Kemenpora: Baru 11,6 Persen Difabel Aktif Berolahraga

Peserta dan panitia kegiatan olahraga penyandang disabilitas berfoto bersama di dalam ruang pertemuan.

Peserta dan panitia kegiatan olahraga penyandang disabilitas berfoto bersama di dalam ruang pertemuan. [Foto: Kemenpora]

Cekricek.id — Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia mencatat partisipasi penyandang disabilitas dalam kegiatan olahraga masih jauh tertinggal. Dari sekitar 22,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia, baru 11,6 persen di antaranya yang aktif berolahraga. Angka itu mengemuka dalam pelatihan Training of Trainers Penggerak Olahraga Disabilitas “Berdaya” di Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (23/08/2026), menurut keterangan tertulis Kementerian Pemuda dan Olahraga, Senin (24/08/2026).

Program pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya Kemenpora membangun ekosistem olahraga yang inklusif, yakni ekosistem yang memberi ruang setara bagi penyandang disabilitas untuk berlatih dan berkompetisi. Peserta yang dilibatkan adalah para penggerak olahraga di daerah yang disiapkan menjadi ujung tombak pembinaan di lingkungan masing-masing.

Baru 11,6 Persen yang Aktif Berolahraga

Pelaksana Tugas Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Pembudayaan Olahraga Kemenpora RI, Rika Aninggar Fitriasari, memaparkan data Badan Pusat Statistik yang menyebut jumlah penyandang disabilitas berada pada kisaran 8,5 hingga 9 persen dari total populasi Indonesia. Namun, dari sekitar 22,9 juta orang tersebut, hanya 11,6 persen yang tercatat aktif melakukan aktivitas olahraga.

Menurut Rika, angka partisipasi itu bukan sekadar indikator kesehatan masyarakat, melainkan juga fondasi pembinaan prestasi. Semakin luas basis penyandang disabilitas yang rutin berolahraga, semakin besar pula peluang menemukan bibit atlet yang bisa dibina sampai level nasional maupun internasional.

Baca juga Persik Kediri Tumbangkan Bhayangkara Presisi 2-1 di Uji Coba

“Partisipasi yang tinggi ini menjadi kunci atau fondasi untuk menemukan potensi-potensi menjadi calon-calon atlet disabilitas yang berprestasi,” kata Rika.

Ia menegaskan program tersebut merupakan bentuk komitmen konkret terhadap Asta Cita keempat, yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sehat, unggul, dan berdaya saing sebagai prioritas, termasuk bagi kelompok penyandang disabilitas.

Tujuh Nilai Penggerak Berdaya

Nama program “Berdaya” disusun dari sejumlah nilai yang ingin ditanamkan kepada peserta, mulai dari berintegritas, empati, responsif, dedikasi, adaptif, keyakinan, hingga kemampuan menjadi penggerak perubahan yang inklusif. Setiap nilai diterjemahkan menjadi sikap kerja yang diharapkan melekat pada penggerak olahraga di lapangan.

Baca juga Indonesia-Jerman Perkuat Investasi EBT dan Jaringan Listrik

“Berdaya ini maksudnya berintegritas, yakni peserta diharapkan dapat menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesionalisme, dan tanggung jawab yang besar,” ujar Rika.

Pada nilai berikutnya, ia menekankan pentingnya kecepatan membaca kebutuhan di lapangan. “Responsif berarti cepat tanggap terhadap berbagai tantangan dan kebutuhan dalam mengembangkan olahraga disabilitas,” tutur Rika.

Baca juga Badai Tropis Moke Ancam Hawaii Sepekan Setelah Lala

Deretan nilai itu dianggap penting karena penggerak olahraga disabilitas di daerah kerap berhadapan dengan persoalan yang tidak seragam. Tantangannya bisa berupa keterbatasan sarana latihan yang ramah disabilitas, minimnya pendamping yang terlatih, hingga pandangan yang masih memandang sebelah mata penyandang disabilitas yang ingin berolahraga.

Rekrutmen Masih Ketuk Pintu ke Pintu

Ketua National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Kediri, Nanda Mei Sholihah, menyatakan minat terhadap olahraga disabilitas di daerahnya terus tumbuh. Ia menilai antusiasme peserta pelatihan menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan pembinaan atlet.

“Olahraga disabilitas sangat berkembang pesat. Terima kasih atas antusias yang luar biasa untuk mengembangkan olahraga disabilitas khususnya yang ada di Kota Kediri,” sebut Nanda.

Meski begitu, Nanda mengakui akses informasi masih menjadi hambatan utama, terutama bagi penyandang disabilitas yang tinggal di wilayah terpencil. Banyak calon atlet berpotensi tidak pernah mengetahui adanya program pembinaan karena informasi tidak sampai ke lingkungan tempat mereka tinggal.

Karena itu, proses perekrutan di lapangan sampai kini masih mengandalkan cara paling konvensional, yakni mendatangi calon atlet dari satu rumah ke rumah lain. Metode tersebut menyita waktu dan tenaga, tetapi dinilai paling efektif untuk menjangkau mereka yang tidak terhubung dengan jaringan informasi resmi.

Pelatihan di Kota Kediri diharapkan memperpendek jarak itu dengan menambah jumlah penggerak yang memahami kebutuhan spesifik penyandang disabilitas. Peserta disiapkan bukan hanya sebagai pendamping latihan, melainkan juga sebagai simpul informasi yang menghubungkan komunitas disabilitas dengan program pemerintah serta organisasi keolahragaan di daerah masing-masing.

Baca Juga

Petugas BMKG mengoperasikan peralatan survei seismik di halaman sebuah bangunan terdampak gempa.
BMKG Survei Lapangan Pascagempa M7,7 Flores di NTT
Pembicara menyampaikan paparan kerja sama energi Indonesia-Jerman di hadapan peserta forum di Jakarta.
Indonesia-Jerman Perkuat Investasi EBT dan Jaringan Listrik
Rumput laut dijemur di atas para-para di tepi pantai.
Rumput Laut RI Bebas Tarif Tambahan Section 301 di AS
Peserta pelatihan kader tangguh bencana Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga berfoto bersama di Manokwari, Papua Barat.
UNAIR Siapkan Kader Tangguh Bencana di Manokwari
Pembukaan Program Studi Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro bersama PT Pertamina di Semarang.
UNDIP Buka Profesi Insinyur untuk 300 Perwira Pertamina
Tim riset gabungan Hydromodelling dan Arkana ITS berfoto dengan desain kapal berbahan bakar hidrogen rancangan mereka.
Tim ITS Juara 2 Desain Kapal Hidrogen di Kompetisi SNAME