- Sebagian besar ibu, 83,0 persen, adalah ibu rumah tangga, dan 88,3 persen memasak di rumah setiap hari.
- Hasilnya, hanya 28,6 persen anak yang kepatuhannya tergolong baik.
- Untuk kalsium, angkanya 65,7 persen berbanding 34,5 persen.
- Titik terlemah ada pada membaca label pangan, sekitar 73 persen dari skor maksimalnya.
Daftar Isi
Tuğba Küçükkasap ingin tahu apakah keterampilan seorang ibu di dapur ikut terbawa ke piring anaknya. Dari Department of Nutrition and Dietetics, Gülhane Health Sciences Faculty, University of Health Sciences Turkey, ia menggagas penelitian yang mempertemukan 388 ibu dengan anak mereka yang berusia 7 sampai 11 tahun di tiga sekolah dasar di Ankara, ibu kota Turki. Pertanyaannya sederhana: apakah ibu yang lebih terampil memasak punya anak yang pola makannya lebih dekat ke diet Mediterania?
Küçükkasap menuliskan hasilnya bersama Merve Sena Topkaya, Dilara Berşan Konyalıgil, Berna Betül Cihan, Kübra Siyasal, Ferda Koç, dan Nevra Koç dalam Does the mother’s cooking skills influence the school-aged child’s adherence to the Mediterranean diet in Turkiye? a cross-sectional study, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Artikel itu masih berstatus artikel dalam cetak, sehingga belum bervolume dan bernomor.
Topkaya, Cihan, Siyasal, dan Ferda Koç bernaung di Gülhane Health Sciences Institute, Nevra Koç sefakultas dengan Küçükkasap, sedangkan Konyalıgil tercatat di Atılım University. Ketujuh peneliti itu sama-sama bernaung di departemen gizi dan dietetika di Ankara, dan tidak menerima dana dari pihak mana pun untuk penelitian ini.
Diet Mediterania yang dijadikan patokan Küçükkasap adalah pola makan yang banyak memuat buah, sayur, polong-polongan, biji-bijian utuh, kacang, dan minyak zaitun, dengan ikan dan produk susu dalam jumlah sedang, serta sedikit daging merah, produk bergula, dan pangan ultra-olahan. Menurut Küçükkasap dan rekan-rekannya, kepatuhan anak dan remaja di Turki terhadap pola makan ini masih belum optimal dan cenderung turun seiring bertambahnya usia.
Küçükkasap menakar dapur para ibu
Hal pertama yang diukur tim Küçükkasap adalah ibu-ibunya. Skor keterampilan memasak mereka rata-rata 197,65 dari nilai maksimum 231, angka yang oleh para penulis digolongkan tinggi. Sebagian besar ibu, 83,0 persen, adalah ibu rumah tangga, dan 88,3 persen memasak di rumah setiap hari. Küçükkasap dan rekan-rekannya menjelaskan skor tinggi itu dengan besarnya porsi ibu rumah tangga dalam sampel.
Keterampilan itu dipecah Küçükkasap ke dalam enam bagian, yaitu metode memasak, persiapan makanan, perencanaan dan penyiapan makan, belanja, penganggaran, serta membaca label. Penganggaran menjadi bagian terkuat, sekitar 91 persen dari skor maksimalnya. Para penulis mengaitkannya dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen di Turki sesudah pandemi Covid-19, terutama harga pangan hewani, dan menafsirkan kemahiran ibu berhitung belanja sebagai akibatnya.
Titik terlemah ada pada membaca label pangan, sekitar 73 persen dari skor maksimalnya. Menurut Küçükkasap, temuan itu sejalan dengan studi terdahulu di Turki yang mendapati perempuan usia 19 sampai 44 tahun umumnya membaca label tetapi tidak memahami isinya. “Di negara kami, langkah-langkah yang diperlukan harus diambil agar label pangan lebih mudah dipahami dan untuk menjamin keamanan konsumen,” tulis Küçükkasap dan rekan-rekannya dalam kalimat yang aslinya berbahasa Inggris.
Küçükkasap juga menanyakan kapan dan dari mana para ibu belajar memasak. Separuh lebih, 50,8 persen, mulai belajar pada masa remaja, 22,9 persen sejak kanak-kanak, dan 26,3 persen baru pada usia dewasa. Gurunya kebanyakan ibu mereka sendiri, disusul internet atau media sosial sebanyak 21,2 persen dan nenek sebanyak 7,0 persen.
Para penulis membaca angka itu sebagai tanda pewarisan. “Dalam penelitian ini, sebagian besar ibu (71,8%) belajar memasak dari ibu mereka sendiri dan terjadi pewarisan antargenerasi,” tulis Küçükkasap dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris. Mereka juga mencatat, menurut survei penggunaan waktu lembaga statistik Turki, TurkStat, perempuan di sana mencurahkan waktu hampir lima kali lebih banyak daripada laki-laki untuk kerja domestik tak berbayar.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Topkaya dan rekan menengok piring anak
Merve Sena Topkaya, Berna Betül Cihan, Dilara Berşan Konyalıgil, Ferda Koç, dan Kübra Siyasal turun mengumpulkan data dari para ibu dan anak. Anak-anak yang mereka temui 64,8 persen perempuan, dan 52,0 persen berat badannya tergolong normal. Namun 26,5 persen anak tergolong gemuk dan 13,2 persen obesitas, sementara 8,3 persen kurus dan hanya 1,3 persen yang tergolong pendek.
Para ibu juga tercatat dalam data Topkaya dan rekan-rekannya. Hanya 43,0 persen ibu yang indeks massa tubuhnya, atau BMI, tergolong normal, sementara 36,6 persen tergolong gemuk dan 18,4 persen obesitas. Dari sisi pendidikan, 40,8 persen ibu tamat sekolah menengah atas, 25,1 persen sekolah menengah pertama, 20,9 persen sekolah dasar, dan 13,1 persen sarjana.
Pola makan anak dinilai tim Küçükkasap dengan indeks KIDMED, skala yang makin tinggi nilainya makin dekat ke diet Mediterania. Hasilnya, hanya 28,6 persen anak yang kepatuhannya tergolong baik. Sebagian besar, 56,9 persen, berada di tingkat sedang, dan 14,5 persen tergolong buruk, dengan skor rata-rata 6,10 pada skala yang tertinggi bernilai 12.
Topkaya dan rekan-rekannya juga mencatat hal yang berlaku untuk hampir semua anak, apa pun tingkat kepatuhannya. Asupan energi seluruh 388 anak mencapai atau melampaui kebutuhan hariannya menurut pedoman gizi Turki, TÜBER 2022, begitu pula vitamin A. Sebaliknya, asupan folat semua anak berada di bawah separuh kebutuhan, dan vitamin B6 juga di bawah separuh pada semua anak yang tercatat.
Cihan dan tim membaca isi piring
Ketika anak-anak dikelompokkan menurut kepatuhannya, tim yang melibatkan Berna Betül Cihan melihat beda yang jelas. Asupan vitamin C yang cukup, yakni 50 sampai 100 persen kebutuhan, ditemukan pada 82,4 persen anak berkepatuhan baik, dibanding 54,5 persen anak berkepatuhan buruk. Untuk kalsium, angkanya 65,7 persen berbanding 34,5 persen.
Pola serupa, menurut Cihan dan rekan-rekannya, muncul pada magnesium dan zat besi. Kecukupan magnesium ditemukan pada 74,5 persen anak berkepatuhan baik dan 45,5 persen anak berkepatuhan buruk, sedangkan zat besi 49,0 persen berbanding 27,3 persen. Satu zat lagi yang ditulis sebagai K lebih sering cukup pada anak berkepatuhan baik, 71,6 persen, dibanding anak berkepatuhan sedang, 48,3 persen.
Tidak semua zat gizi ikut bergerak. Kübra Siyasal dan rekan-rekannya tidak menemukan beda bermakna antarkelompok kepatuhan untuk protein, lemak, karbohidrat, dan serat. Dalam data Siyasal dan kawan-kawan, beda yang tajam antara anak yang patuh dan yang tidak justru tampak pada zat gizi mikro seperti vitamin C, kalsium, magnesium, dan zat besi.
Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama
Siyasal dan Koç menautkan dapur dengan tubuh anak
Langkah berikutnya menghubungkan skor keterampilan masak ibu dengan keadaan anaknya. Menurut Küçükkasap, Siyasal, dan rekan-rekannya, makin tinggi skor keterampilan masak ibu, makin tinggi pula skor KIDMED anaknya. Pada saat yang sama, skor ibu yang lebih tinggi berkaitan dengan asupan energi harian anak yang lebih rendah dan BMI anak yang lebih rendah.
Kalsium ikut naik seiring skor ibu, dan dalam pembahasannya Ferda Koç bersama rekan-rekannya juga menyebut fosfor berkaitan positif dengan keterampilan masak ibu. Sebaliknya, protein, lemak, karbohidrat, serat, vitamin A, vitamin E, serta vitamin B1, B2, dan B6 tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan skor keterampilan masak ibu.
Küçükkasap dan rekan-rekannya merangkum temuan itu dalam satu kalimat. “Keterampilan memasak ibu yang lebih tinggi berkaitan dengan kepatuhan yang lebih besar terhadap diet Mediterania, nilai BMI yang lebih rendah, dan kecukupan gizi yang lebih baik pada anak-anak,” tulis mereka dalam abstrak yang aslinya berbahasa Inggris. Sepengetahuan mereka, inilah penelitian pertama di Turki yang mengukur keterampilan masak ibu sekaligus kepatuhan anak terhadap diet Mediterania.
Nevra Koç dan rekan-rekannya menawarkan dugaan tentang cara kerjanya. Ibu yang lebih terampil mungkin lebih sering menyiapkan masakan rumah dari bahan segar dan minim olahan, seperti buah, sayur, polong-polongan, dan biji-bijian utuh, yang menjadi inti diet Mediterania. Orang tua juga disebut berperan sebagai teladan yang ikut membentuk kesukaan makan anak.
Dari situ, Küçükkasap melihat kegunaan praktis. Para penulis menilai hasilnya berguna untuk merancang program pelatihan dan kelas memasak bagi ibu, mengingat makin kuatnya kecenderungan anak usia sekolah mengonsumsi camilan padat energi, disertai kekurangan zat gizi dan obesitas. Mereka juga mengusulkan studi intervensi untuk menguji apakah pelatihan memasak bagi ibu benar-benar mengubah pola makan anak.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Nevra Koç dan tim menandai batas naskah
Küçükkasap dan rekan-rekannya mengakui sejumlah batas. Karena rancangannya potong lintang, hubungan sebab-akibat antara keterampilan masak ibu dan pola makan anak tidak bisa ditetapkan, dan datanya bersandar pada laporan peserta sendiri. “Keterbatasan lain adalah pola makan anak di luar rumah tidak dinilai; keberadaan kantin sekolah dan kebiasaan di kantin tidak ditanyakan,” tulis mereka dalam kalimat yang aslinya berbahasa Inggris.
Nevra Koç dan rekan-rekannya juga mencatat bahwa sebagian besar ibu dalam sampel adalah ibu rumah tangga yang memasak setiap hari, sehingga menggabungkan ibu bekerja dan ibu rumah tangga bisa mengubah hasilnya. Mereka menyebut studi jangka panjang masih dibutuhkan untuk memastikan arah hubungan antara keterampilan masak ibu dan kepatuhan anak terhadap diet Mediterania.
Pembaca yang teliti bisa memeriksa beberapa hal di naskah Küçükkasap. Abstraknya menyebut kecukupan vitamin K, padahal baris tabelnya hanya tertulis K dengan satuan miligram dan terletak di antara natrium, kalsium, dan mineral lain, sehingga bisa jadi yang dimaksud kalium. Pembahasan juga menyebut skor ibu sekitar 80 persen dari skala, padahal 197,65 dari 231 setara sekitar 85,6 persen.
Selisih lain ada pada kalsium dan fosfor. Abstrak Küçükkasap mengaitkan keduanya dengan skor KIDMED anak, sedangkan tabel regresi dan pembahasan mengaitkannya dengan skor keterampilan masak ibu. Jumlah anak pada baris vitamin B6 hanya 358, bukan 388, dan kriteria usia anak tertulis 6 sampai 12 tahun, sementara sampelnya dilaporkan berusia 7 sampai 11 tahun.
Ada pula soal cara membaca kata cukup. Dalam tabel Küçükkasap, cukup berarti 50 sampai 100 persen kebutuhan, sedangkan 100 persen ke atas digolongkan berlebih. Pada kategori berlebih itu, anak berkepatuhan buruk justru lebih banyak, misalnya vitamin C 43,6 persen berbanding 15,7 persen dan magnesium 50,9 persen berbanding 23,5 persen, dan naskah tidak membahasnya.
Tuğba Küçükkasap memulai dari dapur ibu-ibu di Ankara dan berakhir di piring anak-anak mereka. Yang ia temukan adalah dapur yang dikelola ibu-ibu terampil, kebanyakan memasak setiap hari dengan ilmu warisan ibu mereka sendiri, dan anak-anak yang makin dekat ke pola Mediterania seiring makin terampilnya sang ibu. Label pangan tetap menjadi bagian dapur yang paling sulit mereka baca.














