Rumah Adat Gamav Aha di Merauke Hidup Lagi lewat Ritual Katolik

A A

Ilustrasi pondok beratap daun sagu berhias janur kuning dengan salib kayu di tepi jalan kampung [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Setiap Kombas membangun satu Gamav Aha, dan jumlah rumah tangga di dalamnya diputuskan bersama dengan melibatkan pastor paroki, berdasarkan keaktifan komunitas.
  • Semua Gamav Aha secara konsisten menghadap jalan utama kampung, yang menjadi jalur prosesi.
  • Sebagian Gamav Aha mulai memakai tripleks, seng, dan paku besi di samping kayu, bambu, rotan, serta pelepah dan daun sagu.
  • Pengumpulan data di lapangan hanya berlangsung satu minggu, sehingga rangkaian ritual yang berjalan sebulan penuh tidak terekam seluruhnya.
Daftar Isi
  1. Rumah yang tersingkir oleh bangunan permanen
  2. Gagasan yang berangkat dari gereja
  3. Satu rumah untuk sepuluh sampai dua belas keluarga
  4. Perapian dan ruang tidur berganti altar
  5. Tripleks, seng, dan pintu papan
  6. Polisi adat di belakang setiap simbol
  7. Seminggu dari ritual sebulan dan beberapa catatan

Rumah adat lazimnya lenyap dengan urutan yang serupa di banyak tempat: bangunan permanen datang, hunian lama ditinggalkan, lalu bentuknya hanya tersisa sebagai cerita. Di kawasan Sinai, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, urutan itu berbalik arah. Gamav Aha, rumah tradisional orang Malind Anim yang nyaris hilang dari kampung, kini didirikan lagi dalam ritual tahunan, bukan untuk ditinggali keluarga, melainkan untuk disinggahi Sakramen Mahakudus dalam perarakan umat Katolik.

Kebalikan itu dicatat Henry Soleman Raubaba, Suzanna Ratih Sari, Wijayanti, dan Agung Budi Sardjono dari Universitas Diponegoro Semarang dalam artikel Revitalisasi Rumah Tradisional Gamav Aha: Adaptasi Desain dan Sakralitas dalam Konteks Ritual Katolik di Kawasan Sinai, Papua Selatan, yang terbit di Nature: National Academic Journal of Architecture volume 12 nomor 1 tahun 2025. Mereka menyimpulkan bahwa rumah itu dihidupkan kembali lewat penyesuaian denah, struktur, bahan, dan arah hadap, dan bahwa peralihannya dari hunian menjadi ruang sakral sementara memperkuat identitas komunitas.

Nama Sinai sendiri bukan nama yang datang dari luar. Menurut naskah, ia akronim dari dua dusun, Sirapu dan Anasai, yang menjadi gerbang bagi tiga kampung inti, yaitu Urumb, Waninggap Nanggo, dan Matara, di Distrik Semangga, di antara Kali Kumbe dan Kali Maro. Di tiga kampung itulah para penulis mengikuti puncak Ritual Perarakan Sakramen Mahakudus pada Juli 2024 dan mewawancarai 15 orang, dari pastor paroki, ketua adat, polisi adat, kepala kampung, sampai warga berusia 20 hingga 65 tahun.

Rumah yang tersingkir oleh bangunan permanen

Yang membuat Gamav Aha menghilang, menurut para penulis, adalah modernisasi dan pembangunan negara yang mengubah wajah permukiman. Hunian tradisional tergeser oleh konstruksi permanen, sedangkan nilai lokal yang tersimpan dalam struktur, tata ruang, dan simbol bangunannya kian terpinggirkan. Akibatnya bukan hanya wujud fisik rumah yang menyusut, melainkan juga makna sosialnya, sehingga naskah menyebut hilangnya Gamav Aha sebagai persoalan warisan arsitektur sekaligus identitas budaya Papua Selatan.

Padahal rumah itu dahulu memikul banyak pekerjaan sekaligus. Ia tempat tinggal, tempat orang membuat alat musik tifa yang disebut kandara, busur, panah, tombak, dan kahanggat atau batang bambu yang diruncingkan, serta arena upacara adat yang sangat sakral. Tata ruangnya sederhana: ruang tidur atau nusai berjajar di sepanjang dinding, sedangkan perapian atau hwi berada di bagian tengah. Para penulis membaca susunan itu sebagai pembagian antara urusan rumah tangga dan urusan rohani di bawah satu atap.

Latar keyakinan di balik rumah tersebut juga disinggung naskah. Budaya dan susunan sosial Malind Anim, tulis para penulis, sangat dipengaruhi filosofi Anim Ha atau Manusia Sejati, sistem totem, serta hubungan antara manusia, alam, dan yang transenden. Karena itu Gamav Aha tidak mereka perlakukan sebagai benda mati. Ia dipandang sebagai ruang bersama tempat makna dibuat dan identitas komunitas dinyatakan, sehingga kehilangannya berarti lebih dari sekadar berkurangnya satu jenis bangunan.

Gagasan yang berangkat dari gereja

Jalan kembalinya rumah itu justru dimulai dari gereja. Naskah menyebut Pastor Gembala Paroki, Pastor Andreas Fanumbi Pr., sebagai penggagas utama: ia mengamati hilangnya budaya hunian tradisional, lalu menggerakkan komunitas untuk menghadirkan kembali Gamav Aha dalam ritual tahunan. Gagasan itu mula-mula disosialisasikan di gereja, kemudian dibawa ke rapat bersama tokoh agama, tokoh adat, kepala kampung, dan warga, yang membicarakan cara membangun rumah sekaligus simbol apa yang boleh dipasang padanya.

Pertemuan gereja dan adat di wilayah ini memang punya riwayat panjang. Para penulis mencatat kedatangan empat misionaris MSC dari Langgur, Kei Kecil, ke Merauke pada 14 Agustus 1905, yakni Pater H. Nollen, Pater P. Braun, Bruder D. Van Roesel, dan Bruder Oomen. Mereka mempelajari bahasa dan adat Malind, membangun kepercayaan, lalu mendirikan Stasi Wendu pada 1909, yang kini menjadi pusat paroki. Dari perjumpaan itulah, menurut naskah, lahir praktik yang memadukan struktur adat dengan liturgi Katolik.

Pekerjaan membangunnya dibagi kepada semua orang. Warga mencari bahan, merakit struktur, dan memasang hiasan, dengan peran generasi muda yang disebut sangat menonjol, baik dalam kerja fisik maupun dalam menerima pengetahuan dari yang lebih tua. Para tokoh adat dan orang tua mengambil bagian yang lain: mereka menjaga nilai, menjadi tempat bertanya soal simbol, dan menengahi bila muncul perbedaan pandangan tentang simbol atau tata ruang. Setiap tahap, tulis para penulis, disepakati bersama.

Ukuran sebuah Gamav AhaLuas 4 sampai 24 meter persegi, tinggi 2 sampai 3 meter, dibangun 10 sampai 12 keluarga, disinggahi sakramen satu hingga dua malam.Ukuran sebuah Gamav AhaRumah adat Malind Anim yang dibangun kembali di kawasan Sinai4-24Meter persegiluas denah2-3Metertinggi rata-rata10-12Keluargatiap komunitasbasis1-2Malamsakramen singgahJalan risetnyaTiga kampung15 informanRumah hidup lagiDenah terkecil 2x2 meter, terbesar 4x6 meter. Satu komunitas basismembangun satu rumah.
Sumber: Henry Soleman Raubaba, Suzanna Ratih Sari, Wijayanti, dan Agung Budi Sardjono, Revitalisasi Rumah Tradisional Gamav Aha: Adaptasi Desain dan Sakralitas dalam Konteks Ritual Katolik di Kawasan Sinai, Papua Selatan, Nature: National Academic Journal of Architecture, 12(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Satu rumah untuk sepuluh sampai dua belas keluarga

Cara kerjanya bertumpu pada Komunitas Basis, atau Kombas, yang masing-masing terdiri atas 10 sampai 12 rumah tangga. Setiap Kombas membangun satu Gamav Aha, dan jumlah rumah tangga di dalamnya diputuskan bersama dengan melibatkan pastor paroki, berdasarkan keaktifan komunitas. Ukuran rumah mengikuti besar kecilnya kelompok itu. Denahnya kotak atau persegi panjang, dari yang paling kecil seluas 4 meter persegi sampai yang terbesar 24 meter persegi, dengan tinggi rata-rata dua sampai tiga meter dari tanah.

Rangkanya masih mengikuti cara lama. Tiang utama dibuat dari kayu bulat yang bercabang di ujung atasnya, disebut kamb, yang diruncingkan di bagian bawah lalu ditancapkan ke tanah, dengan bagian tengah bangunan dibuat lebih tinggi daripada tepinya. Di atasnya dipasang pal, ndandin, dan kagahib atau bubungan untuk menopang kasau, semuanya diikat dengan tali rotan. Dindingnya dari kayu, bambu, atau pelepah sagu, sedangkan atap pelananya dibuat curam agar air hujan cepat turun.

Arah hadapnya menjelaskan untuk apa rumah itu didirikan. Semua Gamav Aha secara konsisten menghadap jalan utama kampung, yang menjadi jalur prosesi. Perarakan Sakramen Mahakudus berlangsung sebulan penuh setiap Juli, dan sakramen itu singgah satu hingga dua malam di tiap rumah. Dengan begitu, sebuah bangunan yang dahulu berdiri untuk dihuni kini berdiri untuk dilewati dan disinggahi, dan letaknya ditentukan oleh rute orang berjalan, bukan oleh kebutuhan satu keluarga.

Perapian dan ruang tidur berganti altar

Di bagian dalam, perubahan itu paling mudah dilihat. Ruang tidur dan perapian tidak lagi menjadi inti rumah. Tata ruangnya kini terbagi dua: area altar di dinding belakang, tempat Sakramen Mahakudus ditakhtakan di atas meja kecil berkain putih, dan ruang sirkulasi di dekat pintu masuk agar umat leluasa bergerak selama prosesi. Para penulis menyebut pergeseran ini sebagai perubahan ruang rumah tangga yang profan menjadi ruang sakral yang sifatnya sementara.

Simbolnya pun datang dari dua arah. Setiap Gamav Aha diberi janur kuning, yang dalam bahasa setempat disebut mengga, di pintu masuk atau pada tiang, sebagai tanda kesucian dan kesiapan menerima sakramen. Salib dipasang di bagian depan, sementara pada muka bangunan dituliskan nama komunitas atau dipasang gambar religi. Tiang kamb tambahan dipakai untuk menggantung hasil bumi. Menurut naskah, gabungan itu bukan pemindahan makna dari satu tradisi ke tradisi lain, melainkan hasil kompromi bersama.

Dari hunian ke persinggahanPerbandingan fungsi asli Gamav Aha sebagai hunian dengan fungsinya kini sebagai persinggahan Sakramen Mahakudus.Dari hunian ke persinggahanTata ruang Gamav Aha sebelum dan sesudah dihidupkan kembaliFungsi asliKiniTempat tinggalSinggah sakramenGunaTidur (nusai)Area altarRuangPerapian (hwi)Sirkulasi umatRuangBahan lokalPlus seng, tripleksBahanDulu: nusai di sepanjang dinding, hwi di tengah. Kini: altar di dindingbelakang.
Sumber: Henry Soleman Raubaba, Suzanna Ratih Sari, Wijayanti, dan Agung Budi Sardjono, Revitalisasi Rumah Tradisional Gamav Aha: Adaptasi Desain dan Sakralitas dalam Konteks Ritual Katolik di Kawasan Sinai, Papua Selatan, Nature: National Academic Journal of Architecture, 12(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu

Tripleks, seng, dan pintu papan

Rumah yang dibangun kembali itu tidak sepenuhnya sama dengan yang hilang. Sebagian Gamav Aha mulai memakai tripleks, seng, dan paku besi di samping kayu, bambu, rotan, serta pelepah dan daun sagu. Para penulis membacanya sebagai jawaban atas terbatasnya bahan alami dan atas tuntutan keamanan serta kepraktisan. Prinsip dasarnya, tulis mereka, tetap dipegang, yakni bahan lokal, teknik membangun tradisional, ventilasi alami, dan tata ruang yang lentur.

Pintu memberi contoh yang paling sehari-hari. Sebagian besar Gamav Aha tidak berpintu permanen, tetapi beberapa komunitas menambahkan pintu dari papan kayu, terutama untuk menjaga bagian dalam dari hewan peliharaan. “Inovasi semacam ini menunjukkan proses revitalisasi bukan sekadar replikasi bentuk lama, melainkan penciptaan ruang yang relevan dengan kebutuhan kontemporer dan praktik sakral,” tulis Henry Soleman Raubaba dan tiga rekannya dalam naskah itu.

Polisi adat di belakang setiap simbol

Persoalannya, memasang benda adat di dalam ritual gereja tidak bisa diputuskan satu pihak. Naskah mencatat bahwa pemakaian atribut budaya dalam setiap kegiatan ritual Katolik harus mendapat persetujuan para ketua adat dan tokoh adat, serta dikawal polisi adat yang bertugas menjaga norma dan tata nilai komunitas. Setiap perubahan desain didiskusikan bersama oleh tokoh adat, tokoh agama, dan warga. Hasilnya tidak seragam, sebab hiasan dan simbol berbeda-beda dari satu Gamav Aha ke Gamav Aha lain.

Dukungan warga juga tidak bulat. Mayoritas masyarakat, menurut para penulis, mendukung pembangunan kembali rumah itu dan ritual tahunannya, tetapi sebagian kecil memilih tidak ikut karena alasan pribadi, tidak cocok dengan gagasannya, atau enggan melihat bentuk dan fungsi ruang adat berubah. Sebagian masih memandang Gamav Aha hanya sebagai simbol masa lalu, sedangkan generasi muda lebih bersemangat. “Namun, proses negosiasi ini tidak selalu mulus,” tulis keempat penulis.

Yang membuatnya rumit, perbedaan itu muncul pula di antara sesama kelompok pembangun. Para penulis mengakui bahwa tidak semua pembaruan dapat diterapkan merata di semua Kombas, karena bahan, waktu, dan akses pada teknologi konstruksi terbatas. Variasi desain yang lahir dari keadaan itu kadang menimbulkan perbedaan pandangan antarkomunitas. Naskah tidak merinci perbedaan apa saja yang dimaksud, hanya menyebut bahwa hal itu menuntut pelibatan yang lebih luas pada setiap putaran berikutnya.

Baca juga Limah Menanam Padi, Rumah Betang Ensaid Panjang Bertahan

Seminggu dari ritual sebulan dan beberapa catatan

Batas pengamatan para penulis mereka nyatakan sendiri. Pengumpulan data di lapangan hanya berlangsung satu minggu, sehingga rangkaian ritual yang berjalan sebulan penuh tidak terekam seluruhnya. Jalan berlubang dan jembatan kayu yang tidak layak menyulitkan perjalanan, sebagian warga enggan atau malu berbicara dengan peneliti dari luar, dan bahasa Malind kadang memerlukan penerjemah setempat. Akibatnya, tulis mereka, suara warga yang keberatan dan ragam pandangan masyarakat belum tergali menyeluruh.

Beberapa hal kecil dalam naskah dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Kerja lapangan disebut berlangsung pada Juli 2024, tetapi foto rumah diberi keterangan dokumentasi penulis tahun 2025. Satu karya rujukan, tulisan Pramestisari dan kawan-kawan, bertahun 2020 di badan naskah dan 2023 di daftar pustaka. Pernyataan bahwa mayoritas masyarakat mendukung juga tidak disertai angka, sehingga besarnya dukungan dan besarnya kelompok yang menolak tidak dapat ditakar dari naskah ini.

Jadi mengapa rumah yang sudah tersingkir bisa berdiri lagi? Jawaban naskah ini sederhana: karena ia diberi pekerjaan baru. Gamav Aha tidak kembali sebagai tempat tidur dan perapian, melainkan sebagai persinggahan satu hingga dua malam di tepi jalur prosesi, dengan janur kuning di tiangnya dan altar di dinding belakangnya. Yang kembali ke kampung-kampung Sinai adalah tiang bercabang, ikatan rotan, dan atap curamnya, kali ini untuk menaungi seorang tamu yang hanya lewat.

Bagikan

Baca Juga

Kasepuhan Ciptagelar Memakai Wisata agar Adatnya Diakui Negara
Kalosara, Lingkaran Rotan yang Mendamaikan Sengketa Orang Tolaki
Obat Kedaluwarsa Warga Lanzhou Jarang Berakhir di Tong Sampah
Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Jam Makan Anak Mundur Saat Libur Sekolah, Lebih Sering Terlewat
Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi