Studi: 1,7 Juta Warga Australia Rentan Tertular Campak

Vial vaksin MMR untuk campak, gondongan, dan rubela

Vial vaksin MMR untuk campak, gondongan, dan rubela. [Foto: Reuters]

Cekricek.id — Sekitar 1,7 juta warga Australia diperkirakan tidak memiliki perlindungan terhadap campak, penyakit yang disebut para ahli paling mudah menular di antara seluruh penyakit yang dikenal manusia. Angka itu muncul dari analisis nasional pertama di dunia yang menggabungkan hasil uji darah dengan catatan vaksinasi, dan dipublikasikan pada Senin, 17 Agustus 2026.

Riset dikerjakan National Centre for Immunisation Research and Surveillance (NCIRS) dan terbit di Australian and New Zealand Journal of Public Health. Peneliti memadukan sampel darah yang diuji kadar antibodinya dengan data cakupan imunisasi tahun 2019. Hasilnya, kekebalan penduduk Australia terhadap campak berada pada 93,3 persen — artinya hampir 7 persen populasi berada tanpa perlindungan memadai. Dikutip dari ABC News Australia, pendekatan gabungan itu disebut sebagai perkiraan nasional paling menyeluruh yang bisa dibuat sejauh ini.

Baca juga: Maudy Ayunda Bicara soal Cara Melihat Anak di Festival Pahlawan Anak

“Yang kami khawatirkan, akan muncul lebih banyak wabah campak yang lebih sulit dikendalikan,” kata Zoë Croker, penulis utama studi tersebut dari NCIRS. “Kita akan mulai melihat lebih banyak kasus dan peluang kematian yang lebih tinggi.”

Celah Terbesar pada Kelahiran 1990-an

Studi itu memetakan kerentanan menurut kelompok umur. Selain bayi dan anak usia dini yang belum menuntaskan jadwal imunisasi, celah kekebalan paling lebar justru ditemukan pada orang dewasa usia produktif: kelompok 25–26 tahun, 31–33 tahun, dan 42–49 tahun.

Baca juga: Ussy Sulistiawaty Rindu Putrinya yang Kuliah di Luar Negeri: Si Anak Kuat

“Celah terbesar ada pada mereka yang lahir sekitar tahun 2000, juga mereka yang lahir pada 1993, 1994, dan 1995,” ujar Croker. Pola itu berakar pada perubahan kebijakan imunisasi lintas generasi. Warga yang lahir antara 1977 dan 1983 umumnya hanya menerima satu dosis vaksin, sementara sebagian orang yang lahir sejak 1966 bahkan tidak pernah divaksinasi sama sekali dan juga tidak pernah terpapar virusnya secara alami.

Campak dikenal sangat menular. Pada kelompok yang tidak terlindungi, satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada 12 hingga 15 orang lain. Karena itu ambang kekebalan kelompok yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia untuk campak berada di kisaran 93 hingga 95 persen, jauh lebih tinggi ketimbang penyakit menular lain.

Baca juga: Kasus Ebola Kongo Tembus 4.665, Africa CDC Desak Vaksinasi Segera

Ahli Epidemiologi: Angka Itu Belum Cukup

Angka 93,3 persen memang menyentuh batas bawah rekomendasi WHO, tetapi tidak memberi ruang aman. Epidemiolog Adrian Esterman dari Adelaide University menilai capaian tersebut belum memadai untuk menahan penularan.

“Itu belum cukup baik. Artinya kita berisiko mengalami wabah campak besar,” kata Esterman. Ia menambahkan bahwa situasinya sudah masuk tahap yang perlu dicemaskan. “Kita berada pada tahap ketika kita memang perlu khawatir,” ujarnya.

Para peneliti menegaskan gambaran itu berpotensi lebih buruk dari yang tercatat. Data yang dipakai berasal dari 2019, sementara cakupan imunisasi anak di Australia terus menurun lima tahun berturut-turut hingga 2025. Dengan demikian, proporsi penduduk yang rentan pada 2026 kemungkinan lebih besar daripada hasil hitungan studi.

Imbauan Periksa Catatan Vaksinasi

Peneliti mendorong warga memeriksa kembali riwayat imunisasi mereka, terutama sebelum bepergian ke luar negeri. Mereka yang tidak memiliki bukti telah menerima dua dosis vaksin campak, gondongan, dan rubela dianjurkan mengambil dosis tambahan. Frank Beard, Associate Director NCIRS, meminta warga pada kelompok usia berisiko menelusuri catatan vaksinasi campak mereka sebelum berangkat.

Dokter umum juga diminta menjadikan status kekebalan campak sebagai bagian rutin dari konsultasi prakeberangkatan. Sebagian besar kasus campak di Australia dalam beberapa tahun terakhir bermula dari penularan di luar negeri yang terbawa pulang oleh pelancong, lalu menyebar di lingkungan dengan cakupan imunisasi rendah.

Campak bukan sekadar demam dan ruam. Penyakit ini dapat memicu radang paru, radang otak, serta kondisi langka yang merusak saraf bertahun-tahun setelah infeksi. Vaksinnya sendiri telah dipakai luas selama puluhan tahun dan memberi perlindungan seumur hidup pada mayoritas penerima dua dosis.

Baca Juga

Penguin kecil berjalan di kawasan konservasi Phillip Island Australia
Australia Vaksinasi 5.000 Penguin Kecil Lawan Flu Burung
Ilustrasi sebungkus rokok yang terkena rencana kenaikan cukai Uni Eropa
Uni Eropa Siapkan Kenaikan Cukai Rokok hingga 139 Persen
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham berbicara kepada wartawan
Rusia Ancam Inggris soal Drone, Burnham Bela Ukraina
Petugas keamanan berjaga di gerbang Ateneo de Zamboanga University Filipina
Penembakan Sekolah di Zamboanga Filipina, Dua Siswa Tewas
Kendaraan lapis baja Angkatan Darat Amerika Serikat dalam latihan gabungan dengan militer Korea Selatan
Trump Pangkas Latihan Militer AS-Korsel Demi Kim Jong Un
Petugas penyelamat memeriksa reruntuhan rumah yang hancur akibat serangan Israel di Lebanon selatan
UNIFIL Catat 137 Proyektil Israel Sehari di Lebanon