sama dicelup berulang-ulang dalam larutan merah mengkudu.

Kain hitam itu disebut Gringsing Selem. Para penulis membacanya sebagai wujud Rwa Bhineda, dua kekuatan yang berlawanan lalu menyatu. Dua warna bertemu dan melahirkan warna ketiga yang dianggap lebih sakral.

Alat tenunnya bernama cagcag. Salah satu perangkatnya adalah alat kecil dari tulang kerbau, dipakai untuk menyetel setiap persilangan benang, satu per satu. Motifnya pun mengikuti hitungan: para penulis menemukan simetri lipat, pencerminan, dan pergeseran bentuk pada motif wayang. Penenun menerapkannya secara naluriah.

Baca juga Waterglass dan Garam Kasar Ubah Kain Gesek Godhong

Lambat yang Disengaja

Para penulis memberi nama pada kelambatan itu: inefisiensi produktif. Dari kacamata ekonomi modern, proses selama itu adalah kelemahan, sedangkan dari kacamata warga Tenganan, ia pertahanan. Proses yang lambat dan rumit menutup kemungkinan produksi massal. Para penulis menyebutnya bentuk perlawanan sehari-hari yang halus tetapi ampuh.

Enam Motif Wayang

Ada enam motif yang dicatat dalam kelompok gringsing wayang. Semuanya tergolong Gringsing Selem. Tiap motif membawa cerita tentang tatanan sosial dan rohani desa.

Wayang Kebo menampilkan tiga tokoh utama: seorang lelaki bersorban duduk lebih tinggi dan mengajar dua murid. Seluruh kain memuat 24 figur yang mengelilingi motif panggal asu, bujur sangkar lambang desa yang dijaga empat kalajengking. Nama wayang, menurut para penulis, berasal dari kata Wah-Ya, artinya tindakan menerangkan atau mengajarkan sesuatu. Motif ini dibaca sebagai kisah pewarisan pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda.

Wayang Putri hanya memuat dua tokoh, keduanya perempuan. Satu berada lebih tinggi, satu lebih rendah seperti menyembah. Para penulis mengaitkannya dengan hubungan senior dan junior dalam Daha, kelompok gadis desa. Jumlah figurnya 16.

Wayang Candi paling rumit. Ada lelaki, perempuan, bangunan candi, cakra, dan trisula, dengan 24 figur; gayanya disebut mirip relief Jawa Timur abad ke-13 sampai ke-14, seperti di Penataran dan Singosari, dan konon motif ini pesanan seorang raja Jawa. Wayang Mesila menggambarkan dua tokoh duduk bersila, suami dan istri. Kainnya memuat delapan figur dan melambangkan keselarasan rumah tangga.

Berapa figur di tiap motif wayangWayang Kebo: Figur +24; Wayang Candi: Figur +24; Wayang Putri: Figur +16; Wayang Mesila: Figur +8; Putri Dedari: Figur 0; Isi: Figur 0.Berapa figur di tiap motif wayangJumlah figur pada enam motif gringsing wayang5101520250Wayang Kebo24Wayang Candi24Wayang Putri16Wayang Mesila8Putri Dedari0Isi0Putri Dedari dan Isi tidak memuat figur manusia.
Sumber: I Nengah Juliawan, I Kadek Edi Palguna, I Kadek Abdhi Yasa, dan Kadek Anggie Noviari Dewi, Gringsing Ethnoscience: Structural Homology and Bali Aga Identity in Tenganan Pegringsingan, Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts, 8(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Dua motif terakhir tidak punya figur manusia sama sekali. Wayang Putri Dedari berisi bangunan candi yang utuh dan pola bintang kecil, sedangkan motif Isi persis separuhnya, hanya bagian atas candi. Putri Dedari dianggap leluhur semua motif wayang yang berfigur dan mewakili alam para dewa atau bidadari. Para penulis melihat arah perkembangan dari gambar abstrak tentang alam dewa menuju gambar manusia.

Capit kalajengking menjadi kode kecil. Pada Wayang Kebo capit itu tersambung dan membentuk lingkaran pelindung. Pada Wayang Putri dan Wayang Mesila capitnya terpisah. Para penulis menduga capit tersambung menandai kesatuan bersama, sedangkan capit terpisah menandai urusan pribadi.

Kulit Sosial Kedua

Membuat gringsing sudah merupakan upacara. Hari baik dipilih lebih dulu, lalu benang disucikan bersama dalam upacara Nyikat, bagian dari perayaan Usaba Sambah, untuk memasukkan taksu, daya rohani, ke dalam kain. Kain itu lalu menyertai orang sepanjang hidup: ia dipakai saat potong gigi, pernikahan, dan kematian. Para penulis menyebutnya kulit sosial kedua, semacam zirah rohani bagi orang yang sedang berada di masa peralihan.

Dalam upacara kematian, gringsing menutup jenazah dan dipakai membawa Petrem, perwujudan orang yang meninggal. Di sini kain bekerja sebagai pelindung, bukan hiasan. Puncaknya ada pada Usaba Sambah: dalam Mekare-kare atau Perang Pandan, para teruna mengenakan gringsing sebagai kain utama. Kain itu mengubah mereka menjadi kelompok kesatria suci.

Para penulis juga menyebut gringsing sebagai konstitusi yang bisa dibawa. Tata letak motif Wayang Kebo meniru Tri Mandala, pembagian ruang suci Bali menjadi zona sakral, zona manusia, dan zona profan. Memakai kain berarti memakai tatanan itu di badan.

Baca juga Kriya Lolok Bali Dibaca Lewat Tiga Kerangka Estetika Camp

Kain, Tubuh, Hukum

Temuan yang paling ditekankan para penulis adalah kesamaan pola di tiga wilayah hidup. Mereka menamainya homologi struktural. Satu logika kemurnian bekerja pada kain, tubuh, dan hukum.

Pada kain, aturannya ikat ganda, pewarna alam, dan pembuatan hanya di Tenganan. Teknik dan bahan asing ditolak. Yang dijaga adalah kemurnian bahan.

Pada tubuh, aturannya perkawinan di dalam desa. Perempuan yang menikah ke luar harus meninggalkan desa, sebab yang dijaga adalah garis keturunan. Pada hukum, aturannya tertulis dalam awig-awig. Hukum adat itu melarang penjualan tanah kepada orang luar demi kedaulatan desa atas wilayahnya.

“Logika kemurnian dan penolakan terhadap unsur asing yang sama ditenun ke dalam kain, ditulis ke dalam hukum, dan direproduksi melalui tubuh,” tulis I Nengah Juliawan dan tiga rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris.

Identitas Tenganan juga dibangun lewat pasangan yang berlawanan. Dalam berhadapan dengan luar. Sakral berhadapan dengan profan. Asli berhadapan dengan tiruan, dan munculnya kain tiruan justru menguatkan nilai gringsing yang asli.

Pasar sebagai Perisai

Warga Tenganan tidak hanya bertahan dengan cara lama. Pada 2016 gringsing didaftarkan sebagai Indikasi Geografis. Para penulis menilai alat hukum modern itu dipakai sebagai perisai, bukan pintu produksi massal. Gringsing juga pernah menjadi cenderamata Konferensi Tingkat Tinggi G20 dan harganya naik tajam, pola yang para penulis sebut komodifikasi terkendali.

Gringsing dalam angkaGringsing dalam angkaGringsing dalam angkaKain ikat ganda Tenganan Pegringsingan, Bali3komunitasikat ganda didunia2-10tahun untukselembar kain12perajin aktifkira-kira2016IndikasiGeografisdidaftarkanJalan risetnyaTenganan PegringsinganMaret-Oktober 2025Motif wayang
Sumber: I Nengah Juliawan, I Kadek Edi Palguna, I Kadek Abdhi Yasa, dan Kadek Anggie Noviari Dewi, Gringsing Ethnoscience: Structural Homology and Bali Aga Identity in Tenganan Pegringsingan, Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts, 8(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Harga yang naik membawa akibat ke dalam desa. Menurut para penulis, nilai ekonomi itu memberi alasan kuat bagi anak muda untuk belajar menenun. Pasar dipakai untuk menjawab krisis penerus perajin.

Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu

Yang Belum Terjawab

Para penulis mengakui batas kajiannya. Temuan ini khas Tenganan dan tidak bisa digeneralisasi. Kajian juga hanya membahas motif wayang, sehingga motif sakral lain seperti Lubeng dan Cecempakan belum dianalisis.

Ada batas yang lebih mendasar. Homologi struktural adalah rumusan peneliti, dan para penulis sendiri meminta riset lanjutan membuktikan bahwa warga memang memahami logika kemurnian itu dengan cara serupa. Dampak uangnya pun belum dihitung: pengaruh Indikasi Geografis terhadap pendapatan perajin tidak diukur dengan angka. Klaim soal minat anak muda karena itu masih berupa tafsir.

Pembaca juga bisa memeriksa beberapa hal dalam naskah. Lama pembuatan ditulis sampai lima tahun di pendahuluan, dua sampai sepuluh tahun di bagian hasil, dan sampai sepuluh tahun di simpulan. Nama alat tulang kerbau ditulis pengekekan di satu tempat dan pengekeke di tempat lain. Tabel motif mencantumkan anjing sebagai unsur Putri Dedari, padahal uraiannya hanya menyebut candi dan bintang, sedangkan kain disebut menolak bahan asing di satu bagian dan bahan sintetis di bagian lain.

Selembar gringsing wayang memuat cara mencelup, cara berhitung, cara berupacara, dan cara menjaga batas desa. Semua itu kini bergantung pada belasan penenun yang bekerja pelan.

Bagikan

Baca Juga

Pukulan Gong Suku Abui Mengabarkan Tamu dan Jumlah Hewannya
Dari Janur sampai Batok, Kelapa Menopang Ritual Adat Bonokeling
Mati Tak Wajar di Ngada, Jenazah Diurus Adat Bukan Ritus Gereja
Kebun Sagu Orang Kamoro di Mimika Tumbuh Tanpa Ada yang Merawat
Bedekeh, Cara Suku Akit di Pulau Rupat Memanggil Roh Penyembuh
Pantangan Bertani Suku Serawai Bengkulu Masih Ditakuti Peladang